Oleh: hurahura | 14 Maret 2011

Kisah Kepala Arca yang Terpenggal…

KOMPAS/THOMAS PUDJO WIDYANTO

Puluhan arca Buddha di Candi Plaosan, Prambanan, Klaten, terlihat kehilangan kepala, Rabu (16/2). Sampai kini fenomena patung tanpa kepala ini masih misterius. Kenapa harus kepalanya yang hilang, seperti ada unsur kesengajaan.

Kompas, Jumat, 11 Maret 2011 – Memasuki Kompleks Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kita akan menemukan pemandangan yang tragis. Deretan arca Buddha yang kepalanya terpenggal semua. Di sebuah pelataran batu setinggi satu meter, seluas sekitar 100 meter persegi, patung-patung itu terletak berjajar di sekeliling pelataran membentuk huruf L.

Kenapa kepala arca sebanyak itu bisa hilang semua? Ketua Unit Candi Plaosan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng di Prambanan Siti Rohyani mengaku kurang tahu pasti kapan dan kenapa kepala arca-arca berukuran besar dengan bobot 1-2 ton itu hilang semua. ”Catatan di BP3 mengenai hilangnya kepala arca itu juga tidak ada. Yang pasti, hilangnya sudah dalam waktu lama.”

Menurut Rohyani, arca-arca itu ditemukan terpisah meskipun masih dalam satu kompleks Candi Plaosan. ”Anehnya, ketika kami menemukan pelataran batu sekitar tahun 1996, dan arca-arca itu kami tempatkan di batu umpak yang terletak mengelilingi pelataran itu, semuanya cocok, pas. Sepertinya arca-arca itu memang letaknya di situ. Ada 22 arca yang terpasang dan semuanya hilang kepalanya.”

Aneh memang jika benar semua arca letaknya memang di pelataran itu. Apakah ada pembantaian massal terhadap arca-arca Buddha itu? Rohyani tidak mengiyakan dugaan itu. ”Yang pasti, pencurian kepala arca di Candi Plaosan terakhir tahun 2010. Pelakunya tertangkap dan kepala arca sudah kembali kami miliki,” katanya.

Seperti memberi jawaban tentang arca-arca yang terpenggal kepalanya itu, Sugeng Widodo, Kepala Kelompok Kerja BP3 Jateng, menyatakan, dari hasil penggerebekan ke rumah terhukum Sumarno atas hilangnya dua kepala arca Candi Plaosan itu, bukan hanya dua benda tersebut yang ditemukan. Polisi juga menemukan 32 benda purbakala lainnya, sebagian besar juga berupa kepala arca.

”Aksi pencurian itu menjadi salah satu sebab kenapa banyak arca hilang kepalanya,” kata Sugeng. Catatan dari BP3 Jateng, sejak berdiri tahun 1975 hingga tahun 2000, telah terjadi 86 kali kasus pencurian yang mengakibatkan 133 benda purbakala hilang.


Suvenir

Namun, menurut Sugeng, kasus raibnya benda purbakala, khususnya kepala arca ini, ada yang motifnya tidak semata-mata pencurian. Sebagaimana dituturkan juga oleh Rohyani, di Yogyakarta pernah terjadi ada seorang dukun yang banyak didatangi oleh para calon peserta pemilihan kepala desa.

”Isunya, dukun itu meminta syarat agar para calon itu bisa memenangi pemilihan kepala desa asal bisa mendatangkan kepala Betara Kala. Arca ini, menurut sang dukun, bisa digunakan untuk menjaring massa. Dan kabarnya waktu itu memang banyak arca Kala yang hilang,” katanya.

Menurut Sugeng, pada abad ke-15 saja diperkirakan sudah ada kasus pemenggalan kepala arca purbakala. ”Banyak arca di Candi Sewu juga hilang kepalanya, termasuk juga di Candi Borobudur,” katanya. ”Kalau pencurian terjadi zaman sekarang atau sejak ada kantor kepurbakalaan, pasti ada datanya. Puluhan kepala arca di Candi Sewu yang hilang itu tidak ada datanya. Kami menemukan juga sudah dalam kondisi hilang kepala.”

Baik Rohyani maupun Sugeng menyatakan, banyak kalangan arkeolog mengatakan, pada zaman Belanda sebelum masa-masa Van Erp memugar Candi Borobudur pada seputaran tahun 1907, sudah ada kasus pemenggalan kepala arca. ”Konon, untuk suvenir atau kenangan-kenangan kepada kerabat, bahkan antarpejabat. Apakah ini yang menyebabkan banyaknya candi-arca terpenggal kepalanya?” kata Sugeng.

Kepala arca memang menarik bagi para pencuri. ”Karena wajah memang mewakili segalanya dari anggota tubuh. Dari wajah kita bisa melihat ekspresi sebuah karya. Barangkali itu yang menarik kenapa kepala yang dipilih. Di samping itu, untuk membawa arca (dalam bentuk utuh) memang berat,” kata Rohyani.

Dari sisi ilmu, menurut Rohyani, kita banyak kehilangan akibat pencurian kepala arca. ”Karena dari wajah kita bisa melihat bagaimana ketika sang Buddha melakukan mudra (gerakan-gerakan tangan yang menunjukkan sebuah ajaran kehidupan),” katanya.

Jika kita melihat ke Museum Nasional Jakarta, ada ratusan arca yang hilang kepalanya, sementara badannya masih utuh. Arca-arca itu datang dari beberapa daerah di Nusantara, antara lain, Medan, Palembang, Kalimantan, Jawa Timur, dan paling banyak arca yang berasal dari Jateng. (Th Pudjo Widijanto)

Iklan

Responses

  1. Thanks infonya min 🙂
    Semoga aja warisan nenek moyang ini tetap terjaga.

    Agan-agan juga bisa melihat Kemegahan Candi Borobudur dengan foto virtual. Lihat di sini:

    http://indonesiavirtual.com/index.php?option=com_jumi&fileid=11&Itemid=109&id_img=499


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori