Oleh: hurahura | 12 Agustus 2012

Warga Batam Protes Pencemaran Laut

KOMPAS, Selasa, 7 Agustus 2012 – Puluhan warga Pulau Buluh berunjuk rasa di Kantor Walikota dan DPRD Batam, Kepulauan Riau, Senin (6/8). Mereka memprotes pencemaran yang diduga dilakukan salah satu galangan kapal.

Warga membentangkan aneka poster dan spanduk berisi tuntutan mereka. Tuntutan itu disampaikan melalui orasi yang disampaikan bergantian. ”Usut pencemaran limbah. Kami susah cari ikan gara-gara pencemaran,” ujar perwakilan warga, Ruslan.

Mereka menuding kerusakan itu disebabkan aktivitas galangan kapal di sekitar Pulau Buluh. Tudingan itu didasari temuan warga ada aliran minyak dari arah galangan ke laut. Minyak itu diduga merusak ekosistem laut di sekitar Pulau Buluh. Akibatnya, warga kesulitan mencari ikan.

”Kami sudah berkali-kali mengadukan masalah ini kepada pemerintah dan DPRD, tapi sampai sekarang belum ditanggapi. Lama-lama kami mati kelaparan karena tidak bisa cari ikan,” ujar Ruslan.

Diungkapkan, pihaknya pernah bertemu petugas Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Batam. Saat itu, petugas membenarkan klaim warga soal dugaan pencemaran. Namun, sampai sekarang tidak ada tindak lanjut dari pemeriksaan itu. ”Jangan-jangan perusahaan itu dilindungi oleh oknum di pemerintahan,” tegas Ruslan.

Kepala Bapedal Batam Dendi Purnomo mengakui, pihaknya pernah meneliti contoh air dari laut di sekitar Pulau Buluh. Namun, dalam contoh itu tidak ditemukan pencemaran. ”Tidak ada limbah atau bahan berbahaya lainnya,” tuturnya.

Ia membenarkan, di sekitar Pulau Buluh ada pemotongan kapal oleh PT Shintai Industri Shipyard (SIS). Namun, aktivitas itu tak menimbulkan pencemaran seperti disebut warga. Meski demikian, aktivitas perusahaan itu sudah dibekukan. Pembekuan itu disebabkan izin dari Kantor Pelabuhan Batam sudah habis. ”Kalau mereka sudah memperpanjang izin, boleh beraktivitas lagi. Kalau semua sudah terpenuhi, kami tidak punya alasan melarang,” ujarnya.

Sementara itu, potensi peninggalan arkeologi bawah laut di Sumatera Barat berupa kapal karam bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata bahari. Namun, hingga sejauh ini belum termanfaatkan karena sejumlah kendala.

Peneliti Arkeologi Maritim dan Kepala Subseksi Pelayanan Teknis Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan, Nia Naelul Hasanah, Senin (6/8), mengatakan, sedikitnya delapan lokasi memiliki potensi tersebut. Beberapa di antaranya terdapat di perairan sekitar Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Ada pula gosong kapal di kedua wilayah itu. (RAZ/INK)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori