Oleh: hurahura | 17 Desember 2014

Melihat Nusantara dari Liyangan

Anyaman bambu dan kayu bekas bangunan muncul dari balik tanah di kaki Gunung Sindoro. Sekepal nasi, beras, tongkol jagung, biji pala, hingga ribuan pecahan keramik memberi bukti peradaban kuno yang hilang. Letusan gunung api sekitar 1.000 tahun silam menjadi sumber petaka itu.

“Orangtua kami memang sering menceritakan di sini pernah jadi pasar dan akan kembali jadi pasar lagi. Kami tahunya, ya, pasar pasir. Ternyata di bawah pasir ini ada peninggalan sejarah,” kata Suyatno Kayat (75), warga Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Bertahun-tahun, Suyatno dan warga Liyangan lain menambang pasir di lereng gunung di tepi dusun itu. Hingga tahun 2008, para penggali pasir menemukan yoni, arca, lumpang, dan sejumlah temuan lain.

Memasuki tahun keempat, penggalian arkeologis di situs itu menemukan dua candi, struktur talud, kayu bekas rumah, dan anyaman bambu terarangkan, benda logam, dan aneka komoditas pertanian. Setidaknya 8.000 pecahan keramik dan tembikar ditemukan. Sebanyak 100 keramik Tiongkok dari Dinasti Tang (abad ke-9) dapat direkonstruksi. Penanggalan pada artefak-artefak ini menunjukkan angka tahun 587 Masehi, 742 M, 846 M, 913 M, dan 971 M.

”Situs Liyangan kemungkinan setingkat kabupaten, bahkan lebih rendah lagi. Namun, keragaman temuan menunjukkan kemajuan peradaban, misalnya kemampuan membuat talud,” kata Ketua Tim Penelitian Situs Liyangan dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto.

Temuan di situs ini, menurut Sugeng, memberikan dua informasi penting. Pertama, tentang interaksi perdagangan dengan bangsa lain. ”Bagaimana barang-barang ini bisa sampai ke permukiman di lereng gunung ini masih misteri. Tetapi, bisa dipastikan pelayaran samudra telah ramai saat itu,” katanya.

Informasi kedua, menurut Sugeng, menguatkan bukti dampak bencana alam terhadap perkembangan peradaban di Nusantara.

Tradisi pelayaran dan bencana di Nusantara ini akan dibahas dalam diskusi ”Jaya Giri Jaya Bahari”, di Bentara Budaya Jakarta, hari ini, Rabu (17/12). Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti dijadwalkan akan membuka sesi diskusi.


Sejarah bencana

Selama ini, sejarah Nusantara lebih banyak ditulis dari sisi pergolakan politik, semisal yang ditulis Denys Lombard (1996), Anthony Reid (1988), MC Ricklefs (2008), dan BHM Vlekke (1945). Aspek bencana hampir tak disebut. Padahal, bencana jelas memiliki daya ubah, seperti terlihat di Aceh, tsunami 10 tahun silam mengakhiri 32 tahun konflik.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo (1966) memang menyinggung bencana alam, tetapi sepintas. Disebutkan, letusan Krakatau pada Agustus 1883 mengubur pertanian di Caringin dan Anyer. Kesengsaraan petani bertemu gerakan sosial Ratu Adil memantik kesadaran rakyat untuk melawan sehingga pada 1888 pecahlah pemberontakan petani Banten.

Peter Carey (2011) juga mencatat, letusan Merapi pada 1822 membangkitkan harapan rakyat akan datangnya Ratu Adil menjelang pecahnya Perang Jawa. Pangeran Diponegoro menganggap letusan Merapi sebagai penanda saatnya melawan telah tiba.

Distorsi sejarah Nusantara dari perspektif bencana ini, salah satunya, karena pengabaian sumber lokal. Ini jelas terlihat saat sejumlah peneliti menemukan adanya gunung api di Pulau Lombok yang pernah meletus hebat tahun 1257, melebihi kedahsyatan letusan Tambora di Sumbawa pada 1815.

Ditemukannya ribuan kerangka manusia di London pada 1258 kemungkinan terkait dengan dampak global letusan gunung yang kemudian disebut Samalas. Temuan ini mengejutkan karena Samalas tidak ada dalam katalog gunung api Indonesia yang menggunakan tahun 1600 sebagai acuan. Tahun 1600 ini berdasarkan kedatangan Belanda di Nusantara. Jadi, sebelum kedatangan Belanda, dianggap tak ada sumber sejarah lain.

Letusan Samalas ternyata terekam dalam Babad Lombok. Disebut dalam babad itu, ”Gunung Rinjani longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah roboh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati…”.

Babad Lombok ini menunjukkan sumber lokal tidak bisa diabaikan. Apalagi, Indonesia sangat kaya naskah kuno yang bisa jadi sumber rujukan tentang bencana, sebagaimana diteliti ahli filologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Oman Fathurahman. ”Kami menemukan sedikitnya 25 manuskrip tentang bencana. Sumber lisan lebih banyak lagi,” katanya. ”Beberapa teks sebenarnya sudah ditemukan lama, tetapi tidak diberi konteks.”

Beberapa manuskrip lain, misalnya, Bo’ Sangaji Kai yang menjadi sumber penting letusan Tambora. Adapun tsunami akibat letusan Krakatau pada 1883 ditulis Muhammad Saleh dalam syair ”Lampung Karam” dan Muhammad Bakir dalam ”Hikayat Merpati Mas”. Sumber lebih tua, Kitab Raja Purwa, tulisan Ronggowarsito, secara rinci mengisahkan Krakatau yang disebut Kapi.

Selain soal gunung, naskah tentang gempa dan tsunami juga banyak ditemukan. Di Sumatera Barat, naskah ini dinamakan Takwil Gempa, di Aceh Takbir Gempa, dan naskah Lindu di Cirebon. Semua naskah ini memaparkan kejadian yang akan mengikuti gempa bumi. Misalnya, dalam naskah dari Lubuk Ipuh, Sumatera Barat, ditulis, ”… Jika gempa pada bulan Rajab, di waktu subuh, alamatnya segala isi negeri bersusah hati dengan kekurangan makanan. Jika di waktu duha gempa itu, alamatnya air laut keras akan datang ke dalam negeri…”.

Andai saja naskah ini ditemukan lebih awal; andai kesaksian para pencerita naskah tersebut didengarkan dan menjadi rujukan kebijakan, mungkin korban gempa bumi dan tsunami Aceh pada 2004 tidak akan mencapai 200.000 jiwa!

Ketika 78.128 warga Pulau Simeuleu merawat ingatan kolektif tentang smong (tsunami), ”hanya” 7 orang tewas pada tsunami sekalipun ribuan rumah hancur. Ini karena mereka paham bahwa smong akan menerjang setelah air laut surut setelah gempa.

Buku biografi yang ditulis M Saleh (1900-an) juga mengisahkan pengetahuan tentang tsunami yang telah dimiliki penduduk Pulau Tello, di dekat Pulau Nias. Beberapa daerah di Nusantara ternyata juga memiliki istilah lokal tsunami.

Misalnya, kata ie beuna dan galoro di Singkil dan Aceh Selatan, gergasi dari laut di Barus, ae mesinuka tanalala di Ende, Flores, serta kisah hilangnya ”Negeri Elpaputih” di Pulau Seram, Maluku.

Kembali ke kaki Sindoro, di Desa Petarongan, Kecamatan Parakan, juga ditemukan prasasti yang mengabarkan bencana. Disebutkan, ada penganugerahan sima (daerah yang dibebaskan pajaknya). Alasannya, ilang dening guntur, yang berarti ’desa itu hilang (atau hancur) karena terkena letusan gunung’. (Ahmad Arif)

(Sumber: Kompas, Rabu, 17 Desember 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: