Oleh: hurahura | 29 April 2011

Jejak Niaga Barang Komoditi Batavia

Warta Kota, Jumat, 29 April 2011 – Berita tentang pelabuhan Sunda Kalapa muncul dalam berita Belanda pertama kali ditulis oleh Jan Huygen van Linschoten. Ketika muda, van Linschoten bercita-cita ingin mengenal negeri jauh. Mula-mula dia berlayar dari Belanda ke Spanyol (1579). Setelah itu dia berangkat ke India. Selama dalam perjalanan, dia rajin menyalin berbagai sumber dan peta Portugis. Dia pun mencatat apa yang didengarnya dari orang-orang yang pulang dari Asia Tenggara dan Asia Timur ke Goa. Menurut laporannya, pada 1580-an Jakarta masih disebut Sunda Kalapa.

Buku karangan van Linschoten itu berjudul Itinerario, terbit pada 1595. Disebutkan di dalamnya, sebagaimana terjemahan Adolf Heuken, “di sebelah tenggara di seberang ujung Pulau Sumatra, di sebelah selatan khatulistiwa, terletak pulau yang disebut Iava mayor atau Jawa Besar” (Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid 2, hal. 11).

Pada bagian lain dikatakan, “Pulau ini kaya akan beras dan segala macam makanan, ternak (sapi), babi, biri-biri, ayam, bawang, perai, kacang Indië, segala macam rempah seperti cengkeh, pala, dan bunga pala; semuanya dibawa ke Malaka. Pelabuhan utama di pulau ini adalah Sunda Kalapa”. Karena berita tersebut, kaum pedagang di beberapa kota di Belanda mengumpulkan modal untuk bersama-sama mengirim beberapa kapal ke Jawa dan Maluku (1595).

Berapakah harga komoditi ketika itu? Laporan van Linschoten mungkin bisa menjadi perbandingan. Menurutnya, di Sunda tidak ada mata uang selain keping-keping perunggu yang disebut caixa. Caixa berasal dari kata kas’u (bahasa Tamil), berarti sekeping uang. Nilai 200 caixa sama dengan satu sata. Sata, dari kata Jawa Kuno satak, berarti ’dua ratus’. Setiap lima sata atau 1000 caixa, sama nilainya dengan satu crusade Portugis (dari emas) atau tiga gulden karolus uang Belanda (dari perak).

Lada dari Sunda dijual dalam karung dan setiap karung beratnya 45 cate (sama dengan kata Melayu kati) Tionghoa. Setiap cate sama dengan 20 ons Portugis. Harga setiap karung yang dibeli di tempat ini, sekurang-kurangnya 5.000 caixa dan paling tinggi 6.000 atau 7.000 caixa. Bunga pala, cengkeh, pala, kapur barus putih dan hitam, serta kamper dijual menurut timbangan bahar. Bahar sama dengan 3 sampai 4,5 pikul atau sekitar 70 kg.

Setiap bahar Sunda sama dengan 330 cate Tionghoa. Bunga pala yang baik biasanya berharga 100 atau 120 ribu caixa. Cengkeh yang baik harganya menurut persediaan, sebaliknya cengkeh jelek berharga 70 atau 80 ribu caixa untuk satu bahar. Buah pala biasanya dijual 20 atau 25 ribu caixa se-bahar. Kapur barus putih dan hitam berharga 150-180 bahkan 200 ribu caixa se-bahar. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori