Oleh: hurahura | 1 November 2016

Napak Tilas Situs Dharma ring Kagenengan (Candi Pendharmaan) Ken Angrok di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

kopi-01Gambar 1:  Susana Gunung (Bukit) Katu di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang[Sumber Gambar: Irman (9 Oktober 2016)]


Sekilas Ken Angrok

Ken Angrok adalah pendiri sekaligus raja pertama Tumapel (Singhasari). Dia juga menjadi wangsakara, sekaligus pendiri dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau dinasti Girindra (Girindrawangsa) yang menjadi cikal bakal raja-raja Singhasari dan Majapahit. Kesejarahan Ken Angrok didapati dalam susastra Pararaton dan Nagarakretagama, walaupun prasasti yang dikeluarkan oleh Ken Angrok sampai saat ini belum diketemukan.

Terdapat empat buah prasasti yang dianggap memberikan petunjuk mengenai kesejarahan tokoh Ken Angrok. Prasasti-prasasti tersebut adalah Balawi (1227 Saka atau 1305 M, Maribong/Trawulan II (1186 Saka atau 1264 M), Kusmala/Kandangan (1272 Saka atau 1350 M, dan Mula-Malurung (1177 Saka atau 1255 M) (Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia II, 2010: 424). Ken Angrok meninggal pada 1227 M akibat dibunuh oleh anak tirinya, Anusapati, sebagai balas dendam terhadap pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Angrok kemudian dicandikan di Kagenengan (sebelah Selatan Singhasari) dalam bangunan suci agama “Siwa dan Buddha” (Soekmono, 1981: 63).


Tempat Pendharmaan Ken Angrok

Terdapat tiga sumber informasi mengenai tempat pendharmaan Ken Angrok, yakni Pararaton, Nagarakretagama, dan Prasasti Mula-Malurung. Ketiga sumber sama-sama memberitakan Ken Angrok atau Sri Rajasa di-dharma-kan di “Kagenengan”. Uraian dari Pararaton adalah sebagai berikut: “… Linira sang Amurwabhumi i saka 1169. Sira dhinarmeng Kagenengan.” (Padmapuspita, 1966: 24). Terjemahannya menurut R. Pitono Hardjowardjojo (1965: 32), “ … Waktu meninggalnya sang Amurwabhumi pada tahun Saka 1169. Beliau dicandikan di Kagenengan.”

Nagarakretagama memberitakan sebagai berikut: “ …. ring saka syabdhi rudra krama kalahaniran mantuking swargga loka, kyating rat sang dhinarmma dwaya ri kagenengan sewa bhoddhengusana.” Artinya, “… pada tahun saka Asyabdhirudra-1149 (1227 Masehi) Baginda berpulang ke alam baka (Siwa Loka), tersohor di dunia Baginda diabadikan di Candi Kagenengan berwujud Siwa Buddha sejak dahulu.” (Riana, 2009: 207). Di sisi lain versi transkrip Pigeaud (1960) dalam Suwardono (2013: 238) sedikit berbeda dengan transkrip versi Riana (2009).

Berikut transkrip versi Pigeaud (1960), “ … ri sakasyabdi rudra krama kalahaniran mantuk ing swarggaloka, kyatin rat sang dinarmma dwaya ri kagnanan ssewabodden usana.” Artinya menurut Slamet Muljana (2006: 365), “… Tahun Saka muka lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwapada, Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usaha (Usana) bagai Buddha.”

Lebih lanjut Nagarakretagama menguraikan cukup detil mengenai tempat pen-dharma-an Sri Rajasa sebagai cikal bakal atau pendiri Dinasti Rajasa. Uraian tersebut merupakan hasil pengamatan langsung Prapanca yang menyertai Raja Hayam Wuruk ketika ‘Tour de Inspection’ di Kagenengan pada 1359 Masehi. Kemudian Prapanca menggambarkan tempat tersebut pada Pupuh XXXVI dan XXXVII dalam Nagarakretagama sebagai berikut:


Pupuh XXXVI:

  1. pada subhakala baginda berangkat ke selatan menuju Kagenengan, akan berbakti di pen-dharma-an bhatara bersama segala pengiringnya, harta alat dan makanan mengiringkan bunga beserta upacara indah didahului kibaran bendera terdukung ramai orang menonton.
  2. habis penyekaran narapati keluar dikerumuni rakyat menghadap, para pendeta Siwa-Buddha dan bangsawan dekat berderet di sisi beliau, tidak berkata waktu baginda bersantap menurut nafsu kehendak hati, seadanya rakyat dianugrahi kain-kain yang meresapkan pandangan.


Pupuh XXXVII:

  1. tersebut keindahan candi makam wujudnya tiada bertara pintu gerbangnya terlampau indah lagi tinggi bersabuk dari luar, di dalam terbentang halaman dengan balai berderet di tepinya, penuh segala macam bunga tanjung (Mimusops elengi) nagasari indah dan ajaib.
  2. menara menjulang tinggi di tengah-tengah terlampau indah, seperti Gunung Meru tempat Siwa dengan arca Siwa di dalamnya, layak karna putra Girinatha dipandang rajadewa menjelma, trah leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia
  3. sebelah selatan pen-dharma-an ada tempat suci yang terbengkalai, tembok dan pintu gerbangnya tinggi kiranya tempat suci kebudaan, di dalamnya ada lantai kakinya barat telah hilang tinggal yang timur hanya sanggar dan pamujaan yang utuh, temboknya tinggi dari bata merah
  4. di sebelah utara tanah dan kaki balai telah merata, terpencar tanamannya nagapuspa, merah halamannya waktu bertunas berbunga, di luar pintu pabaktan tanahnya tinggi terbuang (longsor) luas dalamnya tertutup jalannya penuh rumput serta lumut
  5. laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu pucat, bertebaran daun cemara yang diterpa angin kusut bergelung, kelapa gading melulur tapasnya pinang letih lusuh melayu, bambu gading melepas pelepahnya layu merana tak ada hentinya
  6. (Muljana, 2006: 361-362 dan Riana, 2009: 187-191 dengan sedikit perubahan).

Informasi mengenai tempat pen-dharma-an Ken Angrok di Kagenengan pada prasasti Mula-Malurung (1254 M) menyebutkan kakek dari Nararya Smining Rat (yang mengeluarkan prasasti). Kakeknya adalah pendiri Kerajaan Tumapel yang meninggal di Dampar Kencana (singgasana) dan di-dharma-kan di Kagenengan (Suwardono, 2013: 242). Berikut ini keterangan dari prasasti Mula-Malurung tersebut pada lempeng II b:

Prasasti Mula-Malurung Lempeng II.b:

  1. gati saŋ prāńarāja. ankadi hulun=kalilin=parńnaą saŋ prāńarāja śaiwake sira narāryya smi niŋ rāt. tiűkah saŋ
  2. prāńarāja. śaiwaka ri sira kaki nira narāryya smi niŋ rāt. sira saŋ līna riŋ ůāmpa mās. sira saŋ pinratiśőa nira narāryya
  3. smi niŋ rāt. makaswarūpaŋ wiśń maűkāne64 saŋ hyaŋ dharmme “kagněnan” … (Nastiti, 2010: 402-403).

Di manakah letak candi Kagenengan tersebut? Sukamto (1997: 33-38) berpendapat sama dengan Agus Aris Munandar, arkeolog dari Universitas Indonesia. Ia mengidentifikasi candi Kagenangan adalah candi Kalicilik yang sekarang berada di Dusun Candirejo, Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Dasar argumen Sukamto adalah, pertama, candi tersebut bentuknya sama dengan Candi Sawentar dan Kidal yang keduanya dibuat pada zaman Singhasari; kedua, Candi Kalicilik disebut oleh Raffles sebagai candi “Genengan”, sedangkan Hoepermans menyebutnya “Poetton”. Poetton berasal dari kata puthuk (bahasa Jawa). Puthuk adalah tempat yang tingginya melebihi tempat sekitarnya. Jadi arti pengertian namanya sama dengan “Genengan” (Jawa). Di sebelah selatan dukuh Candirejo terdapat dukuh “Rajasa” yang identik dengan gelar Ken Angrok yaitu “Sri Rajasa”.

Argumen Sukamto tersebut bertentangan dengan informasi yang terdapat pada Nagarakretagama. Dalam Nagarakretagama disebutkan bahwa tempat yang bernama Kagenengan berada di sebelah selatan Singhasari. Hal ini menguatkan bahwa Kagenengan berada di wilayah Malang bagian selatan dan harus dicari di wilayah tersebut. Akan tetapi terdapat tiga tempat di Malang yang bernama “Genengan”, pertama yaitu Dusun Genengan, Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso. Di sekitar dusun tersebut (tepatnya di Dusun Girimoyo, Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso) memang terdapat situs dan artefak, antara lain arca Lembu Nandi/Nandiswara yang disebut oleh warga sekitar dengan nama “Watu Banteng”. Arca ini memiliki tinggi sekitar 80 cm, panjang 200 cm, dan lebar sekitar 1 m, dengan posisi arca sedang ‘nderum’ (duduk) di tepi sungai. Di sekitar arca ditemukan juga batu umpak, lingga dan yoni, serta batu berukir bunga teratai.

Sekitar 40 meter dari situs Watu Banteng, tepatnya di Dusun Genengan, Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso terdapat juga kekunaan. Kekunaan tersebut tepat berada di kompleks makam di dekat kompleks markas Yonkes Karangploso. Di lokasi yang berada di tengah kuburan itu terdapat tiga buah watu lumpang, dua  batu gong berdiameter sekitar 40 cm, satu buah batu mirip kendang, batu bermotif bunga teratai, batu persegi empat ukuran sekitar 50 x 50 cm, dan sejumlah batu yang tak berukuran. Menurut sejarahwan Suwardono, di sekitar lokasi situs Watu Banteng dan Watu Gong itu dulunya diduga sebagai tempat Mandalaka Dewaguruan di zaman Hindu atau semacam pesantren di zaman sekarang. Salah satu indikasinya adalah arca Lembu Nandi/Banteng, batu gong, lingga dan yoni, serta batu bermotif teratai yang menjadi ciri adanya tempat peribadatan di mandala tersebut (Radar Malang, 2014: 25&35).

Jadi, lokasi situs kepurbakalaan di Dusun Genengan, Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso kurang kuat untuk dijadikan identifikasi lokasi candi pendharmaan Ken Angrok. Selain itu jarak tempuh antara Singhasari ke Karangploso cukup dekat padahal dalam Nagarakretagama, ketika Hayam Wuruk pergi ke Kagenengan dari Singhasari, membutuhkan waktu setengah hari perjalanan. Kemudian yang kedua, terdapat juga sebuah desa di Malang yang bernama Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, sekitar 8 km dari pusat kota di jalan raya menuju Kepanjen. Di desa tersebut pernah ditemukan peninggalan berupa lingga dari batu andesit (Sidomulyo, 2007: 79). Lingga dan yoni tersebut berada di salah satu punden desa, sementara di punden desa yang lain didapati sebuah arca Durga (Putri, 2016: 01 diakses 11/10/2016:09:25WIB). Selain itu didapati beberapa kekunaan di kantor kepala desa Genengan berupa arca bertipe Polinesia, sebuah lumpang batu, dan sebuah umpak. Akan tetapi semua tinggalan di Desa Genengan tersebut belum cukup kuat untuk diidentifikasikan sebagai reruntuhan candi pendharmaan Ken Angrok.

Terdapat kemungkinan ketiga yaitu terdapat sebuah dusun bernama Dusun Genengan, Desa Prangargo, Kecamatan Wagir yang merupakan tempat terkuat untuk diidentifikasikan sebagai tempat pen-dharma-an Ken Angrok. Hal ini sejalan dengan tinggalan arkeologis yang ada di wilayah tersebut sesuai dengan catatan Belanda dan informasi lisan dari penduduk setempat.

P.V. van Stein Callenfels pada 1915 sempat mengunjungi reruntuhan kepurbakalaan yang berada di Genengan-Wagir. Ia mencatat dalam berita yang hanya satu lembar pada TBG (Tijdschrijft voor de Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde, uitgegeven door het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) No. LVII tahun 1916 halaman 200. Dalam catatannya tersebut Callenfels menggambarkan kondisi situs dalam keadaan sunyi dan sebagian bangunan ada yang terbengkalai persis dengan berita yang ada di Nagarakretagama. Kemudian sekitan 1930-an W.F. Stutterheim berkunjung pula ke Genengan-Wagir, dan mencatatnya sebagai bahan karya tulisnya yang berjudul Een bijzettingsbeeld van Koning Rajasa? dalam TBG no. LXXIX, 1939. Menurut Stutterheim reruntuhan sudah banyak yang hilang. Ia juga menemukan arca lembu nandi tetapi tidak di Genengan, namun di sebelah utara dekat Gunung Katu (Suwardono, 2013: 243-244).


Gunung Katu, Tempat Pendharmaan Ken Angrok Sebagai Siwa

Dalam catatan Belanda, Stutterheim menyinggung soal kekunaan di Gunung Katu di Dusun Sumberpang Kidul, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Situs tersebut cukup dekat dengan Dusun Genengan. Dalam situs tersebut terdapat artefak yang menunjukkan ciri-ciri Sivaistis (bisa juga ada pengaruh Waisnawa, hal ini akan dibahas kemudian, pen.). Dalam situs tersebut terdapat arca lembu yang telah hilang kepalanya. Selain itu terdapat batu berlubang-lubang,  masyarakat menyebutnya Watu Dakon. Bahkan dahulu di tempat tersebut pernah ditemukan arca Ganesha (Sunyoto, 2000: 72-73).

(Baca sambungannya DI SINI)

Oleh: Devan Firmansyah
Mahasiswa IKIP Budi Utomo, Malang
Jurusan Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
E-Mail: devanfirmansyah@gmail.com
Facebook: Kopi Soda


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: