Oleh: hurahura | 26 Februari 2010

Lidah Api Tugu Monas Perlu Dikonservasi

Bila Anda pernah melihat Tugu Monas, mungkin Anda akan kagum karenanya. Dari kejauhan tugu itu kelihatan bagus bentuknya.

Banyak orang kerap memandangi puncak Tugu Monas yang berkilauan, apalagi bila ditimpa sinar matahari. Tugu Monas yang mempunyai nama panjang Monumen Nasional, merupakan ciri khas kota Jakarta.

Coba kalau didekati, kondisi lidah apinya sangat mengkhawatirkan. Tidak lagi memancarkan warna keemasan, tetapi redup dimakan cuaca, waktu, dan faktor lain.

Lidah api Monas memang kelihatan kecil apabila dilihat dari kejauhan. Namun ukuran sebenarnya relatif besar, terbuat dari bahan dasar perunggu seberat kira-kira 14,5 ton dengan ketinggian 14 meter dan lebar/panjang 5 meter. Yang menjadikannya mentereng adalah permukaan luarnya dilapisi emas murni seberat 32 kilogram.


Korosi

Lidah api Monas pernah diperbaiki pada 1990-an oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Menurut hasil penelitian, pencemar terbesar Monas adalah debu, kotoran, dan korosi (karat). Sementara faktor penyebab kerusakan terdiri atas faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor intern berasal dari lingkungan benda itu sendiri. Karena dibuat dari logam, maka terjadi proses korosi. Faktor ekstern berasal dari luar benda dan terbagi lagi menjadi faktor mekanis (getaran mesin lift, kendaraan bermotor, dan kehadiran pengunjung yang terlampau banyak), fisis (debu, kotoran, sinar matahari, angin, air hujan, dan kelembaban udara), khemis (gas-gas pencemar yang terdapat dalam udara), dan vandalisme/grafitisme (goresan dengan alat tajam dan coretan dengan alat tulis).

Di dalam arkeologi dikenal istilah konservasi, yakni tindakan penyelamatan untuk mencegah atau menghambat proses kerusakan lebih lanjut. Tindakan yang dilakukan terhadap Monas waktu itu adalah pembersihan debu yang melekat pada permukaan lidah api, pengupasan lapisan pelindung, dan pelepasan hasil korosi.

Tindakan perbaikan juga pernah dilakukan di sana, antara lain menutup lubang-lubang kecil pada permukaan lidah api dengan larutan epoxy resin, menyambung lempengan perunggu yang terlepas menggunakan araldite, dan mengganti bagian-bagian konstruksi yang mengalami korosi berat.

Selain itu tiang-tiang penyangga yang agak keropos diperkuat dengan cara menambal, sekaligus untuk menstabilkan permukaan lidah api. Langkah terakhir adalah menempelkan lembaran emas pada lidah api, agar warnanya tidak lagi kusam. Emas yang digunakan berkadar 22 karat dengan ketebalan 0,01-0,02 milimeter.

Lidah api merupakan bagian dari puncak Tugu Monas yang melambangkan “api kemerdekaan”. Pelataran puncak tugu berada pada ketinggian 115 meter. Pada saat tertentu pengunjung boleh mencapai tingkat paling tinggi itu. Dari sana pengunjung dapat menyaksikan pemandangan kota Jakarta.

Di bawah puncak tugu terdapat badan tugu. Tugu bagian bawah berukuran 8 meter x 8 meter, sementara bagian atas 5 meter x 5 meter. Pada bagian bawah terdapat pelataran cawan, yang berada pada ketinggian 17 meter dengan ukuran 45 meter x 45 meter. Ukuran-ukuran tugu disesuaikan dengan angka keramat bangsa Indonesia, yakni 17-8-45.

Batang tugu diibaratkan alu, sementara bagian cawan diumpamakan lesung. Maknanya adalah kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Pekerjaan pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961. Perencanaan dan pengerjaan konstruksi dilakukan sendiri oleh ahli-ahli Indonesia. Beberapa material didatangkan dari Italia, Jepang, AS, dan Prancis.

Arsitek pelaksana Tugu Monas adalah Sudarsono. Gagasannya berasal dari Presiden Soekarno yang menghendaki ciri khas Indonesia. Konsep Tugu Monas berasal dari zaman prasejarah, berupa lingga (lambang pria) dan yoni (lambang wanita). Bersatunya lingga dan yoni merupakan lambang kehidupan manusia atau kesuburan.

Tugu Monas secara resmi dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Hingga sekarang tugu yang terletak di Lapangan Merdeka itu memiliki nilai historis bagi bangsa Indonesia. Bagi Jakarta, Tugu Monas dan lingkungannya merupakan objek pariwisata yang banyak menghasilkan pendapatan asli daerah. Di dalam Tugu Monas masih terdapat museum yang antara lain menggambarkan diorama proklamasi kemerdekaan 1945. Sebagai kebanggaan Jakarta dan nasional Tugu Monas perlu dikonservasi secara periodik untuk menjaga kelestariannya.***

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, Tinggal di Jakarta

(Pernah dimuat di Kompas, 18 Juni 2005)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: