Oleh: hurahura | 19 April 2011

PENINGGALAN ADITYAWARMAN Ekskavasi Akan Dilanjutkan Tahun Depan

KOMPAS/INGKI RINALDI

Satu tutup wadah berbahan perunggu yang diduga salah satu peninggalan Kerajaan Adityawarman, ditemukan dalam ekskavasi arkeologis di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, ekskavasi berakhir pada Jumat (15/4).

Kompas, Senin, 18 April 2011 – Ekskavasi arkeologis untuk menemukan lebih banyak lagi sisa-sisa peninggalan Kerajaan Adityawarman oleh para peneliti dari Indonesia, Jerman, Australia, dan Belanda akan kembali dilakukan pada bulan Maret tahun 2012 mendatang.

”Perkiraan ekskavasi lanjutan pada Maret 2012. Lokasinya masih di Bukit Dama’ (Damar) dan Bukit Kincia (Kincir),” kata Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Budi Istiawan, Minggu (17/4), seusai ekskavasi tahap pertama di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Ekskavasi tahap pertama berlangsung sejak 16 Maret hingga 15 April lalu.

Untuk sementara, lanjut Budi, sejumlah temuan dari kegiatan penggalian bernama Proyek Ekskavasi Arkeologi Tanah Datar 2011 yang diketuai Prof Dr Dominik Bonatz dari Freie Universität Berlin, Jerman, itu disimpan di BP3 Batusangkar.

Sebelumnya, temuan-temuan berupa pecahan keramik China dari masa Dinasti Song dan Dinasti Ming, pecahan tembikar, manik-manik dari kaca beragam warna, tutup wadah berbahan perunggu, dan sejumlah kapak genggam dari batu, itu dicatat dahulu secara sistematis.

Adapun 11 lubang yang digali dengan sistem trench (parit) berukuran antara 2 x 3 meter hingga 10 x 10 meter itu kembali ditutup dengan gundukan tanah setelah sebelumnya dilapisi plastik. ”Agar bisa dilanjutkan jika ada ekskavasi ulang,” kata Budi.

Sementara itu, dua lokasi yang dijadikan sebagai tempat ekskavasi tahap pertama, yakni Bukit Kincia (Kincir) yang dimiliki penduduk, diminta untuk tidak dipergunakan dulu. ”Sebelumnya lahan itu memang disewa selama masa ekskavasi, namun saya sudah lakukan pendekatan agar jangan diganggu dulu setidaknya sampai ekskavasi dilakukan lagi tahun depan,” kata Budi.

Ia menambahkan, kawasan Bukit Kincia yang juga merupakan kuburan kuno itu dipercaya warga sekitar sebagai wilayah yang harus dijauhi, sehingga kecil kemungkinan akan digarap masyarakat. Sebelumnya, Dominik mengatakan, ia dan timnya juga menemukan sejumlah potongan batu bata ukuran besar, yang diduga merupakan bagian struktur permukiman kuno di kawasan ekskavasi itu.

”Namun potongan-potongan itu sudah hancur. Kemungkinan karena aktivitas pertanian yang dilakukan warga pada lahan di atasnya, dengan terus-menerus membajak tanahnya,” kata Dominik.

Adapun kawasan Bukit Dama’ (Damar) yang juga dipakai sebagai tempat ekskavasi tahap pertama, sepenuhnya merupakan milik Pemkab Tanah Datar. Budi menambahkan, dari ekskavasi tahap pertama yang diikuti juga oleh Prof Dr Arlo Griffiths yang merupakan seorang ahli literatur, sejarah, dan budaya dari negara-negara di subkontinen India di lembaga École Française D’ Extrême-Orient perwakilan Jakarta, terdapat temuan ulang soal bacaan sejarah yang perlu diperbaharui.


Malayupura

Salah satu yang paling penting, kata Budi, ialah penyebutan nama Melayupura, yang selama ini lazim digunakan dalam khazanah arkeologis. ”Namun setelah dibaca ulang oleh Arlo, ternyata yang betul dibaca sebagai Malayupura,” kata Budi, yang menyebutkan tidak kurang dari 25 prasasti terkait dengan Adityawarman dibaca ulang dalam proses terebut.

Temuan lain ialah sebutan Danau Singkarak yang ternyata sudah ada sejak masa lampau. ”Itu sudah terdapat dalam Prasasti Paninggahan di Kabupaten Solok. Prasasti itu dulu ada di dalam danau tersebut,” kata Budi.

Mengenai tindak lanjut setelah ekskavasi tahap pertama, Budi mengatakan, kemungkinan akan diadakan sebuah seminar untuk memaparkan hasil-hasil temuan yang didapatkan berikut hubungannya dengan masa kini. Budi menjelaskan, hal itu masih akan dibahas lebih lanjut antara Dominik dan Arlo.

Berdasarkan penelitiannya, Budi mengatakan, sosok Adityawarman yang bisa disejajarkan dengan Mahapatih Gadjah Mada dalam membangun Kerajaan Majapahit, diketahui menjadi Raja Melayu Dharmasraya yang berpusat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Wilayah itu kini termasuk dalam kawasan Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Menurut Budi, Adityawarman yang menyebut dirinya sebagai Sri Maharaja Diraja itu berkuasa antara antara tahun 1347-1375, meliputi kawasan yang sekarang dinamakan Kabupaten Dharmasraya, Tanah Datar, hingga Pasaman, Sumatera Barat. (INK)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori