Oleh: hurahura | 31 Mei 2014

Peredam Getaran di Menara Kudus

Kudus-01KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah memugar Menara Kudus yang berusia sekitar 500 tahun di kompleks kota lama Kudus Kulon, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (30/5).

Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah melanjutkan pemugaran Menara Kudus di kompleks kota lama Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pemugaran bangunan berusia sekitar 500 tahun itu meliputi pemasangan peredam getaran dan penggantian batu bata lama yang sudah lapuk.

Ahli penata batu Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Rabiman mengatakan, pemasangan peredam getaran untuk mengurangi dampak getaran dari kendaraan bermotor yang kerap melalui kawasan kota lama. Peredam getaran akan dipasang di sekeliling fondasi dengan panjang 1 meter dan kedalaman 1,5 meter.

Peredam getaran itu menggunakan teknik tradisional, yaitu dengan pemasangan batu kali, batu kerikil, dan pasir, tanpa adonan semen. Teknik itu telah lama diterapkan para arsitek tempo dulu untuk menjaga kekuatan konstruksi bangunan dari gempa. ”Untuk mengurangi getaran di bagian atas, kami memasang serabut kelapa dan ijuk di bagian balok-balok kayu,” kata dia, Jumat (30/5).

Menurut Rabiman, BPCB Jawa Tengah juga akan mengganti batu bata lama Menara Kudus yang lapuk, terutama bagian timur tubuh menara. Batu bata pengganti dari perajin batu bata Jatirogo, Tuban, Jawa Timur.

Penggantian dan penyusunan batu lama itu juga menggunakan teknik tradisional, yaitu menggunakan pelekat dari adonan tumbukan batu bata merah, pasir, dan gamping. ”Kami melekatkan batu bata itu dengan cara saling menggesekkan batu bata yang sebelumnya dibasahi dengan air. Dua batu bata yang digesekkan itu akan menghasilkan lumpur berwarna merah yang berfungsi sebagai perekat,” kata Rabiman. Pemugaran akan berlangsung hingga akhir November 2014.

Anggota staf dokumentasi dan informasi Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Denny Nurhakim, mengemukakan, revitalisasi itu bertujuan melestarikan peninggalan Sunan Kudus. Yayasan juga ingin mengembalikan suasana kompleks mendekati, seperti zaman Sunan Kudus. ”Kami juga tengah merampungkan museum mini Sunan Kudus,” ujarnya. (HEN)

(Sumber: Kompas, Sabtu, 31 Mei 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: