Oleh: hurahura | 22 September 2010

Pembukaan Kembali Museum Nasional Irak

Yang Tersisa Hanya Gambar

Simbol proses normalisasi Irak. Acara pembukaan kembali Museum Nasional di Bagdad yang dihadiri Perdana Menteri Nuri al Maliki (kiri) awal 2009 lalu.

Museum Nasional Irak kembali dibuka sejak beberapa waktu lalu. Terlalu dini, demikian pendapat kritikus, karena penjagaan keamanan yang sangat kurang tetap membahayakan warisan kebudayaan Mesopotamia dan Babilonia. Birgit Svensson memberikan informasi dari Bagdad.

Begitu konvoi mobil berwarna hitam yang mengangkut Perdana Menteri Nuri al Maliki memasuki lapangan di bagian tengah museum, sudah jelas bahwa Museum Nasional Irak akan dibuka kembali. Sebelumnya itu baru rencana saja. Pertikaian berbulan-bulan antara departemen wisata dan departemen kebudayaan tampaknya sudah selesai. Setidaknya untuk sehari.

Musik berkumandang, dan sejumlah perempuan yang memakai kostum tradisional memberikan kesan bahwa segala-sesuatunya normal. Di lapangan dibagi-bagikan minuman dan kue-kue kecil. Semuanya sesuai dengan keinginan PM al Maliki, yang dengan upacara ini ingin menunjukkan, bahwa Bagdad mengalami kemajuan selangkah lagi.

Gerbang gedung museum, yang dibangun arsitek Jerman tahun 1966 itu, tertutup selama lebih dari enam tahun. Rencana serangan AS dan Inggris atas Irak sudah terdengar lama sebelumnya. Beberapa bulan sebelum Bagdad diambilalih tanggal 9 April 2003, pameran sudah dihentikan. Tanpa diketahui orang, harta benda paling penting dipindahkan dari museum tersebut ke ruang penyimpanan di bawah bank sentral Irak.


Warisan Mesopotamia dan Babilonia Terancam

Ketika penjarah menyerbu museum tersebut, dan terutama menghancurkan ruang-ruang administrasi, 75.000 karya seni dilaporkan dicuri.

Koran Inggris “Guardian” bahkan melaporkan yang hilang 270.000 buah. Sementara surat kabar-surat kabar lainnya mengatakan yang hilang 170.000. Museum Nasional Irak menjadi fokus kekhawatiran internasinal. Pakar arkeologi dan sejarah di seluruh dunia menyatakan itu sebagai bencana yang tidak dapat diperbaiki lagi.

Warisan mesopotamia dan babilonia sepertinya hilang selamanya. Tetapi kenyataannya tidak seburuk itu. Ketika terowongan bawah tanah di bawah bank sentral dikeringkan, karya-karya seni dalam jumlah besar muncul kembali. Di antaranya harta Nimrud yang sangat terkenal.

Adeministrator AS Paul Bremer kemudian membiarkan museum dibuka untuk beberapa jam, agar wakil media dan beberapa orang terpilih dapat melihat harta tersebut. Tetapi rakyat umum tidak diperbolehkan masuk.


Tidak Semua Dipertunjukkan

Sekarang direktur museum Amira Edan dapat mengatakan dengan pasti, berapa barang seni yang benar-benar dicuri. Ia membuat sebuah katalog, yang dapat dilihat oleh badan PBB urusan pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, UNESCO dan institusi internasional lainnya.

Menurut direktur museum, Amira Edan selama kerusuhan dan pengambilalihan Bagdad oleh pasukan AS, april 2003 lalu, sekitar 15.000 benda dicuri dari museum.

Menurut katalog tersebut 15.000 benda dicuri dari museum. Sekarang 6.000 di antaranya telah dikembalikan lagi. Sebuah ruang di bagian atas museum menunjukkan benda-benda yang telah dikembalikan, yaitu sejumlah uang logam, lampu minyak, relief, papan tulis dari tanah liat, gulungan tulisan, bahkan wadah air raksasa yang berasal dari jaman Babilonia.

Benda-bena milik museum itu dikirim kembali dari Suriah, Arab Saudi, Yordania, Italia, AS dan Peru. Untuk waktu lama, pemeriksa di perbatasan tidak diperintahkan untuk memperhatikan selundupan berupa warisan budaya Irak.

Amira Edan hampir tiap hari mendapat penawaran untuk membeli kembali benda-benda seni yang dulunya milik Museum Nasional Irak. “Pencuri karya seni dan mafia barang antik hubungannya sangat erat,” demikian dikatakan Amira Edan dengan tegas kepada Qantara.de.

Jika orang berjalan berkeliling di museum, yang ruang-ruangnya menunjukkan berbagai jaman dari 8.000 tahun sejarah Irak, orang dapat melihat bahwa tidak semua benda seni dipertunjukkan.

Hanya sejumlah kecil lemari kaca berdiri di museum itu, dan berisi. Sejumlah besar benda yang dipamerkan hanya tiruan dan bukan benda aslinya. Pengkategorian menurut tema dan penjelasan yang terperinci tidak ada.

Dari harta Nimrud yang terkenal, hanya dapat dilihat fotonya saja. Tahun 1989 peneliti Irak Said Muzahim menemukan harta itu di antara reruntuhan ibukota kerajaan Asiria. Penemuan itu sama spektakulernya seperti penemuan makam Tutanchamun di Mesir. Muzahim menemukan tiga kuburan, yang dipenuhi benda-benda dari emas yang tidak dapat ditimbang dengan satuan ons melainkan kilogram.

Sekitar 1.400 perhiasan itu digambarkan sebagai yang terindah di seluruh Timur Tengah. Sekarang harta itu disimpan di sebuah ruang di bank negara. Yang dapat dilihat hanyalah patung-patung raksasa penguasa Asiria, yang tidak dicuri atau rusak karena perang.


Langkah Berikutnya Menuju Normalitas

Sengketa antara departemen kebudayaan dan departemen wisata akhirnya menghasilkan kompromi yang aneh. Satu pihak sejak lama mendesak agar Museum Nasional Irak yang sangat bergengsi segera dibuka. Sementara bagi pihak lainnya, masalah keamanan jauh lebih penting.

Masih jauh dari normalitas: Untuk sementara Museum hanya boleh dikunjungi oleh kelompok terdaftar.

Karena intalasi pengaman serta alarm belum dapat melindungi obyek-obyek dari ancaman pencurian, sebaiknya pembukaan museum ditunda terlebih dahulu. Demikian pendapat departemen kebudayaan.

Kamera pengawas dan penjaga sama sekali tidak dapat menjamin kemanan museum. Di samping itu, gedung besar semacam itu yang terbuka untuk umum tidak aman dari serangan bom.

Direktor museum Amira Edan juga lebih memilih untuk menunggu, hingga museum dapat memamerkan lebih banyak benda seni. Juga sampai teknik pengamanan yang sesuai dapat dibeli dan dipasang, serta hingga semua benda yang dipamerkan selesai direstaurasi sepenuhnya dan dipersiapkan dengan baik. “Pendingin ruang saja tidak berfungsi,” demikian dikatakan Amira Edan yang berusia 46 tahun seraya menunjuk pada alat pendingin di dinding. Namun ia pada akhirnya harus mengikuti keinginan PM al Maliki.

Jadi sejak beberapa pakan lalu museum itu telah dibuka kembali, tetapi hanya bagi pengunjung yang sudah mendaftarkan diri sebelumnya. Hingga jam buka yang reguler dapat kembali mengatur alur pengunjung setiap harinya, masih diperlukan banyak waktu. Jalan menuju normalitas di Bagdad memang masih panjang.

(Qantara,de)

Iklan

Responses

  1. Walaupun negarnya masih antah berantah dan dilanda perang tetapi perhatian terhadap sejarah khususnya museum masih tinggi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori