Oleh: hurahura | 11 Agustus 2017

Tirtha Empul Disebutkan Prasasti Manukaya dari Abad ke-10

Tirtha-empulTirtha Empul (Sumber: Ardika, 2016)

Tirtha Empul (tirtha = air) merupakan salah satu warisan budaya Bali Kuna yang masih bertahan hingga saat ini. Keberadaannya memberikan berkah bagi masyarakat sekitar maupun pemerintah daerah. Kunjungan wisatawan ke Tirtha Empul dapat dikatakan cukup banyak dibandingkan objek wisata lainnya di Bali. Bagi mereka yang berkunjung ke Bali, tidak afdol apabila tidak menyambangi Pura Tirtha Empul.

Bahkan beberapa waktu lalu mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, ketika berlibur di Bali tidak melewatkan kesempatannya untuk bertandang langsung ke Tirtha Empul. Penampang ekologis yang masih asri memberikan suasana damai dan tenang, tentunya menambah daya tarik tersendiri. Tirtha Empul dapat ditempuh melalui Kota Denpasar dengan melewati Desa Bedulu – Pejeng – Tampaksiring.


Lansekap Budaya

Pada 29 Juni 2012 di Pittsburg, Rusia, secara resmi UNESCO telah menetapkan Lansekap Budaya Provinsi Bali menjadi warisan dunia (world heritage). Kawasan yang ditetapkan berkaitan erat dengan sistem irigasi Subak di Bali, yaitu Cultural Landscape of Province Balli, Subak as Manifestation of Tri Hita Karana Philosophy.

Salah satu kawasan yang ditetapkan adalah lansekap subak Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan di Kabupaten Gianyar. Dengan begitu sederet warisan budaya masa lalu yang menunjang sistem Subak di DAS Pakerisan ikut menjadi warisan budaya dunia pula. Tidak luput Tirtha Empul, yang sejak dulu hingga sekarang telah dimanfaatkan sebagai salah satu sumber mata air untuk mengairi sawah masyarakat setempat. Peningkatan status tersebut tentunya berdampak pada semakin beratnya tanggung jawab yang diterima, baik pemerintah maupun masyarakat. Karena harus menjaga nilai-nilai Tri Hita Karana dalam pemanfaatan dan pelestariannya.

Kini Tirtha Empul, telah menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik. Pemanfaatan sebagai pariwisata ibarat pisau bermata dua, yaitu mempunyai sisi yang berbeda. Dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak negatif inilah yang perlu di tekan seminimal mungkin oleh stake holder dan berbagai pihak lainnya.


Tradisi melukat

Sumber mengenai keberadaan Tirtha Empul disebutkan oleh prasasti Manukaya yang dikeluarkan oleh Raja Bali bernama Candrabhayasinghawarmmadewa bertahun 882 Saka (960 Masehi) atau abad ke-10. Dalam prasasti itu dijelaskan mengenai perbaikan kolam atau mata air di Tirtha Empul yang rusak akibat banjir setiap tahun.

Rupanya raja kala itu sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang ia pimpin. Air sebagai kebutuhan pokok manusia, tentunya menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan oleh seorang raja. Hal itu berlaku pula bagi raja Bali yang memimpin hanya sekejap itu.

Ya, dampak kekuasaannya dapat dikatakan hanya beberapa tahun, sebab raja ini muncul di antara tahun pemerintahan Sang Ratu Sri Aji Tabanendra Warmmadewa (877-889 Saka). Untuk itu para ahli mencoba memberikan keterangan mengenai hal itu, dikatakan kemungkinan yang terjadi yaitu raja Candrabhayasinghawarmmadewa merebut kekuasaan dari tangan raja Tabanendra lalu beberapa tahun kemudian dapat direbut kembali oleh Raja Tabanendra.

Rupanya sumber mata air Tirtha Empul sejak dulu telah dimanfaatkan oleh masyarakat, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat ekonomis, tapi juga menyentuh pada hal yang religius, yaitu sebagai air suci. Mandi air suci (melukat) ini dianggap dapat menyucikan diri atau dapat menghilangkan kotoran dalam jiwa seseorang. Hal ini diberitakan pula dalam teks Usana Bali.  Ketika prajurit Dewa Indra terkena racun Mayadenawa dapat disembuhkan dengan air suci yang berada di Tirtha Empul.

Kemujaraban dari air itu telah mendorong masyarakat untuk melakukan mandi suci (melukat) di tempat itu. Di sana telah dibuatkan kolam khusus untuk melukat.  Kolam itu dibagi menjadi dua bagian, sisi timur dan sisi barat dilengkapi pula dengan pancuran-pancuran untuk mengalirkan air. Uniknya, tidak hanya warga local, tamu-tamu dari berbagai negara juga ikut melukat. Rasa senang terpancar dari raut wajah mereka. Hal ini menandakan bahwa tradisi yang dimiliki oleh umat Hindu di Bali secara turun temurun tersebut mampu menarik wisatawan mancanegara. Ada sebagian wisatawan yang tidak ikut-ikutan saja, namun mereka juga memanjatkan doa tatkala menundukkan kepala ke bawah pancuran air.

Melukat sebagai tradisi adiluhung masyarakat Bali, rupanya masih dipegang teguh dan masih dilakukan. Tradisi itu dapat kita lihat hingga sekarang di Tirtha Empul. Dengan begitu tinggalan arkeologi tidak hanya sebagai pembawa pesan (messenger) dari masa lalu, namun dapat pula sebagai penyambung tradisi (connector traditions) yang telah terwarisi dari masa lalu.***

Penulis: Heri Purwanto, Mahasiswa Arkeologi Unud

Iklan

Responses

  1. good…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: