Oleh: hurahura | 15 Agustus 2013

Museum Proklamator

Kompas, Kamis, 15 Agustus 2013 – Presiden Soekarno pernah mengatakan ”janganlah sekali- sekali melupakan sejarah”. Ucapannya yang disingkat ”jas merah” itu masih tetap dikenang sejumlah generasi muda zaman sekarang, terlebih yang menaruh minat terhadap ilmu sejarah.

Ironis, kebanyakan masyarakat sering lupa pada sejarah dan bapak pendiri bangsa. Terbukti banyak bangunan bersejarah yang berhubungan dengan pendirian republik ini, dihancurkan dengan dalih demi pembangunan atau menghapus kenangan buruk kepada kaum penjajah. Lebih ironis, banyak generasi muda menganggap Soekarno-Hatta adalah satu orang. Nama Soekarno dan Hatta memang tidak bisa dipisahkan. Keduanya adalah tokoh proklamator. Kini nama mereka antara lain diabadikan untuk nama bandar udara dan jalan protokol di sejumlah kota.


Pegangsaan Timur

Salah satu bangunan yang kini sudah hilang adalah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, sekarang Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di rumah itulah pertama kali naskah proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Rumah di Jalan Proklamasi Nomor 56 merupakan kediaman Soekarno. Hingga tahun 1960, bangunan tersebut dikenal sebagai Gedung Proklamasi. Di tempat itu kemudian berdiri Gedung Pola. Kemungkinan besar Bung Karno sendiri yang membongkar rumah tersebut karena trauma akan penculikan dirinya dari sana. Saat ini hanya foto-foto lama yang mendukung keberadaan bangunan tersebut.

Pada 3 Januari 1961, Presiden Soekarno melakukan pencangkulan pertama untuk pembangunan Tugu Petir yang kemudian disebut Tugu Proklamasi di areal tersebut. Pada tiangnya terdapat tulisan, ”Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta”.

Selama beberapa tahun tugu ini pernah lenyap. Rencana pembangunan kembali dicetuskan pada 1968 dan diresmikan pada 1972. Pada 17 Agustus 1980, Presiden Soeharto meresmikan Monumen Proklamator atau Tugu Proklamasi. Setelah era Reformasi, lokasi Monumen Proklamator jadi tempat spesial untuk memperingati proklamasi kemerdekaan RI. Juga kerap jadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berunjuk rasa.


Wisma Yaso

Bangunan lain yang tak bisa dipisahkan dengan Bung Karno adalah Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Awalnya, pada 1960 Wisma Yaso dibangun untuk salah seorang istri Bung Karno, Ratna Sari Dewi. Di tempat inilah Bung Karno diisolasi selama beberapa waktu setelah peristiwa G 30 S hingga wafat pada 21 Juni 1970.

Sejak 1979 Wisma Yaso diubah penguasa Orde Baru menjadi Museum Satria Mandala. Sayang banyak benda bersejarah hilang dari tempat itu. Yang menjadi pertanyaan, ke mana pindahnya benda-benda tersebut dan di mana kamar Bung Karno ketika dia sakit, jelas susah melacaknya.

Bangunan lain yang sudah teridentifikasi menjadi situs Soekarno adalah penjara Banceuy di Bandung. Kala itu pada 1929, Soekarno dan kawan-kawan dari Partai Nasional Indonesia dituduh hendak melakukan tindakan subversif terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Mereka diciduk dan ditahan di sel nomor 5.

Di Ende, Flores, situs Soekarno relatif banyak. Yang paling mendapat perhatian ialah rumah pengasingan Soekarno yang menurut rencana akan menjadi museum. Soekarno pernah diasingkan ke Ende pada 1934-1938.

Sesungguhnya ada sepuluh situs yang memiliki kedekatan dengan Soekarno di Ende, yakni pelabuhan, pos militer, rumah pengasingan, taman, masjid, katedral, rumah pastoran, gedung pertunjukan Immaculata, eks Toko De Leew, dan makam Ibu Amsi (mertua Bung Karno).

Dari Ende, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu (1938-1942). Selain Masjid Jamik yang merupakan karya Soekarno, yang paling dikenal adalah rumah pengasingan Soekarno. Di rumah ini dijumpai foto-foto, sepeda asli Bung Karno, kostum tonil Monte Carlo, perabot, dan buku-buku.

Selain rumah pengasingan Soekarno, ada pula rumah pengasingan Hatta. Situs Hatta ada di Digul dan Banda karena Hatta pernah diasingkan ke sana pada 1936-1940. Selain itu di Muntok, tempat pengasingan Hatta bersama Soekarno pada 1948-1949. Meski situs Soekarno dan Hatta ada di beberapa tempat, masih diperlukan Museum Proklamator dengan skala nasional.

Bung Karno pernah berharap akan ada museum yang membuat kebanggaan bagi bangsa sendiri. Dalam pelantikan Panitia Sejarah Museum Tugu Nasional 3 Januari 1964, sebagaimana tulisan Nunus Supardi Museografia 2011, Bung Karno mengungkapkan, ”Jika nanti museum sejarah ini dibuka, pengunjung bangsa sendiri atau yang datang dari negeri asing akan tertegun di dalamnya. Dan setelah mereka menjejakkan kakinya di luar, mereka akan berkata, ’Yes, the Indonesian people are great people. Yes, the Indonesian people are becoming a great people again.’ Kita adalah bangsa besar.”

Tanpa mengenal sejarah, bangsa ini tak mungkin membentuk karakter bangsa. Kita harapkan Museum Proklamator menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Museum Proklamator harus lebih besar daripada Museum Tugu Nasional sehingga anak cucu tidak melupakan tokoh pendiri negara.

DJULIANTO SUSANTIO,
Arkeolog dan Pemerhati Museum

Iklan

Responses

  1. sepertinya ada
    data anda ada yang kurang benar, Museum Satriamandala diresmikan oleh Presiden Soeharto, 5 Oktober 1971 bukan 1979

    • Baik, nanti saya cek, soalnya menurut leaflet 5 Oktober 1972, tks.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: