Oleh: hurahura | 22 November 2016

Budaya Menulis Para Arkeolog

pramoedya-01Kata-kata sastrawan Pramoedya Anantara Toer yang fenomenal (Foto: Istimewa)

Seorang arsitek dikenal karena karyanya, contohnya Masjid Istiqlal rancangan F. Silaban. Seorang penyair dikenal karena puisinya, misalnya W.S. Rendra. Lalu seorang arkeolog dikenal karena apanya? Sulit menjawabnya. Masyarakat memang mengetahui warisan-warisan arkeologi ketika terjadi perobohan bangunan kuno dan juga kasus pencurian dari dalam museum. Namun apakah masyarakat mengenal arkeolog-arkeolog kita?

Masyarakat di era 1960-an dan 1970-an umumnya akrab dengan sosok Uka Tjandrasasmita, Ayatrohaedi, dan Siswadhi. Mereka sering menulis di Star Weekly, Intisari, dan Kompas karena merupakan sahabat tokoh penerbitan P.K. Oyong. Ketiganya mampu menulis secara ilmiah dan populer.

Kini tulisan ilmiah dan tulisan populer tentang arkeologi boleh dikatakan masih sangat jarang. Penyebabnya antara lain kurangnya minat dan kemampuan menulis dari para arkeolog.  Entah mengapa para arkeolog enggan menulis. Padahal bahan-bahan penulisan tak pernah akan habis.

Budaya nenek moyang kita terentang sejak ribuan tahun lalu dan terbentang luas di Nusantara. Itulah yang menyebabkan kita punya data arkeologi yang seabreg-abreg jumlahnya.

Budaya menulis di kalangan arkeolog jelas masih rendah. Menulis pun dianggap hanya milik kalangan peneliti dan pendidik. Di institusi penelitian macam Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balar Arkeologi, memang salah satu syarat naik golongan atau pangkat dilihat dari produk tulisan atau publikasi. Juga di institusi-institusi pendidikan tinggi, yakni UI, UGM, UNUD, dan UNHAS. Apalagi jika terbit di dalam jurnal yang berakreditasi, maka angka kredit yang diperoleh akan lebih tinggi.

Lain halnya di instansi pelestarian macam Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman dan satuan kerjanya, Balai Pelestarian Cagar Budaya. Menulis tidak menjadi prioritas karena bukan syarat untuk kenaikan pangkat/golongan. Barangkali tidak ada angka kreditnya.

Dapat atau tidak angka kredit, yang jelas menulis sangat penting. Apalagi jika tulisan-tulisan itu sampai ke masyarakat seluas-luasnya. Karena kegiatan arkeologi dibiayai oleh pajak masyarakat melalui APBN/APBD, maka proses penelitian dan pelestarian harus diketahui masyarakat lewat kegiatan publikasi (tercetak dan online).

Selain itu, hasil-hasil kegiatan arkeologi harus dipamerkan; di dalam museum untuk benda-benda yang bisa dipindahkan atau dalam bentuk taman purbakala untuk benda-benda yang tidak bisa dipindahkan.

Tulisan ilmiah tentu saja harus dilakukan di publikasi khusus, taruhlah di jurnal, mengingat masyarakat pembacanya begitu khas. Sementara tulisan populer bisa lewat surat kabar dan majalah. Sebenarnya banyak tulisan yang dikirim oleh para arkeolog ke media cetak. Namun karena di dalamnya banyak istilah teknis, jadi tulisan-tulisan tersebut tidak layak muat untuk media umum.

Sesungguhnya tulisan ilmiah dan tulisan populer tidak terlalu jauh berbeda. Hanya istilah-istilah teknis yang sulit dimengerti masyarakat awam, sebaiknya tidak dimasukkan dalam tulisan populer. Selebihnya hanya soal gaya bahasa. Misalnya demikian, “Perlu disadari bahwa pemanfaatan potensi di bidang pembangunan jangan sampai berbalik menjadi rusak atau musnahnya aset budaya (Timbul Haryono, 2005)”. Ini untuk tulisan ilmiah. Sementara untuk tulisan populer, “Menurut Timbul Haryono (2005), perlu disadari bahwa pemanfaatan potensi di bidang pembangunan jangan sampai berbalik menjadi rusak atau musnahnya aset budaya”.

Mengapa para arkeolog enggan menulis? Mungkin karena ada teknologi baru berupa Power Point yang lebih mudah untuk presentasi. Dampak dari kelangkaan arkeolog yang mampu menulis adalah ketiadaan naskah untuk publikasi banyak instansi arkeologi atau purbakala. Pada bagian lain terlihat website atau laman arkeologi jarang sekali ada pembaruan tulisan. Bahkan kalau dihitung, sejak 2000-an hingga kini, banyak sekali laman milik sejumlah instansi arkeologi tidak berumur panjang. Terkesan hanya menghabiskan anggaran untuk tahun berjalan. Bayangkan hanya bergonta-ganti domain dari .com, .net, .org, menjadi .go.id.

Para arkeolog pernah mengatakan, seharusnya masa sejarah berlangsung lebih jauh dari masa yang kita kenal sekarang. Ini karena nenek moyang kita tidak meninggalkan catatan tertulis. Arkeolog pula yang sekarang enggan menulis, padahal melalui tulisan bisa menjadikan masyarakat kita memiliki apresiasi lebih terhadap kepurbakalaan. Ayo menulis karena merupakan cara terbaik untuk transfer ilmu pengetahuan.***

Penulis: Djulianto Susantio


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: