Oleh: hurahura | 22 Mei 2017

Tembikar dan Upacara Religi  

Kendi-03Pecahan gerabah/tembikar bisa menjadi data arkeologi (Foto: Djulianto Susantio)

Menurut laman wikipedia, tembikar dibuat dengan membentuk tanah liat menjadi suatu objek. Tembikar memiliki perbedaan dengan gerabah sebagaimana Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).  Dikatakan tembikar adalah barang dari tanah liat yang dibakar dan berlapis gilap (pengkilap). Fungsi tembikar yang utama adalah sebagai aksesoris atau penghias ruangan karena memiliki nilai estetika yang tinggi. Berbeda dengan tembikar, gerabah hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan. Jadi, tembikar dan gerabah hanya memiliki perbedaan dalam fungsinya. Secara bahan baku keduanya sama.

Tembikar banyak ditemukan di situs-situs arkeologi di seluruh Indonesia. Soesandireja dalam Wacana yang dimuat pada 2009 menyebutkan para arkeolog dalam melakukan penggalian sering kali menemukan pecahan benda yang terbuat dari tanah liat atau tembikar (kereweng). Arkeolog menggunakan lapisan tanah tempat ditemukannya pecahan tembikar tersebut untuk mengidentifikasi dari mana dan pada zaman siapa tembikar-tembikar tersebut dibuat.


Religius

Tembikar banyak digunakan sebagai perkakas rumah tangga maupun keperluan religius seperti upacara dan penguburan. Dalam keperluan religi, tembikar biasanya digunakan sebagai wadah kubur, bekal kubur, atau tempat peralatan upacara. Tembikar yang digunakan sebagai alat keperluan sehari-hari biasanya jenis periuk, cawan, piring, kendi, dan tempayan. Semuanya banyak digunakan sebagai untuk wadah makanan/air.

Sedangkan untuk alat upacara keagamaan, tembikar yang banyak digunakan adalah jenis kendi dan periuk. Benda-benda itu digunakan sebagai tempat air suci dan wadah sesaji lainnya. Berbeda dengan gerabah yang digunakan sebagai alat keperluan sehari-hari yang cenderung tanpa motif atau polos, tembikar yang digunakan dalam alat upacara, utamanya upacara keagamaan, memiliki pola hiasan yang lebih rumit.  Dari pola hias inilah, para ahli dapat menelusuri kebudayaan dari zaman pembuatan tembikar.

Menjadi hal yang menarik jika ditelusuri lebih dalam kenapa tembikar digunakan dalam alat-alat upacara religi. Mengapa yang digunakan sebagai bekal kubur, atau tempat peralatan upacara harus tembikar dan bukan batu atau kayu saja? Apakah keistimewaan tembikar?


Mitos

Ada sebuah mitos yang berasal dari sebuah sungai yang bernama Sungai Daniah. Konon tembikar dibuat sebagai hukuman terhadap seorang ibu yang telah kehilangan anaknya akibat meninggalkan anaknya sendirian di rumah dan lebih memilih mengikuti suaminya ke ladang. Sejak saat itulah, semua perempuan dilarang ikut ke ladang dan harus tinggal di rumah sembari membuat tembikar. Begitu juga dengan para suami yang dilarang ikut campur dalam proses pembuatan tembikar karena tugasnya adalah pergi ke sawah. Di sini tembikar diumpamakan sebagai ujud cinta kasih seorang ibu kepada anaknya. Diwujudkan dalam proses pembuatan tembikar itu sendiri yang penuh dengan ketekunan dan kehalusan. Hal ini dapat dilihat ketika perajin membuat tembikar, yaitu dengan membentuk tanah liat dengan cara ditekan-tekan lembut sembari dielus lembut. Hal ini menandakan kasih sayang ibu terhadap anaknya yang bisa diterjemahkan sebagai kasih sayang Tuhan Pencipta Alam kepada manusia yang selalu menjaga manusia dan membentuk manusia menjadi wujud yang sempurna.

Selain itu, kita menelusuri kedudukan tembikar sebagai alat upacara melalui filsafat, slah satunya filsafat Jawa. Tembikar, dalam pembuatannya hampir sama dengan batu bata. Bahan baku tembikar adalah tanah liat, pasir, air, yang kemudian dijemur di bawah sinar matahari, lalu dibakar pada suhu sekitar 1000o C. Tembikar bisa saja dianggap mewakili keempat elemen dasar dari alam semesta, yaitu air, angin, api, dan tanah. Maka tembikar dalam alat upacara bisa menjadi simbolisme alam semesta dan meletakkan alat upacara dalam tembikar, atau menjadikan tembikar sebagai bekal kubur, berarti menyertakan restu alam semesta terhadap manusia itu sendiri.***

Penulis: Wulan Agustri Ayu, Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNESA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: