Oleh: hurahura | 3 Agustus 2010

Pantai Barat Sumatera: Peradaban yang Tak Dirawat

KOMPAS – Jumat, 30 Juli 2010 – Bagi Tuanku Abdul Rahman (35), tidak mengagetkan ketika sisa-sisa bangunan tua di Kota Singkil Lama tidak mudah dilihat lagi. Berbagai sisa bangunan harus dicari secara cermat karena tersembunyi di antara pepohonan dan tebalnya lumpur serta pasir laut yang menyembur daratan.

“Bila beruntung, sebenarnya mudah melihat sisa-sisa bangunan itu. Kalau datang pagi hari atau pada saat pasang surut, sisa bangunan itu bisa terlihat. Kalau sekarang, air laut menutupnya,” ujar Abdul Rahman, panggilannya sehari-hari, pada suatu minggu, beberapa waktu lalu.

Memakai perahu robin membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di kota tua itu dari Pelabuhan Kilangan, Singkil. Melawan arus Sungai Alas yang membelah Singkil menjadi dua wilayah dan tepian rawa, ditambah berjalan kaki menyusuri tepian pantai Kota Singkil Lama, kita akan tiba di “pintu gerbang” kota itu. Bila beruntung, Anda bisa dengan mudah menemukan sisa-sisa bangunan lama, seperti fondasi rumah, keramik, mata uang kuno, botol-botol kaca, hingga ke batu-batu yang diduga sebagai nisan para penghuni kota tersebut.

Lengan dan betis harus bersiap perih karena duri yang tumbuh pada tangkainya. Bahkan, pada sebatang pohon yang tumbuh di sekitar lokasi situs tumbuh duri pada batangnya.

Abdul Rahman mengatakan, tidak ada yang peduli dengan kondisi bangunan-bangunan tua serta berbagai peninggalan di lokasi tersebut.

Tak ada satu pun pegawai dari instansi pemerintah yang pernah mengunjungi situs ini. Yang pernah berkunjung, katanya, hanya wisatawan yang sangat tertarik dengan sejarah Singkil. “Sekarang, kondisinya makin tidak terawat. Sama seperti kota Singkil yang saya tinggali sekarang ini,” tuturnya.

Jika Singkil Lama tidak didiami warga, Kota Singkil baru, meski didiami oleh warga dan pusat pemerintahan ada di sini, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Kota ini mengalami penurunan tinggi permukaan tanah sekitar 1,5 meter pascagempa, akhir Desember 2004 lalu.

Akibatnya, meski hujan hanya turun sebentar, wilayah Kilangan seperti digenangi air setiap saat. Air yang berasal dari rawa bercampur dengan air hujan dan sungai yang melimpah ke perumahan warga.


Setali tiga uang

Setali tiga uang dengan kondisi di Kota Singkil, hal yang sama juga terjadi pada Kota Barus di Tapanuli Tengah dan Kota Natal, Mandailing-Natal. Kedua kota ini masuk dalam wilayah administratif Provinsi Sumatera Utara. Masing-masing kota memiliki peran sentral pada zamannya masing-masing.

Menurut Sahfron (47), warga Natal, benteng-benteng yang ditemui di Natal, seperti benteng Portugis dan Jepang, membuktikan kota ini memiliki peran yang cukup signifikan pada masa lalu. Mirip dengan Barus dan Singkil, Kota Natal yang terletak pada mulut pertemuan sungai dengan laut memiliki posisi yang strategis dalam bidang pertahanan serta perdagangan. Begitu juga dalam penyebaran agama, baik Islam, Kristen, maupun Buddha.

Beberapa peninggalan bangunan-bangunan kuno, seperti meriam, brankas besi, dan bangunan kayu, masih terlihat di sekeliling alun-alun Kota Natal. Namun, hanya sebagian yang masih terawat. Sumur tua yang diduga dibuat oleh Multatuli, yang diperkirakan dibangun pada pertengahan 1840 M, dirawat seadanya. Bangunan yang dulu digunakan Multatuli saat menjadi wedana di kota ini, sekarang masih digunakan sebagai pusat kesehatan masyarakat. Bangunan benteng dan menara pandang sudah berubah jadi rumah warga atau tertutup rerumputan.

Menyusuri pantai Natal pun harus hati-hati sebab salah-salah selain menginjak sampah, (maaf) kotoran manusia yang dibuang di pantai juga bisa terinjak. Kondisi ini semakin parah jika kita melintas di tepi pantai menuju arah pasar Natal. Ranjau-ranjau ini semakin banyak.

Tidak hanya anak kecil, orang dewasa pun tidak malu-malu membuang kotorannya di sana. Kotoran itu dibuang tidak hanya di tepi pantai, tetapi juga tidak jarang di sela-sela tempat masyarakat nelayan menjemur ikan.

Kondisi Barus tak lebih baik dibandingkan dengan Natal. Barus, dalam sejarah, dikenal sebagai penghasil kapur barus atau kamper, bahan untuk mengawetkan mayat atau pewangi kamar. Namun, menurut Habibudin Pasaribu (56), tokoh masyarakat Barus, kayu penghasil kapur barus sudah sulit ditemui.

“Kalaupun ada, letaknya sudah tersembunyi. Menemukannya tidak dalam waktu singkat. Butuh dua atau tiga hari berjalan ke dalam hutan,” ujarnya. Agar selamat saat menebang pohon tersebut, masyarakat biasanya melakukan upacara adat agar selamat selama melakukan penebangan.

Sebagian besar masyarakat Barus bekerja sebagai nelayan dan pegawai negeri sipil. Jufri (37), salah satu warga, mengatakan, kota itu tak banyak mendapatkan sentuhan pembangunan. Satu-satunya bangunan terbaru dalam beberapa tahun terakhir adalah stasiun pengisian bahan bakar umum. Kemegahan Barus dalam catatan sejarah para pengelana tidak tampak.


Dikerdilkan

Untuk mencapai ketiga kota itu tidaklah mudah. Meski jarak dari Dolok Sanggul ke Barus kurang dari 100 kilometer, para sopir tidak merekomendasikan untuk berjalan pada malam hari dan dalam kondisi hujan. “Jalannya buruk dan curam. Apalagi bagi yang belum kenal kondisi jalan,” ujarnya, salah satu sopir angkutan yang ditemui di Dolok Sanggul. Apabila malam telah menjelang, mereka menyarankan agar menginap di Pakkat. Setidaknya dibutuhkan waktu dua jam lagi untuk mencapai Barus dari arah Pakkat meski jaraknya kurang dari 30 kilometer.

Kehati-hatian juga diperlukan saat bepergian ke Kota Natal dari Panyabungan, ibu kota Mandailing Natal. Meski jarak keduanya hanya sekitar 100-an kilometer, tetapi untuk mencapai Natal dibutuhkan waktu lebih dari empat jam. Jalan rusak, berlubang, dan dialiri air dari Taman Nasional Batang Gadis karena tidak ada drainase pada kanan-kiri jalan, membuatnya kondisi jalan semakin rapuh. Lalu lalang truk-truk pengangkut minyak sawit mentah melintasi jalan ini membuat kondisi jalan semakin buruk.

Berbeda dengan kedua kota lainnya, jalanan menuju Singkil dalam kondisi baik. Akan tetapi, dibandingkan dengan saudara mudanya yang baru saja berpisah, yaitu Subulussalam, Singkil terlihat tertinggal beberapa langkah. Posisinya yang berada di pojok paling selatan Aceh membuatnya terlihat terisolasi.

Ery Soedewo, arkeolog Balai Arkeologi Medan, mengatakan, posisi kota-kota tersebut memang menguntungkan pada zamannya. Namun, perkembangan zaman membuat kota-kota itu tidak diperhitungkan lagi dalam percaturan politik dan ekonomi daerah. “Peradaban telah dikerdilkan,” tuturnya.

Kepala Departemen Antropologi Universitas Sumatera Utara Zulkifli Lubis menerangkan, setidaknya ada tiga penyebab mati surinya kota-kota peradaban sejarah Sumatera itu dimulai. Pertama, perubahan moda transportasi dari moda transportasi laut ke darat. Pembangunan jalan yang dilakukan oleh Belanda di kota-kota tersebut menyebabkan masyarakat beralih menggunakan mobil atau kereta api dibandingkan dengan perahu atau kapal yang memiliki tingkat risiko kecelakaan lebih tinggi.

Penyebab kedua, tutur Zulkifli, kota-kota tua asal peradaban ini tidak diberi peran sebagai pusat pemerintahan. Pemerintah memilih tempat lain sebagai pusat pemerintahan. “Ini terkait dengan masalah topografi kawasan-kawasan tersebut. Mudah dijangkau atau tidak,” tuturnya.

Penyebab terakhir, menurutnya, adalah minimnya kesadaran sejarah para pengambil keputusan untuk merawat kota-kota tua dan memiliki peran bagi sejarah serta peradaban wilayah. Berbeda dengan pemerintahan di Penang atau Malaka, Malaysia, yang memiliki kesadaran sejarah yang tinggi. “Mereka di sana menjadikan sejarah sebagai aset wisata. Tidak ditinggal dan ditelantarkan begitu saja,” tuturnya.

Zulkifli mengkhawatirkan akan hilangnya peradaban Nusantara di kota-kota tua di pantai barat Sumatera tersebut. Minimnya perhatian pemerintah dan ketidakmampuan masyarakat untuk bangkit perlahan-lahan akan membuat kota-kota itu lenyap.

Hal yang sama itulah yang juga dikhawatirkan oleh Habibudin, Jufri, Shafron, dan Abdurrahman. Perlahan-lahan kota mereka akan lenyap. (MAHDI MUHAMMAD)


Responses

  1. tolong ,, foto2 makam yang tertinggal di barus di tunjukkan ke publik ,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: