Oleh: hurahura | 4 November 2010

Naskah Kuno Dijual Bebas

Mediaindonesia.com, Kamis, 4 November 2010 – NASKAH-NASKAH kuno yang menjadi bagian dari catatan sejarah Indonesia marak dijual ke luar negeri. Faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa pemilik atau ahli waris naskah menjual kepada pihak asing.

“Kebanyakan para pemilik naskah lebih memikirkan uang daripada nilai penting naskah tersebut,” ujar Titik Pudjiastuti saat pengukuhannya menjadi Guru Besar Tetap pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), di Depok, kemarin.

Dalam pidato pengukuhannya berjudul ‘Naskah dan Identitas Budaya’, Titik menilai penjualan naskah-naskah kuno itu merupakan bagian dari penjajahan budaya secara perlahan. Apabila hal itu terus dibiarkan, nantinya akar budaya bangsa Indonesia akan tercerabut. Generasi muda pun akan kehilangan identitas bangsa.

Menurutnya, naskah kuno dari Riau, Kutai, dan Aceh paling banyak dibeli. Umumnya yang diborong adalah naskah-naskah sastra kuno, legenda, sejarah, dan cerita.

“Orang Indonesia itu selalu kalah dengan yang namanya uang,” seloroh Titik.

Dia menyebutkan untuk harga serat Chentini yang diklaim pemiliknya sebagai naskah terlengkap di dunia dihargai Rp2,5 miliar. Itu pun setelah diteliti, ternyata naskah salinan saja, bukan aslinya.

Penjualan naskah-naskah kuno Melayu, lanjut Titik, marak terjadi sejak dua tahun lalu. Pembeli berani menawar hingga puluhan juta rupiah. Itu dilakukan oleh perorangan maupun pemerintah,” tambahnya.

Malaysia merupakan salah satu negara yang paling gemar membeli naskah-naskah sejarah Indonesia.

Agar penjualan naskah tidak berlanjut, Titik menyarankan para pemilik naskah memberikan naskahnya kepada negara untuk dilestarikan. Sebagai kompensasi, pemerintah memberikan penghargaan sepantasnya.

“Bila mereka tak mau menyerahkan, pemerintah memberikan tempat penyimpanan, sehingga si pemilik naskah bisa menjaganya dari kerusakan.

Budayawan asal Riau Al Azhar beberapa waktu lalu mengatakan, dalam tiga tahun terakhir, sekitar 60 naskah Melayu kuno abad ke-19 Masehi sudah beralih tangan ke Malaysia.

“Yang paling gemar memburu naskah kuno adalah para akademisi Malaysia. Sebagian besar di daerah Kepulauan Riau, seperti di Pulau Lingga, Bintan, dan Penyengat,” kata Al Azhar.

“Sekarang tinggal bagaimana keseriusan pemerintah kita untuk menyelamatkan naskah-naskah tersebut. Pemerintah kita masih melihat budaya ini sebagai identitas belaka, sementara Malaysia sudah menganggapnya komoditas,” tandas Al Azhar.

Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan mengakui bahwa para pemburu naskah kuno Melayu dari Malaysia berani membayar mahal.

Untuk secarik naskah kuno yang asli, ujar Suryatati, Malaysia berani bayar hingga Rp50 juta. Karena itu, masyarakat pun lebih suka jual ke Malaysia.

“Kalau kompensasinya sebesar itu mana kami (pemerintah daerah) sanggup?” ujar Suryatati beberapa waktu lalu di Jakarta. (*/BH/X-8)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori