Oleh: hurahura | 28 September 2014

200 Tahun Penemuan Candi Borobudur (1814-2014): Antara Pariwisata, Pendidikan, dan Konservasi

Talkshow-02Seminar 200 tahun penemuan Candi Borobudur

Suatu hari Raffles, wakil gubernur Inggris untuk Jawa, mendengar cerita tentang batu-batuan berukir yang tersembunyi di dalam hutan belantara. Segera pada 1814 ia mengutus Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk melakukan survei. Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 bawahannya menebangi pepohonan dan semak belukar yang tumbuh menutupi batu-batu berukir itu, termasuk membongkar tanah penimbun batu.

Sayang pekerjaan yang ia lakukan belum maksimal karena lokasi itu rawan longsor. Cornelius melaporkan penemuan tersebut kepada Raffles, sekaligus menyerahkan gambar sketsa bangunan. Itulah awal penemuan Candi Borobudur 200 tahun lalu. Penemuan kembali monumen yang hilang ini menarik perhatian dunia.

Raffles pun memuji kebesaran Borobudur. “Desainnya teratur, arsitektural, bangunan yang indah, sangat menakjubkan, karya yang agung,” begitu kira-kira kata Raffles. Upaya penyelamatan Candi Borobudur diwujudkan kemudian dengan pemugaran oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemugaran pertama oleh Ir. Th. van Erp (1907-1911) itu masih bersifat parsial. Akibatnya banyak bagian candi belum mampu menahan berbagai kerusakan fisik.

Pasca kemerdekaan 1945, upaya menyelamatkan Candi Borobudur terus dilakukan. Pada 1955, pemerintah Indonesia mulai menggalang bantuan internasional melalui UNESCO untuk membantu pemugaran Candi Borobudur. Akhirnya pada 1973 candi itu mulai dipugar dan diresmikan pada 1983.

Pada 1980, dalam rangka pengelolaan taman purbakala, didirikan PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan, untuk mengelola candi dan kawasannya secara komersial. Pada 1991 Candi Borobudur masuk ke dalam Daftar Warisan Dunia.


Pariwisata dan pendidikan

Candi Borobudur telah menginspirasi banyak orang. Arsitek, seniman, perancang busana, ahli konstruksi, dan lain-lain, sering mengambil gagasan dari candi ini. Candi Borobudur memang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang dengan segala dimensinya. Namun yang utama, Candi Borobudur adalah daya tarik atau magnet pariwisata.

Didirikannya PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan, kemudian ditambah Ratu Baka, jelas menunjukkan bahwa Candi Borobudur benar-benar dimanfaatkan untuk mengeruk pemasukan ekonomi dari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Dampak ekonomi memang dirasakan banyak pihak. Masyarakat sekitar bisa memperoleh penghasilan lewat aneka barang yang mereka jajakan. Ada kios cenderamata, ada pula warung-warung makanan dan minuman. Belum lagi penjual jasa pijat, pemandu wisata, dan atraksi hewan tunggang.

Faktor rekreasi jelas amat kental. Namun kepariwisataan di sana belum terkoordinasi dan terkontrol dengan baik, sehingga pamor Borobudur di dunia internasional semakin menurun. Keluhan wisatawan soal pelayanan dan sikap perilaku para pedagang kerap muncul. Dari jumlah 100 pedagang sebagaimana fasilitas awal yang disediakan, kini justru semakin banyak pedagang asongan yang agak memaksa. Tak heran karena manajemen yang semrawut itu, UNESCO mengeluarkan ancaman hendak mencabut status Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia.

Kini Candi Borobudur semakin ramai dikunjungi wisatawan. Meskipun disediakan sejumlah fasilitas, seperti museum dan pusat informasi untuk memecahsebarkan arus pengunjung, tetap saja bangunan candi menjadi tujuan utama. Padahal idealnya bangunan candi hanya memuat 118 pengunjung agar mereka dapat menikmati candi secara seksama. Pengaturan pengunjung amat penting karena membatasi jumlah pengunjung jelas tidak mungkin.

Selain faktor pariwisata, faktor pendidikan dan ilmu pengetahuan juga melingkupi Borobudur. Relief-relief cerita yang tertera di dinding candi, seperti Jataka, Lalitawistara, dan Gandawyuha, banyak memberikan ajaran moral yang masih relevan untuk manusia masa kini. Ada yang berpendapat Borobudur merupakan kamus arsitektur yang tiada duanya.

Menurut yang lain, konfigurasi tata letak Borobudur merupakan pertanda astronomi yang luar biasa. Yang jelas, Borobudur merupakan objek kajian dari berbagai disiplin ilmu. Bukan hanya oleh kalangan arkeolog dan sejarawan, tetapi juga oleh peminat agama, filsafat, konstruksi, arsitek, dan seni.

Relief kapal mungkin bisa menjadi acuan bagi peneliti-peneliti masa sekarang kenapa pelayaran diperhatikan oleh nenek moyang kita. Relief fauna dan flora membuktikan bahwa kekayaan hayati kita pada masa dulu sungguh luar biasa. Namun faktor pendidikan tetap kurang menonjol, meskipun Borobudur dipandang bermanfaat untuk pembentukan karakter bangsa. Bisa jadi ini karena kemasan informasi yang tersedia kurang menarik.


Konservasi

Adanya peningkatan kepariwisataan, yang berpotensi merusak batu-batu candi, harus diimbangi oleh kegiatan konservasi. Konservasi adalah memelihara atau merawat bangunan dari kerusakan lebih lanjut karena faktor alam dan/atau faktor manusia.

Ketika Candi Borobudur terkena dampak letusan Gunung Merapi, metode dan teknik konservasi berhasil membersihkan debu-debu vulkanik yang menempel pada batu-batu candi. Pembersihan dilakukan secara kering dan secara basah. Selain itu ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kelestarian Candi Borobudur. Banyaknya pengunjung antara lain mengakibatkan tekanan pada daya dukung (carrying capasity), baik terhadap bangunan candi maupun lingkungan.

Konservasi merupakan tindakan pelestarian yang dilakukan untuk memelihara dan mengawetkan benda cagar budaya dengan cara modern maupun tradisional. Konservasi terhadap benda cagar budaya di Indonesia telah mengalami berbagai perkembangan, baik secara metode, teknik, maupun prosedur teknis.

Kerusakan Candi Borobudur banyak diakibatkan ulah manusia, yakni dari unsur khemis (misalnya dari buah-buahan dan sisa-sisa makanan) dan dari unsur mekanis (misalnya gesekan alas kaki pengunjung). Sementara itu keausan batu terjadi pada lantai dan pada undak, termasuk arca Kunta Bima yang sering diraba-raba pengunjung akibat mitos yang beredar.

Karena menyangkut arus pengunjung dan bangunan, tentu saja yang harus diutamakan adalah perlindungan dari gesekan alas kaki pengunjung. Hal ini untuk menghindari kerusakan batu lebih lanjut. Apalagi pada 2013 pengunjung Candi Borobudur mencapai 3,3 juta orang per tahun. Secara teoretis, semakin banyak pengunjung berarti akan semakin banyak menimbulkan kerusakan pada batu.

Pada 1985 penulis pernah mengusulkan pemakaian alas kaki khusus yang lembut atau melapisi batu dengan karpet. Kalau sekarang akan dilapisi dengan kayu, tentu tidak menjadi masalah. Yang penting Candi Borobudur tetap lestari sehingga bermanfaat untuk memperoleh pemasukan ekonomi dan meningkatkan kualitas pendidikan karakter bangsa. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: