Oleh: hurahura | 14 September 2014

Jejak Manusia Karst Goa Kidang

Peradaban Masa Lalu Gua KidangKOMPAS/P RADITYA

Anggota tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta mengekskavasi kerangka manusia prasejarah di Goa Kidang, Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, awal Juni. Mereka meneliti jejak manusia prasejarah di goa tempat hunian manusia prasejarah sekitar 9.000 tahun lalu itu.

Kerangka remaja berusia 14-19 tahun itu ditemukan meringkuk di kedalaman 80 sentimeter di Goa Kidang, Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Warga sekitar menyebutnya manusia karst Goa Kidang karena dia ditemukan di goa pegunungan karst, Pegunungan Kendeng Utara.

Tinggi kerangka remaja yang belum diketahui jenis kelaminnya itu diperkirakan 160-170 cm. Di sekitar kerangka itu ditemukan pula susunan bongkahan batu gamping, remukan remis cangkang, batu gamping berwarna merah, dan fragmen vertebrata. Dari hasil uji karbon, usia kerangka itu diperkirakan 7.770-9.600 tahun.

Penemuan kerangka tersebut menegaskan keberadaan manusia prasejarah yang pernah menghuni goa-goa di pegunungan karst pada zaman Holosen (9560-9300 SM). Inilah sepenggal kisah hidupnya….

Goa Kidang berada di kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara yang berjarak 35 kilometer dari kota Blora. Goa itu berupa ceruk gunung karst sedalam kira-kira 15 meter dari permukaan tanah bukit karst. Untuk masuk ke goa harus menuruni jalan setapak di areal hutan jati.

Goa itu mempunyai sirkulasi matahari yang baik dan ruangan luas dengan lebar mulut goa 18 meter. Di dalamnya ada ceruk- ceruk dengan stalaktit dan stalagmit. Dahulu, goa tersebut merupakan tempat keluarnya sungai bawah tanah purba.

Penelitian manusia purba dan prasejarah di Goa Kidang itu dimulai Balai Arkeologi (Balar) pada 1997. Penelitian baru mengerucut ke kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara pada 2005, 2006, dan 2009.

Pada 2009, Tim Pola Okupasi Goa Kidang Balar Yogyakarta menemukan artefak cangkang kerang, fragmen kerang, dan tulang binatang. Hal itu mengindikasikan goa tersebut pernah menjadi hunian manusia pada kurun waktu tertentu.

Ketua Tim Pola Okupasi Balar Yogyakarta Indah Asikin Nurani mengatakan, manusia saat itu tidak serampangan ketika mempertimbangkan goa atau ceruk sebagai hunian. Mereka memilih goa berdasarkan keamanan dan ketersediaan kebutuhan pokok.

Selain artefak cangkang kerang, fragmen kerang, dan tulang binatang, tim menemukan pula fragmen tulang dan gigi Homo sapiens. Penemuan terpenting tim ialah tiga kerangka manusia prasejarah pada 2011- 2013 di kedalaman tanah 80-150 cm. Salah satunya ditemukan dalam posisi meringkuk, seperti bayi dalam rahim.

”Dari ketiga temuan tiga kerangka itu, tim mempertajam riset tentang pola hidup beserta aspek budaya manusia pada zaman itu,” kata Indah.

Berdasarkan Laporan Penelitian Arkeologi: Pola Okupasi Gua-Gua Hunian Prasejarah Kawasan Pegunungan Kendeng Utara Kabupaten Blora (Balar Yogyakarta, 2005), pola adaptasi manusia karst Goa Kidang untuk mempertahankan hidupnya merujuk pada musim. Pada musim kemarau, mereka mengonsumsi binatang tak bertulang belakang, seperti aneka jenis kerang dan siput.

Itu karena lingkungan sekitar mereka pada waktu itu berupa rawa-rawa. Pada zaman itu, Pegunungan Kendeng Utara merupakan kawasan perbukitan yang terbentuk dari penurunan permukaan laut dan di sekitarnya terdapat rawa-rawa dan sungai purba hasil pengendapan laut dangkal. Pada musim hujan, mereka mengonsumsi hewan bertulang belakang. Itu terbukti dari temuan artefak dan ekofak (sisa makanan) hewan darat, terutama kerbau purba.


Teknologi tinggi

Tim tidak hanya menggali pola adaptasi manusia prasejarah itu. Temuan kerangka manusia karst tersebut juga membuka pengetahuan baru tentang kecerdasan manusia prasejarah. Mereka mampu membuat alat berburu dan meramu dengan teknologi yang lebih maju dibandingkan dengan temuan jenis Homo sapiens lain. Mereka juga membuat perhiasan dari cangkang kerang, terutama manik-manik.

Menurut Indah, mereka membuat peralatan berbahan cangkang kerang dan tulang binatang. Alat dari cangkang misalnya serut, serut bergerigi dan serut lancipan, serta bandul. Adapun alat dari tulang meliputi lancipan, anak panah, spatula, dan alat pengasah. Teknologi pembuatan alat cangkang dan tulang di Goa Kidang lebih tinggi daripada wilayah lain. Mereka pandai memilih bahan baku alat dan menggunakan alat untuk membuat alat lain.

”Mereka membuat alat-alat berburu dan meramu dari cangkang dan tulang dengan cara membentuk dan mengasahnya menggunakan alat batu. Pada alat dari tulang, beberapa artefak yang ditemukan menunjukkan adanya pembakaran untuk pengerasan alat,” katanya.

Menurut Indah, tim menemukan ritual penguburan manusia prasejarah itu. Mereka mengenal tentang hidup dan mati yang disimbolkan dengan penguburan jenazah yang menghadap ke barat atau posisi matahari terbenam.

Mereka juga mengenal tata cara merawat jenazah. Di sekitar kerangka mereka, tim menemukan remukan batu kapur merah dan remis cangkang kerang. ”Mereka juga meletakkan jenazah dalam posisi terlipat atau meringkuk, seperti bayi di dalam kandungan,” ujarnya.

Di Goa Kidang, tim menemukan pula fragmen gigi gajah purba jenis stegodon dan elephas. Menariknya, habitat hewan itu bukan di Pegunungan Kendeng Utara, melainkan di Bengawan Solo purba, Blora, dan Gunung Patiayam, Pati.

”Kami akan melanjutkan penelitian itu. Seberapa jauh daya jelajah manusia karst Goa Kidang bereksplorasi dalam mempertahankan hidupnya? Apakah mereka mengenal barter dengan manusia-manusia prasejarah di sekitar Bengawan Solo purba dan Patiayam?” kata Indah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Informasi, dan Komunikasi Kabupaten Blora Suntoyo mengatakan, pemerintah menjadikan lokasi temuan sebagai kawasan lindung budaya. Pemerintah dan masyarakat setempat telah diminta menjaga peninggalan prasejarah itu.

Sebelumnya, di Blora ditemukan banyak fosil binatang purba dan manusia prasejarah Homo soloensis. Temuan manusia Goa Kidang diharapkan bisa memperkaya pengetahuan perjalanan manusia purba dan prasejarah.

”Kami berharap Blora menjadi pusat studi manusia purba dan prasejarah untuk melengkapi studi manusia purba di Situs Sangiran, Sragen,” ujarnya. (HENDRIYO WIDI)

(Sumber: Kompas, Minggu, 14 September 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: