Oleh: hurahura | 13 Januari 2017

Ninie Susanti Tedjowasono: Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara

Ninie Susanti

Ninie Susanti Tedjowasono (Dokpri)

Indonesia memiliki kekayaan sejarah yang termaktub dalam banyak prasasti. Namun, masih sedikit epigraf alias orang yang ahli membaca prasasti. Salah satunya adalah Ninie Susanti Tedjowasono, yang tekun mendorong lahirnya generasi epigraf baru.

Ninie Susanti Tedjowasono (59) adalah pengajar epigrafi di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Setiap tahun, ia mengentaskan epigraf baru. Itu pun, setiap angkatan, jumlahnya tidak lebih dari enam orang.

“Untuk menjadi epigraf, syaratnya mudah. Asal tekun dan punya rasa ingin tahu yang besar saja karena kemampuan lain, seperti bahasa, dapat dipelajari,” kata Ninie-sapaan akrab perempuan itu-di FIB UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (6/1).

Prasasti di Indonesia tertulis dalam berbagai huruf dan bahasa. Ada huruf Pallawa, Dewanagari, Jawa Kuna, Arab, dan Pegon. Bahasa yang digunakan antara lain Melayu Kuna, Bali Kuna, Jawa Kuna, Sunda Kuna, Sanskerta, dan Arab.

Ninie belum terlalu terpikat dengan epigrafi ketika masuk Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra UI. Saat menyusun skripsi, “Struktur Birokrasi Zaman Balitung: Data Prasasti”, untuk menyelesaikan studi tahun 1981, ia kian tertarik menekuni epigrafi dengan bimbingan pakar epigrafi ternama, M Boechari.

“Begitu banyak data dan informasi dari prasasti. Kita tidak hanya tahu tentang penanggalan atau nama raja yang berkuasa, tetapi juga kehidupan sehari-hari yang relevan pada masa sekarang, yang orang lain tak tahu,” ujar Ninie.


Soal pajak

Sejumlah prasasti mencatat soal pajak. Pada masa lalu sudah berlaku berbagai jenis pajak, mulai dari pajak ayam, bebek, padi, tanah, ububan (tungku pandai besi), sampai jembatan, juga pajak untuk orang asing. Bahkan ada pajak hasil bumi, pajak penjualan, serta pajak profesi. Semua itu dikenal sebagai drawya haji, milik raja. Pajak adalah sumber penghasilan kerajaan.

“Untuk pajak ayam dan bebek, batas tak kena pajak adalah sekandang. Lebih dari itu, wajib bayar pajak. Tapi, berapa persis jumlah ayam dan bebek itu tidak diketahui,” katanya.

Prasasti juga merekam perilaku curang petugas, termasuk pemungut pajak. Salah satunya, mereka menggunakan ukuran berbeda untuk menetapkan pajak tanah. Si petugas pakai ukuran satuan tampah yang lebih kecil sehingga pemilik tanah membayar pajak yang lebih besar. Pemilik tanah protes dan kasus tersebut diteliti ulang oleh tim independen yang kemudian memutuskan menerapkan ukuran satuan tampah yang benar. Jumlah pajak yang harus dibayar pun berkurang.

“Sebagian besar prasasti di Indonesia berisi penetapan sima, yakni daerah bebas pajak. Ini bukti, pada zaman dahulu pun rakyat keberatan bayar pajak,” ungkap Ninie.

Prasasti juga mencatat silsilah, jenis makanan dan minuman, nama tempat, beragam profesi, dan aktivitas perekonomian. Ada juga soal pelaksanaan sistem hukum, stratifikasi sosial, administrasi dan birokrasi kerajaan, pembagian kerja, keagamaan, seni, adat istiadat, bahkan batas wilayah, termasuk batas wilayah negara ini.

“Itu sebabnya, saya senang membaca prasasti. Prasasti adalah sumber sejarah primer, bukti otentik dari masa lalu yang berguna pada masa sekarang,” ucapnya penuh semangat.

Ninie menyebut bukti tentang batik yang tercantum dalam prasasti dari zaman Raja Balitung pada abad IX. “Prasasti juga menyebut wdihan dan kain sebagai hadiah dalam upacara penetapan sima,” ucapnya.

ninie-03
Sebagai contoh, wdihan dipakai golongan tertentu, termasuk raja. Wdihan untuk raja antara lain ganjar haji, ganjar patra sisi, dan bwat pinilai. Wdihan untuk pejabat tinggi seperti tapis cadar, bwat kling putih, dan alapnya salari kuning. Sementara wdihan untuk pejabat rendahan sepertisiwakidang, hamarawu, dan takurang.


Hafal kata kuno

Terbiasa membaca prasasti membuat Ninie hafal berbagai kata kuno, yang sebagian besar tak dikenal lagi di daerah asal prasasti. Namun, kata itu justru masih digunakan di daerah yang pernah berada di bawah kekuasaan kerajaan yang dulu menguasai daerah tersebut.

Ketika melakukan penelitian di Banjarmasin, Ninie terkejut mendengar penduduk menyebut hantlu untuk telur. “Kata hantlu sering muncul dalam banyak prasasti, terutama prasasti upacara sima. Di Jawa, kata hantlu tidak dikenal lagi. Tetapi, di daerah bekas Kesultanan Banjar, kata itu masih dipakai menjadi hantalu. Kesultanan Banjar dulu wakil Kesultanan Demak di Kalimantan,” tuturnya.

Walau sebagian besar prasasti berisi penetapan sima dan memiliki struktur serta isi hampir sama, selalu ada hal unik terselip, seperti jenis huruf yang dipakai. Pada masa Raja Airlangga berkuasa, misalnya, semua prasastinya memiliki huruf indah.

“Penulis prasasti disebut citralekha, yang harus pandai dan berpendidikan. Airlangga suka keindahan sehingga huruf-huruf prasastinya bagus,” kata Ninie.

Tradisi menulis tumbuh di lingkungan pelajar di istana atau di mandala (keguruan), yakni tempat kediaman komunitas sisya (siswa) yang ingin belajar pendidikan keagamaan. “Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang kita mengenal pesantren yang tidak dikenal di Timur Tengah,” ujarnya.

Bukan berarti para siswa selalu mematuhi guru. Ada saja di antara mereka yang menyempal dengan menulis semaunya sendiri. Padahal, prasasti biasanya merupakan maklumat yang ditulis tegas dan ringkas.

“Sama seperti sekarang, anak muda senang menulis apa saja, termasuk kegalauannya. Dulu pun demikian. Prasasti Tempuran, yang berangka tahun 1388 Saka, berisi catatan seorang pemuda yang ingin berbuat 100 kebaikan kepada gadis baik hati yang dilihatnya saat perayaan. Prasasti nyeleneh yang berisi ungkapan perasaan, he-he-he,” ujar Ninie geli.

Kebiasaan menulis singkatan seperti sekarang melalui pesan pendek, WhatsApp, atau surat elektronik juga lazim pada masa lalu. Mereka senang menyingkat kata, seperti nama hari siklus tujuh, yakni raditya/aditya (Minggu), soma (Senin), anggara (Selasa), budha (Rabu), wrhaspasti (Kamis), sukra (Jumat), dan sanaicara (Sabtu), ditulis dengan ra/a, so, ang, bu, wr, su, sa. Siklus lima hari juga disingkat, yakni pahing (pa), pon (po), wagai/wage (wa), kaliwuan yang kini dikenal sebagai kliwon (ka), dan umanis/manis atau legi (u/ma).

Setiap semester ganjil, Ninie mengajak para mahasiswa ke Museum Nasional untuk membuat akblats atau salinan prasasti dari kertas. Caranya, kertas ditempel dan ditekan pada beberapa lapis prasasti batu sehingga kertas mengisi torehan huruf. Setelah kering, kertas baru dilepas dari prasasti. Umumnya cara ini memakai kertas singkong.

Para mahasiswa pun ujian dengan membaca prasasti di museum. “Mereka boleh pilih prasasti yang diinginkan, pasti semua tidak bisa mencontek,” katanya tertawa.

Indonesia punya bermacam warisan prasasti. Namun, karena jumlah epigrafi terbatas, banyak prasasti belum terbaca atau diurai informasinya untuk berbagai kepentingan. Dengan ilmu epigrafi, kita bisa mempelajari prasasti sehingga lebih mengenal Nusantara dan meneguhkan kedirian kita sebagai bangsa dengan beragam budaya.

“Epigrafi berfungsi untuk mempelajari diri sendiri, dalam hal ini Indonesia. Jangan sampai kita belajar dari orang lain tentang diri sendiri,” katanya tegas.

Penulis: Ida Setyorini
Sumber: Kompas, Kamis, 12 Januari 2017, halaman 16

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: