Oleh: hurahura | 19 November 2016

Pesan Masa Silam dari Setiap Bagian Candi

batujaya-dewi-02Candi di kompleks Batujaya, Karawang, Jawa Barat

Di Nusantara terdapat ratusan candi besar dan candi kecil yang berasal dari abad ke-5 hingga ke-15 Masehi. Sebagian besar candi terletak di Pulau Jawa. Selebihnya terdapat di Bali, Sumatera, dan Kalimantan.

Keberadaan candi mulai mendapat perhatian pada masa penjajahan. Ketika menjadi penguasa di Hindia Belanda, Raffles banyak melakukan upaya penanganan candi, berupa penelitian, penyelamatan, dan pemugaran.

Dibentuknya Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) pada 1913, menunjukkan perhatian pemerintah Hindia Belanda terhadap candi cukup besar.  Pemugaran perdana Candi Prambanan dan Candi Borobudur menjadi bukti keseriusan itu. Pada masa pascakemerdekaan, kegiatan pemugaran tetap diteruskan oleh pemerintah Indonesia.

Disiplin yang paling berkepentingan kepada candi tentu adalah arkeologi. Karena itu kemudian arkeologi mengembangkan pengetahuan konservasi.  Konservasi diartikan merawat dan memugar candi. Jika bertahan selama mungkin, maka candi bisa dinikmati oleh masyarakat luas dalam jangka waktu panjang.

Disayangkan candi sebagai pusat kebudayaan kurang mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Ironisnya, pemerintah kemudian mengalihkannya menjadi pusat ekonomi, yakni untuk kepariwisataan.

Terbentuknya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di banyak provinsi, menyiratkan objek budaya materi banyak dimanfaatkan untuk menghasilan devisa atau PAD. Dari sinilah kelanggengan candi terancam, yang utama dari perbuatan vandalisme pengunjung candi. Hal ini tentu menjadi beban bagi instansi arkeologi, padahal anggaran yang diterima kebudayaan tidak sebesar anggaran pariwisata.

Sajian di media cetak dan media elektronik juga kurang mendukung permasalahan dalam arkeologi. Hampir semuanya menyingung masalah potensi kepariwisataan. Wisata budaya dan wisata sejarah memang telah lama dicanangkan sebagai primadona pariwisata Indonesia.

Bukti menunjukkan pengelolaan kegiatan pariwisata melalui komersialisasi candi tidak pernah menguntungkan kalangan arkeologi. Biaya penelitian arkeologi, termasuk pemugaran candi, jelas terlampau besar. Maka dari itu pengeluaran tidak akan pernah sebanding dengan pemasukan dari retribusi dan efek keuntungan pariwisata lain.

Kegiatan pariwisata bahkan tidak pernah mendatangkan nilai positif bagi candi. Contoh nyatanya jutaan dollar bantuan UNESCO dan uang rakyat dari pajak dihabiskan untuk memugar Candi Borobudur. Belum lagi dana untuk membersihkan balutan debu pada Candi Borobudur akibat letusan Gunung Merapi pada akhir 2010 lalu.   Karena komersialisasi yang belum profesional, maka banyak batu lantai dan batu undak semakin aus terkena gesekan alas kaki pengunjung.  Pada 1984 ditemui 801 blok batu yang mengalami keausan (Susantio, 1985). Menurut pengamatan tahun 2000, jumlahnya bertambah menjadi 1.383 blok batu (Sadirin, 2002). Berarti selama 16 tahun terjadi peningkatan kerusakan sebanyak 582 blok batu. Jika dirata-rata, setiap tahun terjadi keausan sebesar 36 blok batu.


Pendidikan dan Kebudayaan

Harus diakui Borobudur telah menjadi mesin penghasil uang pemerintah. Untunglah upaya membangun kereta udara, atraksi gajah, dan atraksi sinar laser urung terlaksana. Biarpun begitu, nilai kultural dan nilai sakral Borobudur tetap tenggelam. Kemegahan warisan dunia itu banyak dicoreng pedagang asongan, pedagang kaki lima, fasilitas kepariwisataan lain, kekotoran, dan kekumuhan.

Sebenarnya arkeolog R. Soekmono (alm) pernah tidak setuju dengan sebutan taman wisata. Beliau lebih cenderung kepada istilah taman purbakala. Namun rupanya faktor ekonomi lebih bergema. Selain dianggap akan membuka kesempatan kerja, juga akan lebih memopulerkan candi.  Terlebih dengan angan-angan akan menghasilkan devisa besar bagi negara.

Semrawutnya persoalan candi, juga pernah menimpa kompleks Percandian Dieng. Karena uang retribusi dari Dieng dipandang menggiurkan, maka Dieng menjadi ajang rebutan antara Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Banjarnegara. Akibatnya candi-candi yang berusia lebih dari seribu tahun itu pun terbengkalai. Bahkan situsnya “disulap” menjadi taman dan lahan pertanian. Ironisnya, sebagian besar lahan Situs Dieng yang notabene milik instansi arkeologi, disewakan ke petani kentang oleh kedua pemda.

Karena umumnya candi dikemas menjadi komoditi untuk wisatawan, maka substansi candi sebagai warisan budaya tenggelam bahkan nyaris menghilang. Bisa dipastikan hanya sedikit orang yang tahu kalau candi merupakan bangunan suci yang dibuat untuk tujuan keagamaan dan kemanusiaan. Aspek keagamaan terletak pada fungsinya sebagai rumah dewa, yakni menghubungkan manusia dengan pencipta alam semesta, sebagaimana nama aslinya Candika.

Keletakan, bentuk, arca, ornamen, dan relief candi sarat akan makna filosofis yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan atau kemanusiaan. Pelajaran toleransi beragama, umpamanya, bisa dipetik dari Candi Prambanan yang bersifat Hindu dan Candi Sewu yang bersifat Buddha. Kedua candi terletak berdekatan di kompleks yang sama. Selama berabad-abad masyarakat kuno yang berbeda agama bisa hidup damai dan berdampingan. Bahkan sekitar satu kilometer di timur laut Prambanan, terdapat Candi Plaosan yang berciri Buddha sekaligus Hindu.

Banyak nilai bisa dipelajari dari candi-candi di Indonesia.  Pesan dari masa silam selalu tertera pada setiap bagian candi. Dari teknologi bangunan, kita bisa belajar mengapa candi yang dibangun tanpa semen itu mampu bertahan hingga ratusan tahun. Bandingkan dengan gedung-gedung sekarang, meskipun dibangun dengan teknologi modern, hanya mampu bertahan selama puluhan tahun, bahkan kurang dari itu. Berbagai aspek astronomi diperkirakan tergambar dari stupa-stupa Candi Borobudur.

Sudah saatnya perhatian kepada candi jangan hanya difokuskan untuk kepariwisataan. Segi pendidikan dan kebudayaan tetap harus dinomorsatukan. Kita memang akan mendapatkan uang dari pariwisata, namun di balik itu kerugian yang kita peroleh justru jauh lebih besar.***

Penulis: Djulianto Susantio


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: