Oleh: hurahura | 23 April 2016

Gambar Cadas Kuno Dirusak

Sangkulirang-111ARSIP FORUM PEDULI KARST KUTAI TIMUR
Gambar cadas kuno di Liang Nyere, Kecamatan Karangan, Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang rusak karena disemprot cat berwarna merah diabadikan Forum Peduli Karst Kutai Timur (FPKKT), 14 April 2016. Berada di pelosok hutan yang sulit ditembus, gambar cadas kuno ini merupakan salah satu koleksi gambar cadas terbaik dari 2.300-an gambar cadas di kawasan karst Sangkulirang- Mangkalihat.

Aksi vandalisme menimpa salah satu gambar cadas kuno di Liang Nyere, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Orang tak bertanggung jawab menyemprotkan cat merah pada gambar cadas kuno yang berbentuk cap-cap tangan.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Samarinda I Made Kusumajaya memperoleh laporan aksi vandalisme itu pada Selasa (19/4) setelah tim BPCB meninjau ke lapangan. “Gambar cadas yang dirusak adalah salah satu masterpiece gambar cadas kuno berbentuk cap-cap tangan,” ucap Made, Jumat, saat dihubungi dari Jakarta.

Berdasarkan informasi, perusakan diduga dilakukan oleh pembawa barang (porter) yang mengantarkan rombongan wisatawan asing ke Liang Nyere. Perusakan dilakukan dengan menyemprotkan cat berwarna merah ke permukaan gambar cadas yang terdiri atas 50-an cap telapak tangan.

Kawasan Sangkulirang-Mangkalihat Diusulkan Jadi Warisan Dunia

Made heran mengapa ada orang yang sengaja membawa cat semprot ke dalam hutan yang jauh dari permukiman warga tersebut. “Kok, sempat-sempatnya membawa cat semprot ke sana? Untuk apa dia membawa barang-barang seperti itu?” ujarnya.

Sangkulirang-111ARSIP FORUM PEDULI KARST KUTAI TIMUR
Gambar cadas kuno di Liang Nyere, Kecamatan Karangan, Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang rusak karena disemprot cat berwarna merah diabadikan Forum Peduli Karst Kutai Timur (FPKKT), 14 April 2016. Berada di pelosok hutan yang sulit ditembus, gambar cadas kuno ini merupakan salah satu koleksi gambar cadas terbaik dari 2.300-an gambar cadas di kawasan karst Sangkulirang- Mangkalihat.

Menyikapi aksi perusakan ini, BPCB Samarinda berkoordinasi dengan Balai Konservasi Borobudur, Jawa Tengah. Dengan koordinasi itu, BPCB Samarinda berupaya mencari cara untuk memulihkan kembali gambar cadas yang rusak terkena semprotan cat.

Liang Nyere yang masuk dalam Kecamatan Karangan di Kutai Timur merupakan bagian dari kawasan karst Sangkulirang- Mangkalihat. Lokasinya berada di pelosok hutan yang sulit ditembus.


Ribuan gambar cadas

Kawasan karst Sangkulirang- Mangkalihat memiliki sekitar 2.300 gambar cadas kuno. Karena itu, tempat ini ditetapkan sebagai situs bersejarah.

Dosen Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung (ITB), Pindi Setiawan, yang telah bertahun-tahun meneliti gambar-gambar cadas di karst Sangkulirang-Mangkalihat, mengatakan, hasil penanggalan terhadap salah satu gambar cadas menunjukkan gambar kuno tersebut dibuat sekitar 9.800 tahun lalu. Diduga, gambar-gambar cadas di daerah tersebut merupakan hasil karya manusia pra-Austronesia.

“Gambar cadas di Sangkulirang-Mangkalihat cukup tua sehingga tidak mungkin dibuat oleh kelompok penutur Austronesia yang bermigrasi sebelum 5.000 tahun lalu. Diperkirakan, gambar-gambar itu dibuat oleh manusia pra-Austronesia,” kata Pindi.


Menjaga ekosistem

Menurut dia, dalam kasus kerusakan gambar cadas kuno di seluruh Indonesia, 90 persen di antaranya disebabkan oleh faktor alam. Sisanya disebabkan ulah manusia. Dari semuanya, perubahan ekosistem alam menjadi penyebab utama kerusakan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut.

“Di Indonesia, konteks ekosistem menjadi sangat penting, bagaimana mengupayakan agar suhu hutan tetap terjaga. Maka, hal yang diperlukan bukan sekadar mengajak manusia di sekitarnya untuk melindungi gambar-gambar cadas, melainkan juga membuat kebijakan tata ruang yang menjaga ekosistem agar tetap kondusif,” kata Pindi.

Upaya menggandeng masyarakat setempat untuk ikut menjaga situs gambar cadas di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu. Gerakan ini harus terus-menerus dilakukan mengingat kawasan tersebut luas sekali, yaitu sekitar seperempat Provinsi Jawa Barat.

Hasil penentuan batas area sementara di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat menyisakan sekitar 90.000 hektar dari total 105.000 hektar yang diusulkan menjadi warisan dunia Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Jika pemerintah serius, dalam lima tahun ke depan, kawasan situs bersejarah ini bisa segera ditetapkan sebagai warisan dunia. Saat ini, Sangkulirang-Mangkalihat bertengger pada peringkat pertama situs yang diusulkan sebagai warisan dunia. (ABK)

(Sumber: Kompas, Sabtu, 23 April 2016)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: