Oleh: hurahura | 9 Juni 2012

Gunung Salak dan Bencana di Batavia

Warta Kota, Rabu, 23 Mei 2012 – Nama Gunung Salak di Bogor tenar kembali ketika 9 Mei 2012 lalu pesawat Sukhoi menabrak lereng gunung itu. Sebenarnya ’keangkeran’ Gunung Salak sudah terjadi sejak lama. Nama ini selalu dihubungkan dengan bencana ekologi yang pernah terjadi di Batavia. Selama beberapa waktu setelah pendiriannya pada 1619, Batavia populer dengan julukan ’Ratu dari Timur’. Penataan kota yang baik dilengkapi kanal lebar dengan air jernih, menjadikan Batavia banyak dikunjungi pendatang dari berbagai negara. Mereka banyak memuji Batavia. Air dari Sungai Ciliwung dikatakan terbersih di dunia. Hebatnya, air dari sungai ini bisa langsung diminum. Mereka menyamakannya dengan sungai-sungai di Eropa. Maka banyak pelaut selalu mengambil perbekalan air dari Ciliwung.

Sekonyong-konyong pada 1688 Gunung Salak meletus. Dampak letusan terasa luar biasa. Pasir dari gunung ini terbawa hingga Batavia. Akibat tertimbunnya Sungai Ciliwung dari lumpur, maka kualitas air semakin menurun. Bahkan terjadi pendangkalan sungai yang disebabkan oleh pembuangan kotoran, sampah, dan ampas tebu ke dalam Ciliwung.

Pada 1699 terjadi lagi gempa hebat. Hal ini semakin memperparah Ciliwung. Sanitasi menjadi buruk dan bau busuk terjadi pada daerah permukiman, sehingga menimbulkan wabah penyakit. Banyak orang segera meninggalkan kota yang tidak sehat itu. Jadilah Batavia mendapat julukan baru, yakni ’Kuburan dari Timur’, sebagai kebalikan ’Ratu dari Timur’ yang pernah disandangnya.

Tentang Gunung Salak, John Crawfurd menulis demikian, ”…Sungai Ciliwung yang dialirkan melalui sebuah kota dengan kali-kali yang bagus, tak lagi mengalir karena penuh endapan. Keadaan ini menimbulkan wabah malaria, yang terbawa oleh angin darat bahkan ke jalan-jalan di luar kota…”. Lebih lanjut dia mengatakan, ”Keadaan ini diperparah oleh serentetan gempa bumi hebat pada 4 dan 5 November 1699. Gempa tersebut menyebabkan terjadinya longsoran gunung, tempat pangkal sumber air sungai ini. Aliran airnya terpaksa mencari jalan baru dan banyak lumpur terbawa arus…” (Tempat-tempat bersejarah di Jakarta, 1997).

Gunung Salak, menurut catatan naturalis Wallace (1823-1913), merupakan sebuah gunung berapi yang puncaknya terpotong dan bergerigi. Dia mengagumi Gunung Salak ketika berkunjung ke Buitenzorg (nama lama Bogor) pada 1861. Katanya, pemandangan alam di sana sangat indah dan tanahnya subur (Menjelajah Nusantara, 2000). (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori