Oleh: hurahura | 17 Maret 2015

Berburu ”Rock Art”

Goa-1 ARSIP IRSYAD LEIHITU

Lukisan anoa di dinding Goa Uhallie di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Apa sih tugas mahasiswa arkeologi selain belajar? Banyak orang mengira kami hanya sering gali-gali tanah dan nongkrong di kantin. Pastinya, kami sering berpetualang. Kami biasa menyebutnya ngebolang, mengacu acara televisi tentang bocah-bocah di pelosok Tanah Air yang berpetualang.

Kegiatan ini biasanya ada setiap tahun karena kami sering menjelajah berbagai situs arkeologi di Indonesia. Sebagai mahasiswa arkeologi, ke mana pun pergi, kami selalu berkunjung ke tempat-tempat bersejarah.

Kali ini, saya akan mengisahkan pengalaman saya tentang perjalanan mengelilingi Sulawesi Selatan untuk berburu rock art alias seni goa. Rock art adalah lukisan atau pahatan di goa yang merupakan ekspresi kesenian dari manusia prasejarah pada masa lalu. Rock art umumnya berupa gambar, desain, dan motif tertentu.

Perjalanan ini berlangsung pertengahan tahun lalu ketika dosen saya menugaskan mengambil data penelitian berupa lukisan goa di Provinsi Sulawesi Selatan. Ketua tim perjalanan ini adalah Nico, mahasiswa Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia angkatan 2009. Anggota tim adalah saya dan Putra, mahasiswa Arkeologi 2011.

Kami membawa perlengkapan lapangan, seperti kantong tidur, senter, peta lokasi, lampu darurat, tali tambang kecil, peralatan memasak, dan perlengkapan menulis. Tidak ketinggalan ransum dan pakaian. Perlengkapan ini sesuai dengan medan tujuan kami.

Prioritas kegiatan ini untuk mengambil data arkeologi berupa lukisan-lukisan di sejumlah lukisan goa di Sulawesi Selatan. Namun, bagi saya prioritas utama juga melihat keindahan alam ciptaan Yang Kuasa serta mempelajari dan mengamati tinggalan kebudayaan manusia masa lalu yang selalu menjadi pertanyaan di benak saya.

Di Makassar, tiga mahasiswa Universitas Hasanuddin, yakni Adank, Ichal, dan Dudi, bergabung menjadi anggota tim kecil kami. Kami pun berkeliling dan berkunjung ke goa-goa prasejarah di Sulawesi Selatan.

Destinasi pertama, Kabupaten Bone. Di sini ada dua situs goa prasejarah, yaitu Leang Uhallie dan Leang Batti. Leang berarti goa dalam bahasa setempat. Tak mudah mendatangi goa ini karena harus melalui sungai berarus deras nan indah, selain juga perbukitan tinggi serta hutan rindang dengan musik alami dari tetesan air yang jatuh ke daun dan suara angin yang menyelinap melalui sela-sela ranting pepohonan. Ada pula tebing-tebing kapur menjulang dengan rongga-rongga dan tiang-tiang alami pembentuk goa.

Goa Uhallie sungguh menawan karena bak galeri lukisan. Semua lukisan kuno itu buram, tetapi setelah mata terbiasa dengan cahaya redup dalam goa keindahannya pun muncul. Situs yang membuat saya jatuh cinta ini berisi lukisan berupa motif tangan dan hewan. Motif-motif tersebut selalu berdampingan dan digambarkan pada dinding dan atap goa. Hewan yang tergambar adalah babi hutan dan anoa.

Selanjutnya, kami ke Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Kedua Kabupaten ini terhubung dari gugusan perbukitan karst yang memiliki puluhan goa-goa prasejarah dengan beragam lukisan. Mungkin masih banyak goa yang belum ditemukan di sini.

Di Maros, kami pergi ke tiga goa, yaitu Lambatorang, Sampeang, dan Sumpangbita. Di Pangkep, kami ke Goa Cempae, Cumilantang, Parewe, Monroe, dan Bulusipong 1, 2, dan 3.

Panorama dan lukisan goa di Maros dan Pangkep tak kalah indah dengan di Bone. Melewatkan pagi di Maros sungguh menyegarkan: angin sepoi-sepoi dan bentang alam nan sangat memukau plus langit putih bersih, pohon dan rerumputan yang hijau, tebing-tebing kapur berselimut pepohonan, dan matahari yang mengintip di sela-sela tebing.

Setiap tempat memiliki rintangan berbeda. Kadang kami harus memanjat tebing tanpa peralatan khusus untuk mencapainya. Kadang pula kami harus menaiki ribuan tangga untuk menjangkau goa-goa tersebut. Lukisan pun memiliki karakteristik berbeda di setiap situs. Kami sibuk merekam data, menghitung, menggambar sketsa, dan mendokumentasikan semua situs berikut lukisan goa di dalamnya.

Perjalanan seminggu penuh berburu rock art ini lumayan menguras pikiran dan tenaga. Namun, sangat banyak pengalaman yang kami dapat, seperti bermalam, minum dan makan, serta beribadah di goa telah mengajarkan kami kebesaran-Nya menciptakan bentang alam yang sangat memukau.

Kami pun mengerti mengapa manusia zaman lampau memilih tinggal di goa. Teori-teori selama kuliah tentang kehidupan manusia masa lalu dan kebudayaannya kini kami rasakan dan saksikan langsung di lapangan.

IRSYAD LEIHITU
JURUSAN ARKEOLOGI
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA

(Sumber: Kompas, Selasa, 17 Maret 2015)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: