Oleh: hurahura | 8 Mei 2016

Prasasti Kranggan di Situs Kemuning

Kemuning-1Prasasti Kranggan

Desa merupakan pola permukiman yang penting bagi masyarakat sebagai pusat kegiatan sehari-hari. Toponimi (arti asal-usul kata) dari desa memiliki beberapa sebutan, seperti “dusun” dan “desi” (berasal dari kata swa-desi) yang memiliki padanan kata seperti halnya “negara”, “negeri”, “negari”, “nagari”, “negory” (berasal dari perkataan nagarom). Secara harfiah kata-kata tersebut berasal dari bahasa Sanskrit (Sansekerta), yang berarti tanah air, tanah asal, tanah kelahiran. Arti desa dengan cakupan luas adalah suatu kesatuan hukum, di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri (Kartohadikoesoemo, 1984: 15-16).

Dalam struktur hierarki pembagian wilayah administratif pemerintahan sekarang, desa memiliki bagian yang lebih kecil. Yang berkedudukan dibawah desa biasanya disebut “dusun, dukuh, atau kampung” atau sebutan lain lagi, seperti gampong, hukum tua, dan wanua. Dukuh juga memiliki ciri khas, fungsi, keistimewaan, dan sejarah-nya sendiri sebagai bagian wilayah dalam desa. Jika hal ini dieksplorasi dan disosialisasi akan menarik serta memiliki nilai plus guna untuk pengembangan wisata alam beserta wisata sejarah, misalnya melalui kegiatan bersih desa dan festival budaya desa.


Dukuh Kemuning

Sebuah dukuh di wilayah Malang Selatan, Jawa Timur, memiliki keistimewaan dan keutamaan di masa lampau, terutama sejak zaman kerajaan Tumapel (Singhasari). Dukuh tersebut bernama Kemuning, sebuah dukuh yang unik serta memiliki nilai ‘sejarah dan budaya’ tinggi.

Kemuning-2

Suasana rindang dan sejuk di sekitar Situs Kemuning karena banyaknya vegetasi tanaman besar dan semak belukar yang rimbun

Dukuh Kemuning terletak di Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Dahulu wilayah ini masuk Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen. Dukuh ini berjarak sekitar 18 kilometer dari kota Kepanjen. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, “Staatsblad Gubernur Jenderal” tanggal 1 Maret 1874 Nomor 72 yang berlaku mulai 1 April 1874, menyatakan bahwa Karesidenan Pasuruan memiliki tiga bagian wilayah (Afdeling), yaitu Afdeling Pasuruan, Afdeling Bangil, dan Afdeling Malang.

Desa Kranggan, termasuk Dukuh Kemuning di dalamnya, masuk distrik (Kawedanan) Kepanjen Afdeling Malang. Untuk menuju ke dukuh ini kita dapat melewati area kota Malang bagian selatan, yaitu Alun-alun kota Malang → Kepuh → Kebon Agung → Genengan → Pakisaji → Pertigaan Jalan Baru (Terus arah Kepanjen belok kiri arah Karangkates), pilih belok kanan arah Karangkates → Ngasem → Kranggan → Kemuning. Untuk menuju punden desa tempat situs Kemuning, kita bisa bertanya kepada warga desa.


Prasasti Kranggan

Di dukuh ini terdapat peninggalan purbakala berupa prasasti Kranggan. Prasasti ini sudah semakin aus. Selain itu ada reruntuhan candi berbata merah, yoni (lingganya sudah hilang), dan arca lembu Nandi yang tersembunyi di bawah akar pohon beringin (Suwardono, 2013: 169-170). Situs Kemuning ditemukan oleh F.D.K. Bosch pada Oktober 1916.

Kemuning-3Pengunjung tampak serius mengamati prasasti Kranggan

Bosch berusaha membaca prasasti Kranggan, namun prasasti batu itu sudah usang sehingga sulit diketahui isinya dengan jelas (Hardiati, dkk, 2010: 436). Hanya angka tahunnya dapat dibaca oleh Bosch, yaitu 1178 Saka (1256 M).

Jika dicermati lebih lanjut, tahun tersebut bertepatan dengan pemerintahan raja Wisnuwardhana dari kerajaan Singasari. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh rajamuda (Yuwaraja/Kumararaja) Kertanegara (anaknya). Mengingat di situs tersebut terdapat sebuah lingga dan yoni, diduga bangunan suci yang berhubungan dengan tempat tersebut adalah bangunan suci agama Hindu.

Pada 1986 dilakukan inventarisasi oleh kantor Suaka Sejarah dan Purbakala Jawa Timur terhadap situs Kemuning, antara lain prasasti tg. 137 cm, lb. atas 76 cm, lb. bawah 65 cm, dan tb. 24,5 cm. Lingga: tg. 44cm, lb. 13 cm, Ø. 15 cm. Yoni: tg. 36 cm, pj. 50 cm, lb. 50 cm. Kondisi yang dilaporkan tidak jauh berbeda dengan inventarisasi F.D.K Bosch dalam ‘OV’ 1916.

Kemuning-4

Yoni yang disemen berbentuk segi empat, pecahan hiasan candi di atas yoni & tebaran fragmen batu bata merah besar menandakan pernah berdiri bekas candi Hindu beraliran Sekte Siwa Siddhanta di area ini

Pada 2008 dilakukan inventarisasi lagi terhadap situs Kemuning. Tercatat adanya prasasti, lingga-yoni, arca lembu yang terbelit akar pohon, serta banyaknya bata merah tebal dengan ukuran bervariasi antara 8 x 18 x 21 cm untuk bata dinding dan 11 x 21 x 32 cm untuk bata pondasi.

Dari temuan dan uraian di atas ditarik kesimpulan bahwa daerah Kranggan secara fakta historis sudah dihuni oleh manusia pada masa kerajaan Singhasari. Bahkan tentunya sebelum itu sudah terdapat masyarakat yang tinggal menetap. Bukti adanya situs dan bangunan suci bersama prasastinya di situs Kemuning, menunjukkan bahwa desa Kranggan merupakan salah satu desa terpilih saat itu. Tidak mungkin pihak pemerintahan kerajaan mendirikan bangunan suci di tempat tersebut tanpa adanya alasan yang penting.

Sayang sekali isi prasasti tersebut tidak dapat dibaca. Kemungkinan isinya berkaitan dengan ‘Dharma Sima Swatantra’ (daerah bebas pajak). Sebutan dharma sima swatantra terdapat pula dalam prasasti Mulamalurung yang satu tahun lebih awal dikeluarkan oleh raja Wisnuwardhana. Adapun isi prasasti Mulamalurung lempeng IV.b tahun 1177 Saka (1255 M) yang berkaitan dengan hal itu sebagai berikut:

1. ……………………………………………………
2. ……………………Prahajya
3. n. Saŋ wineh=anusaka dharma sīma swatantra. ngkāneŋ bhūmi wetan=iŋ kawi. Maka saŋ jñākŕtāsana1. saŋ=apañji samaka. a
4. patih=ira narapati kŕtānagara………dst.

(=Yang menandai (memulai) bangunan suci tanah perdikan di suatu tempat di “bumi sebelah timur Kawi,” oleh yang melaksanakan perintah, yaitu sang apanji Samaka, patih dari raja Kertanegara……….dst.)


Dicuri

Dikuatkan pula hal ini dalam kitab Nagarakretagama tulisan Pu Prapanca (1365 M), dengan menyebutkan tempat-tempat desa perdikan di seluruh wilayah Majapahit. Pada pupuh 76 bait 3 (Muljana, 2006: 391) disebut tempat-tempat suci di sekitar Singhasari sampai lereng timur gunung Kawi, di antaranya yang lokasinya berderetan adalah ‘Panghawan, Damalung, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela, Pamulang, Baryang, Amertawardani, Wetiwetih, Kawinayan, Patemon, serta Kanuruhan. Panghawan dapat diidentifikasi yaitu daerah Mangliawan-Pakis, Damalung berada di tepi barat laut Singosari, Tepasjita berada di timur laut Kesamben-Blitar. Wanasrama diduga Mendalanwangi (karena Mendalan artinya adalah Wanasrama), Samuderawela dan Pamulang tidak dapat dilacak keberadaannya. Kawiyanan adalah lereng Kawi sebelah utara, Patemon adalah desa Temu di Karangploso, Kanuruhan adalah daerah Dinoyo, dan kemudian Jenar. Apakah tidak mungkin bahwa “Jenar” yang dalam bahasa Jawa Kuna berarti “Kuning” (Mardiwasito, 1981: 251) itu sekarang adalah ‘dukuh Kemuning’ yang memang terdapat sisa-sisa bangunan suci pada zaman kerajaan Singasari? (Suwardono, 2012: 1-2).

Kemuning-5Arca Lembu Nandini yang terlilit akar pohon beringin sehingga hanya tampak batu bulatnya 

Menurut Mbah Salam (61), Juru Pelihara (Jupel) Situs Kemuning, tempat prasasti Kranggan yang sekarang berdiri di atas gundukan tanah sepanjang 2 meter x 3 meter dengan ketinggian setengah meter yang mirip dengan makam itu disebut “Petilasan Mbah Suko”. Sedangkan di sebelah tempat tersebut terdapat pohon yang tidak terlalu besar yang dipagari pagar berwarna hijau dan batu bata pendek berukuran 1 x 1 meter disebut “Petilasan Mbah Mintorogo”. Tinggalan purbakala di situs ini hanya berupa beberapa fragmen bata merah yang dijadikan pagar pembatas lalu disemen. Sedangkan tempat yoni yang disemen di atas gundukan permukaan tanah dengan lebar 1,5 x 1,5 meter dan tinggi setengah meter disebut “Sopi Angin”. Sayang lingga yang seharusnya berada di atasnya hilang dicuri orang beberapa saat yang lalu. Di atas yoni tersebut sekarang dipasang sebuah fragmen pecahan hiasan candi.

Di sisi barat situs terdapat area berisi pohon beringin besar yang melilit sebuah arca Lembu Nandini. Masyarakat sekitar menyebut arca tersebut “Patung Lembu Suro”. Sayang arca tersebut terlilit hampir seluruhnya oleh akar pohon beringin sehingga yang tampak hanya sebongkah batu besar dari celah-celah akar. Masyarakat sekitar juga percaya bahwa penunggu arca tersebut akan marah jika ada penduduk memelihara sapi dari luar Jawa. Hal ini pernah terjadi ketika penduduk memelihara sapi non-Jawa yang akhirnya banyak mati. Di sisi lain situs Kemuning tersebut terdapat sebuah makam yang dijadikan punden desa yang disebut “Makam Tunjungsari”. Dipercaya bahwa di makam ini disemayamkan tokoh utusan dari Mataram zaman Sultan Agung untuk tinggal dan menetap di sana (Radar Malang, 2014: 38).

Lebih lanjut menurut Mbah Salam pada waktu peristiwa G30S PKI, terjadi pengrusakan besar-besaran pada area situs dan prasasti oleh sejumlah oknum. Hal itu dapat dilihat di bagian bawah prasasti terdapat bagian yang disemen (Wawancara dilakukan pada 13-09-2015). Dukuh Kemuning terletak sangat dekat dengan Gunung Kawi.


Daftar Pustaka

Anonim, (2014). Desa Spesial Era Singhasari Tercatat di Kemuning. Malang: Koran Radar Malang.

Asy’ari, Sapari Imam, (1993). Sosiologi Kota Dan Desa. Surabaya: Usaha Nasional.

Kartohadikoesoemo, Soetardjo, (1984). Desa. Jakarta: Balai Pustaka.

Mardiwasito, L. (1981). Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Ende: Penerbit Nusa Indah.

Muljana, Slamet (2006). Tafsir Sejarah Negara Kretagama. Yogyakarta: LKiS.

Hardiati, E.S., Djafar H., Soeroso, Ferdinandus, P.E.J., & Nastiti, T.S. (2010). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno, Jilid II, Edisi Pemutakhiran. Jakarta: Balai Pustaka.

Suwardono, (2012). Sejarah Desa Kranggan Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang. Malang: Artikel.

Suwardono, (2013). Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha. Yogyakarta: Ombak.

*******

Informan:
Nama : Mbah Salam Djojo Aminoto
Pekerjaan : Juru Pelihara (Jupel) Situs Kemuning
Umur : 61 Tahun
Alamat : Rekesan Utara Punden (Situs Kemuning)

*******

Devan Firmansyah
Mahasiswa IKIP BUDI UTOMO MALANG
Jurusan Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
E-Mail: devanfirmansyah@gmail.com
Facebook: Kopi Soda


Responses

  1. ..sayang ya… Bukti2 sejarah ini,terbengkalai ribuan tahun lama nya..setelah rusak, baru yg terkait dg kepurbakala’an sibuk… Coba kalau masyarakat menemukan benda atau harta karun… ..cepat dah tanggapan nya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: