Oleh: hurahura | 25 April 2012

Jejak Sejarah Portugis di Jakarta (2)

Warta Kota, Rabu, 25 April 2012 – Jejak sejarah Portugis di Jakarta tampak dari Gereja Sion di Jakarta Kota dan Gereja Tugu di Jakarta Utara. Bahkan sampai kini Kampung Tugu menjadi tempat tinggal orang-orang keturunan Portugis. Mereka umumnya pandai memainkan musik keroncong.

Beberapa peninggalan Portugis yang ditemukan di Indonesia kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Antara lain berupa lonceng Portugis yang dipersembahkan oleh Raja Muda India kepada Sultan Mataram (1633) serta botol dan piring porselen dengan emblem kerajaan Portugis.

Peninggalan Portugis yang cukup populer di Jakarta adalah Meriam Si Jagur, yang sekarang ditempatkan di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Konon meriam itu semula berada di Malaka, lalu dibawa ke Jakarta oleh tentara Belanda. Meriam Si Jagur berukuran besar dan indah. Meriam itu dirancang khusus seperti kepalan tinju dengan jempol menyembul di antara telunjuk dan jari tengah. Di Indonesia posisi demikian melambangkan hubungan kelamin.

Karena unik dan dipenuhi mitos, maka bertahun-tahun lamanya para wanita yang belum memperoleh momongan datang membawa kembang kepada Si Jagur. Mereka berasal dari berbagai tempat di Jakarta dan luar kota. Konon, kembang-kembang itu harus disajikan pada hari Kamis dan si wanita harus duduk di atas pucuk meriam itu. Dulu, untuk menghilangkan takhyul, meriam Si Jagur pernah disimpan di gudang Museum Nasional. Namun petugas museum hampir selalu kewalahan karena para wanita sering merengek-rengek agar diizinkan duduk di atas meriam itu.

Pengaruh Portugis dalam bidang nonfisik terlihat pada nama atau bahasa. Pastinya masyarakat Jakarta tidak asing dengan Jalan Roa Malaka di Jakarta Kota sekarang. Roa berasal dari bahasa Portugis Rua, yang berarti jalan. Dalam bidang kesenian, orang-orang Kampung Tugu mempunyai pengaruh kultural yang kuat di Jakarta. Ingat lagu “Nina Bobo” yang sering dinyanyikan untuk menidurkan anak kecil? Ternyata, Nina berasal dari kata Portugis Menina (anak gadis kecil).

Dalam bidang bahasa, banyak kata Portugis secara resmi diterima dalam bahasa Indonesia. Misalnya bendera (dari kata Portugis, bandeira), gereja (igreja), keju (queijo), palsu (falso), renda (renda), sepatu (sapato), dan terigu (trigo). Belum lagi nama-nama tempat, istilah, dsb di seluruh Nusantara. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. With havin so much content do you ever run into any issues of plagorism or copyright
    violation? My blog has a lot of unique content I’ve either authored myself or outsourced but it looks like a lot of it is popping it up all over the internet without my authorization. Do you know any ways to help prevent content from being ripped off? I’d certainly appreciate it.

  2. Hello there. I’m wondering if you may be interested in doing a link exchange? I notice your website: https://hurahura.wordpress.com/2012/04/25/jejak-sejarah-portugis-di-jakarta-2/ and my website are primarily based around the same subject matter. I’d
    love to switch links or perhaps guest author a article for
    you. Here is my personal contact: charmainmenendez@gawab.
    com. Please be sure to contact me if you’re even remotely interested. Thanks for your time.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori