Oleh: hurahura | 29 April 2015

Situs Liang Bua Didalami

Penemuan manusia purba Homo floresiensis di Liang Bua, Flores, Nusa Tenggara Timur, tahun 2003 berhasil mengangkat arkeologi Indonesia ke panggung dunia. Hingga kini, para peneliti dituntut terus bekerja mengungkap peninggalan yang tersimpan di situs itu.

Salah seorang penemu Homo Floresiensis yang sekarang tengah menempuh studi doktoral di Universitas Wollongong Australia, Thomas Sutikna, mengatakan, Liang Bua memiliki lapisan sejarah yang sangat lengkap karena situs ini mencakup berbagai macam masa, mulai dari Holosen hingga Plestosen.

Arkeolog Mengungkap Peninggalan Purba yang Masih Tersimpan

“Semua periode masa yang tersimpan di Liang Bua mesti diteliti lebih lanjut. Tempat ini luar biasa karena memiliki data sejarah yang sangat lengkap, tidak sekadar Homo Floresiensis saja,” ujar Thomas di Pusat Arkeologi Nasional, Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Thomas, saat Homo floresiensis ditemukan 12 tahun lalu, ia bersama E Wahyu Saptomo, Jatmiko, Rokus Duwe Awe, dan Prof Mike Morwood dari University of New England hanya melakukan ekskavasi di salah satu sudut kecil Liang Bua. Selain itu, masih banyak titik di situs itu yang belum digali. Karena itu, di sana diperkirakan masih banyak artefak beserta konteks sejarahnya yang belum terungkap.

“Generasi arkeolog setelah kami tentu lebih maju dalam meneliti. Lima tahun ke depan, harus ada hasil-hasil penelitian baru dari generasi sekarang tentang Liang Bua. Semua periode zaman di Liang Bua mesti diteliti agar sejarahnya menjadi terang benderang,” katanya.

Pada 2003, di Liang Bua ditemukan berbagai macam artefak, mulai dari 14 kubur manusia bersama bekal kubur periuk dan beliung persegi pada lapisan Holosen. Di antara lapisan Holosen dan Plestosen, terdapat abu vulkanik berumur 12.000-17.600 tahun lalu.

Pada lapisan Plestosen di kedalaman 5,9 meter, ditemukan tulang beserta tengkorak manusia setinggi 106 sentimeter dengan volume otak 417 sentimeter kubik. Meski sempat memunculkan kontroversi di antara arkeolog dalam negeri, temuan terakhir yang kemudian dinamai Homo floresiensis ini banyak mendapat perhatian arkeolog internasional.

Tahun 2014, Thomson Reuters, lembaga yang secara khusus menangani persoalan kekayaan intelektual dan ilmu pengetahuan yang berbasis di London, Inggris, menetapkan empat ilmuwan Indonesia penemu Homo floresiensis, yaitu E Wahyu Saptomo, Jatmiko, Rokus Duwe Awe, dan Thomas Sutikna, sebagai ilmuwan paling berpengaruh sedunia 2014. Publikasi ilmiah mereka yang disusun bersama beberapa peneliti luar negeri paling banyak dikutip dalam kurun waktu 11 tahun terakhir. Meski diakui internasional, hasil penelitian arkeolog lokal justru kurang diapresiasi di dalam negeri.


Minim laboratorium

Arkeolog senior Pusat Arkeologi Nasional, Prof Bagyo Prasetyo, mengatakan, pengembangan penelitian arkeologi di Indonesia masih terkendala fasilitas laboratorium yang minim.

“Selama ini kami sudah mengusulkan pengadaan laboratorium kepada pemerintah pusat, tetapi belum disetujui. Kami akhirnya membuat bidang khusus yang menangani laboratorium, yaitu bidang konservasi dan arkeometri. Semoga tahun depan bisa diwujudkan,” katanya.

Untuk mengantisipasi keterbatasan fasilitas laboratorium, Pusat Arkeologi Nasional menjalin berbagai macam kerja sama dengan peneliti-peneliti dari luar negeri. Dengan begitu, kendala keterbatasan fasilitas laboratorium bisa diatasi dengan mengirimkan sampel-sampel artefak untuk diteliti di luar negeri. Peneliti lokal juga bisa melanjutkan studi di mancanegara. (ABK)

(Sumber: Kompas, Senin, 27 April 2015)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: