Oleh: hurahura | 15 November 2013

Setelah Koin Emas, Warga Temukan Sepasang Pedang VOC

PedangGagang pedang yang diyakini peninggalan sejarah itu berlapis emas.

Sinar Harapan, Kamis, 14 November 2013 – Setelah sempat dihebohkan dengan penemuan koin emas oleh perempuan pencari tiram, tiga hari lalu, di Sungai Gampong Pande, Kota Banda Aceh, Rabu (13/11) di lokasi yang sama kembali dihebohkan dengan ditemukannya sepasang pedang kuno yang berlapis emas.

Pedang yang terdapat tulisan VOC tersebut ditemukan seorang warga luar Banda Aceh yang sengaja datang ke lokasi penemuan koin emas untuk ikut berburu harta karun peninggalan Kerajaan Aceh itu.

Namun, hingga saat ini, belum diketahui apakah tulisan VOC yang terdapat di pedang itu merupakan singkatan dari Vereenigde Oostindische Compagnie atau Kongsi Perdagangan Hindia-Timur yang dibentuk Belanda pada 20 Maret 1682 untuk mempersatukan pedagang-pedagang Belanda yang berdagang di Asia.

Gagang pedang yang diyakini peninggalan sejarah itu berlapis emas. Ujungnya terbuat dari emas suasa. Kedua pedang yang memiliki panjang masing-masing sekitar 1 meter itu kini diamankan di kantor Geuchik Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Mengetahui adanya penemuan sepasang pedang emas itu, ribuan warga dari berbagai daerah di Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan daerah lainnya di Aceh, memadati kantor Kepala Desa Gampong Pande untuk melihat langsung pedang tersebut.

Kepala Desa Gampong Pande, Amiruddin menyebutkan, pedang emas tersebut untuk sementara diamankan di kantor kepala desa sebelum diserahkan kepada pemerintah. Pengamanan dikarenakan benda tersebut merupakan benda yang memiliki nilai sejarah yang tinggi.

“Pedang emas itu penting diselamatkan agar dapat dilakukan penelitian tentang asal usul pedang itu, atau dapat disimpan di museum guna penelitian,” ujar Amiruddin.

Sementara itu, Pemerintah Kota Banda Aceh, sejak Rabu siang, telah menutup lokasi penemuan koin emas dan tidak ada warga yang diizinkan mencari harta karun peninggalan Kerajaan Aceh tersebut. Keputusan penutupan lokasi itu dilakukan untuk menyelamatkan situs sejarah yang dikhawatirkan hilang atau rusak karena telah banyak warga yang mencari koin emas di lokasi tersebut.

“Kami sudah memerintahkan agar lokasi penemuan koin emas ditutup dan warga tidak boleh lagi mencari koin emas di sungai itu. Di sana banyak terdapat artefak penting yang membuktikan adanya Kerajaan Aceh. Kalau terus dirusak, banyak artefak termasuk kuburan kuno akan rusak,” tutur Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.

Illiza juga menyebutkan, Pemkot Banda Aceh bersama pemerintah Aceh akan mendata koin-koin emas yang ditemukan warga kemudian akan disita dan untuk penemu akan diberi penghargaan berupa kompensasi. Koin-koin itu merupakan artefak Aceh yang tidak boleh dibisniskan atau dikoleksi secara pribadi karena melanggar undang-undang.

“Warga yang saat ini menyimpan koin-koin harus melaporkan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banda Aceh. Perangkat Gampong (Desa) Pande diperintahkan mendata siapa saja yang menemukan koin yang diyakini dirham atau mata uang Kerajaan Aceh yang terbuat dari emas,” ujar Illiza.

Ia juga mengatakan akan segera menggelar rapat dengan perangkat Banda Aceh dan perangkat kecamatan serta desa untuk membahas tindak lanjut penyelamatan koin emas yang ditemukan warga. “Dalam rapat itu nantinya ikut dibicarakan besaran kompensasi dan cara pembayarannya kepada warga yang menemukan,” kata Illiza. (Junaidi Hanafiah)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori