Oleh: hurahura | 5 Maret 2015

Setahun Lebih, Candi Losari Terendam

Candi Losari TerendamKOMPAS/REGINA RUKMORINI

Candi Losari di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terendam air sekitar 2 meter, Jumat (27/2). Kondisi itu sudah berlangsung lebih dari setahun dan mengesankan candi seolah-olah berada di tengah-tengah kolam. Sejumlah ikan tampak berenang di sekitar bebatuan candi tersebut.

Candi Losari di Dusun Losari, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, masih terendam air. Genangan dari tiga sumber air di sekitarnya itu biasanya surut beberapa hari di pengujung musim kemarau.

Juru pelihara Candi Losari, Surahman (60), mengatakan, kondisi ini sudah berlangsung setahun lebih. “Tinggi air yang merendam candi berkisar dua hingga tiga meter,” ujarnya, pekan lalu.

Candi Losari berada di tengah kebun salak, dengan posisi 4,5 meter di bawah areal di sekitarnya. Dari pemantauan Kompas, tingginya genangan air mengesankan batu-batu candi berada di tengah kolam. Beberapa ikan berenang di sekitarnya. Sebagian batuan candi yang terendam atau terkena air terlihat berwarna lebih hitam dan berlumut.

Air mulai muncul dan menggenang saat Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) menggali tanah sedalam 4,5 meter untuk mencari dasar candi pada Oktober 2013. Ketika itu, air yang mengalir ke luar sudah cukup merepotkan dan menghambat proses penggalian.

“Karena banyaknya air yang keluar, saat itu pihak ketiga yang melakukan penggalian terpaksa mengerahkan empat mesin diesel untuk menyedot air,” ujarnya.

Surahman mengatakan, BPCB akan mengatasi hal tersebut dengan membuat saluran air. Dengan demikian, air dari sumber air bisa diarahkan untuk mengaliri lahan pertanian dan tidak lagi menggenangi Candi Losari.


Di kebun salak

Candi Losari pertama kali ditemukan pada tahun 2004 di kebun salak milik salah seorang warga, Badri. Halimah (27), salah seorang warga Dusun Losari, sekaligus anak Badri, mengatakan, ketika itu belum terlihat ada sumber air di sekitar candi.

Namun, setelah dilakukan beberapa kali penggalian oleh Badan Arkeologi Yogyakarta tahun 2007, air dari dalam tanah merembes ke luar. “Ketika itu, air mengalir ke luar setelah penggalian sedalam satu meter,” ujarnya.

Halimah mengatakan, Dusun Losari memang merupakan daerah yang memiliki banyak sumber air. Jika ingin membuat sumur, warga biasanya cukup menggali tanah sedalam 3 hingga 4 meter saja.

Candi Losari merupakan candi Hindu yang dibangun pada abad VIII-IX Masehi. Candi ini sebelumnya tertimbun material endapan lahar dari Gunung Merapi. Candi ini memiliki satu candi induk berukuran 4,5 x 4,5 meter persegi dan tiga candi perwara. (EGI)

(Sumber: Kompas, Senin, 2 Maret 2015)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: