Oleh: hurahura | 13 Februari 2016

Arjuna, Pusat Situs Purbakala Baru di Jatim

Arjuna-1Candi Sumberawan di Desa Sumberawan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, akhir Januari lalu.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Lereng Gunung Penanggungan di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan telah lama dikenal sebagai “surga” benda peninggalan purbakala di Jawa Timur. Namun, di luar kawasan itu, ada Gunung Arjuna, gunung suci masa lalu, yang juga diyakini sebagai tempat persebaran situs-situs serupa dan hingga kini banyak yang belum terungkap.

Bersama Amel (26) dan Kansa (3), anak dan cucunya, Kamis (28/1) siang, Hariono (45) menebarkan butiran pakan ikan ke kolam yang dihuni beberapa jenis ikan, termasuk Arapaima gigas dan aligator berukuran besar. Laki-laki asal Singosari, Kabupaten Malang, itu menikmati suasana tenang dan rindang di area sumber air Polaman di Desa Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Pepohonan besar, seperti mahoni dan trembesi, menaungi tempat itu. Bebatuan di tengah kolam, yang sepanjang kemarau sempat menonjol ke permukaan, kini kembali terbenam. Di pintu masuk area sumber air pada siang itu tampak dua warga tengah sibuk mencuci pakaian. Di sudut yang lain, seorang lelaki tua sibuk membersihkan dedaunan kering yang jatuh di dekat tandon air buatan Belanda tahun 1900.

“Saya beberapa kali ke sini. Kalau bersama anak dan cucu, ini baru pertama. Ingin mengenalkan sejarah kepada mereka,” ujar Hariono. Ia senang melihat situs peninggalan masa lalu. Beberapa pekan sebelumnya, keluarga itu mengunjungi candi lain di wilayah Malang.

Sumber air Polaman sendiri diyakini merupakan salah satu situs peninggalan masa Majapahit (1293-1500 Masehi) yang mudah dijangkau karena lokasinya di tengah permukiman dan dekat jalan. Namun, menurut warga, arca asli di tempat itu banyak yang hilang. Saat ini yang ada arca dan bebatuan dari tempat lain. Benda-benda itu sengaja dibawa oleh mereka yang peduli.

Beberapa ratus meter dari sumber air (petirtaan) terdapat gua yang diyakini sebagai tempat meditasi pada masa lalu. Saat ini gua yang berada di tepi sungai kecil itu masih sering didatangi oleh mereka yang senang menjalani laku spiritual.

Lereng tenggara Arjuna dengan tinggi 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl) memang memiliki sejumlah situs, baik berupa sumber air, punden, maupun candi. Salah satunya adalah Candi Singosari yang terletak sekitar 7 kilometer dari Polaman. Kompleks candi peninggalan masa Singosari (abad ke-13 Masehi) yang ada di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, ini berdekatan dengan sepasang arca Dwarapala raksasa setinggi 3,7 meter.

Tak jauh dari Candi Singosari terdapat sumber air yang diyakini sebagai tempat pemandian Ken Dedes, putri Singosari. Sedikit naik dari Candi Singosari ke arah Arjuna terdapat Candi Sumberawan di Desa Toyomarto yang bentuknya mirip stupa Borobudur di Jawa Tengah. Candi setinggi 5,23 meter yang dikelilingi mata air itu pun ramai dikunjungi wisatawan domestik, terutama anak muda.

Nuryadi, petugas penjaga Sumberawan, mengatakan, candi dari batu andesit yang dibangun pada masa Hayam Wuruk (Majapahit) itu pernah dipugar oleh Belanda pada 1937. Namun, rekonstruksi bagian puncak stupa belum selesai karena batu banyak yang hilang. “Sebelum rekonstruksi, batu berantakan dan ditumbuhi pepohonan. Karena batu banyak yang hilang, rekonstruksi bagian puncak belum selesai sampai sekarang,” ujarnya.

Kini sumber air di sekitar Candi Sumberawan banyak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar, termasuk instansi dan perusahaan air minum daerah, dengan jumlah pipa 26 buah.


Gunung suci

Peneliti sejarah dan arkeolog dari Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono, mengatakan, Arjuna yang ada di perbatasan Malang, Batu, dan Pasuruan, menjadi salah satu gunung yang dianggap suci pada masa lalu. Gunung lainnya, antara lain Lawu, Wilis, Penanggungan, Kelud, Semeru, dan Kawi. Benda-benda purbakala yang ditemukan kebanyakan merupakan peninggalan Majapahit dan Singosari.

Menurut Dwi, jika tahun 1980-an sedikit situs yang ditemukan, dua dasawarsa terakhir cukup banyak situs baru yang ditemukan di kawasan Arjuna,yang sebelumnya tertutup tanah dan tumbuhan. Temuan terbanyak ada di Blok Tambakwatu yang masuk wilayah Kabupaten Pasuruan, mencapai lebih dari 20 situs.

“Penemuan terjadi secara tak sengaja. Kadang terjadi karena kebakaran lahan, kadang karena tanah longsor. Arjuna ini, kan, dikenal banyak memiliki alang-alang sebagaimana disinggung dalam Prasasti Katinden (1395 M). Alang-alang mudah terbakar saat kemarau. Gara-gara kebakaran terkadang ditemukan situs baru,” ucapnya.

Dwi mencontohkan, konsentrasi situs terbanyak yang telah ditemukan ada di Tambakwatu. Di kawasan itu terdapat deretan situs di sepanjang punggung gunung hingga lereng tengah. Wujudnya mulai dari punden sampai arca megalitik yang dibuat pada masa Majapahit akhir. Dwi pun memperkirakan jumlah situs yang tersebar di Arjuna masih banyak dan belum semuanya ditemukan.

“Rupanya saat Majapahit akhir ada kecenderungan memunculkan kembali tradisi megalitik. WF Stutterheim, arkeolog Belanda, menyebut sebagai neomegalitik,” ucap Dwi.

Arjuna sebagai surga situs sebenarnya tidak kalah dari Penanggungan di sisi utara yang telah lama dikenal sebagai gudang situs. Bedanya, Penanggungan sudah lama dieksplorasi dan diteliti. “Kalau saya menilai, situs-situs di Arjuna lebih besar bentuknya dibandingkan dengan Penanggungan. Unik dan lebih lengkap,” katanya.

Senada dengan Dwi, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto, Nugroho Harjo Lukito, membenarkan jika kemungkinan di Arjuna masih terdapat banyak situs dan sejauh ini baru sedikit yang ditemukan. Catatan BPCB sendiri masih kurang dari 10 situs di Arjuna.

“Di Arjuna banyak, tetapi belum tereksplorasi semua. Hanya satu-dua di sisi jalur pendakian yang sudah ditemukan. Mungkin yang lain masih tertutup ilalang. Arjuna bisa dikatakan sebagai kiblat kedua di Jatim setelah Penanggungan,” ujarnya.

Menurut Nugroho situs yang ada di Arjuna tidak hanya peninggalan masa Majapahit dan Singosari, tetapi juga ada masa Airlangga Kediri (abad ke-11 Masehi) yang lebih tua. Masyarakat masa lalu mengonsepsikan gunung sebagai tempat suci istana para dewa dan leluhur. Karena itu, mereka banyak mendirikan tempat-tempat pemujaan di gunung. (DEFRI WERDIONO)

(Sumber: Kompas, Sabtu, 13 Februari 2016)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: