Oleh: hurahura | 8 November 2014

Ramayana: Mitos atau Sejarah?

Ramayana-07Adegan perang antara Rama dan Laksamana melawan Rahwana pada dinding Candi Brahma di komplek Prambanan (Sumber: Relief Ramayana Candi Prambanan, hlm. 53)

Nama Ramayana hampir selalu dikaitkan dengan dunia pewayangan dan kesenian. Nama ini sudah populer sejak lama. Dalam bahasa Sansekerta Rāma berarti Rama dan Ayaṇa berarti Perjalanan. Kitab ini berisi epos atau cerita kepahlawanan, berasal dari India, dan dikarang oleh Walmiki sekitar tahun 400 sebelum Masehi. Isi kitab terdiri atas tujuh jilid (kanda) dan digubah dalam bentuk syair sebanyak 24.000 seloka.

Ketujuh kanda itu adalah: (1) Bala-kanda, menceritakan tentang raja Dasaratha yang beranak Rama, Bharata, serta Laksmana dan Satrugna; (2) Ayodhya-kanda, menceritakan perjalanan Rama, Sita (Sinta), dan Laksmana di hutan; (3) Aranya-kanda, menceritakan penculikan Sita oleh raksasa jahat bernama Rahwana dan pertolongan burung garuda bernama Jatayu; (4) Kiskindha-kanda, menceritakan penggempuran Kiskindha oleh Rama dan pasukan kera pimpinan Sugriwa; (5) Sundara-kanda, menceritakan upaya Hanoman menemukan Sita; (6) Yuddha-kanda, menceritakan pertempuran dahsyat Rama dengan Rahwana; dan (7) Uttara-kanda, menceritakan lanjutan riwayat Rama dan kembalinya Rama ke kahyangan sebagai Wisnu.

Dalam agama Hindu, Wisnu adalah dewa yang memelihara dan melangsungkan alam semesta. Sebagai penyelenggara dan pelindung dunia, dia digambarkan setiap saat siap untuk memberantas semua bahaya yang mengancam keselamatan dunia. Untuk keperluan ini, Wisnu turun ke dunia dalam bentuk penjelmaan yang sesuai dengan macamnya bahaya. Penjelmaan Wisnu itu disebut awatara. Mula-mula jumlah awatara banyak sekali, namun kemudian menjadi sepuluh. Sembilan di antaranya telah terjadi, sedangkan yang kesepuluh belum. Awatara Wisnu yang berhubungan dengan Ramayana adalah awatara ketujuh, yakni Rama-awatara.


Jawa Kuno

Kisah Ramayana muncul dalam banyak versi. Selain di Indonesia, kisah sejenis muncul di Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, Cina, Filipina, dan Thailand. Di Indonesia kitab Ramayana telah disadur ke dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) berbentuk kakawin. Kemungkinan besar dilakukan pada zaman Kerajaan Mataram kuno abad ke-9.

Berbagai cerita Ramayana di Indonesia diketahui bersumber pada Ramayana Walmiki. Para pengarang Indonesia memang sengaja membuat perbedaan agar cerita Ramayana cocok dengan alam pikiran dan tata nilai bangsa Indonesia. Penyimpangan cerita Ramayana dalam kebudayaan tradisional Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, berkaitan dengan tradisi sanggit. Sanggit adalah penyusunan suatu cerita yang telah dikenal secara khas, yang dilakukan oleh seorang seniman atas dasar pandangan hidup, pendirian, selera, maupun tujuan-tujuan tertentu yang mungkin dimiliki seniman tersebut dalam menampilkan suatu cerita (Moehkardi, 2011).

Kakawin Ramayana Jawa kuno hanya berakhir dengan kembalinya Rama dan Sita ke Ayodhya. Bagian-bagian selanjutnya dihilangkan oleh penyadurnya. H. Kern merupakan orang pertama yang menerbitkan kakawin Ramayana dalam aksara Jawa baru pada 1900. Selanjutnya H.H. Juynboll menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda. Setelah itu naskah Ramayana banyak ditelaah para pakar, antara lain W.F. Stutterheim, R. M. Ng. Poerbatjaraka, dan C. Hooykaas.

Di mata para pakar, Ramayana sering dianggap sebagai salah satu sumber untuk mengetahui hubungan pertama India dengan Nusantara. Kitab itu menyebut nama Yawadwipa sebagai pulau emas dan perak. Mungkin mengacu kepada Pulau Jawa sekarang. Kitab itu juga menyebut Suwarnadwipa, yang berarti pulau emas, mungkin yang dimaksud Pulau Sumatera.

Cerita Ramayana versi Jawa yang paling populer di kalangan rakyat adalah Serat Rama karya Jasadipura I (1729-1802). Dia seorang pujangga istana Surakarta. Sendratari Ramayana yang dikenal sekarang, menggunakan Serat Rama sebagai sumber cerita. Cerita Ramayana pernah diadaptasi ke dalam bahasa Melayu dengan judul Hikayat Seri Rama.


Relief Candi

Saking populernya, cerita Ramayana dipahatkan pada Candi Prambanan (abad ke-9) dan Candi Panataran (abad ke-14). Pada Candi Prambanan, relief Ramayana dipahatkan pada pagar langkan bagian dalam Candi Siwa dan Candi Brahma. Relief tersebut terbagi dalam panel-panel, masing-masing 24 panel pada Candi Siwa dan 30 panel pada Candi Brahma. Setiap panel dipisahkan oleh pahatan pilaster. Kadang-kadang sebuah panel memuat lebih dari satu adegan.

Relief Ramayana dimulai dari Candi Siwa dengan urutan cerita berawal dari sebelah kiri pintu masuk sisi timur, berjalan searah jarum jam, dan berakhir di sebelah kanan pintu masuk sisi timur. Dilanjutkan di Candi Brahma dengan dengan urutan seperti di Candi Siwa, mulai dari sebelah kiri pintu masuk dan berakhir di sebelah kanan pintu masuk (Moertjipto dkk, 1991). Relief pada Candi Panataran kurang begitu dikenal, mungkin karena candi itu terletak di Jawa Timur.

Presiden Soekarno pernah sangat terpesona oleh Ramayana, terutama dengan salah satu tokohnya, Jatayu. Beliau sangat mengagung-agungkan sosok berujud burung garuda itu. Maka atas inspirasi Soekarno, perusahaan penerbangan pertama Indonesia diberi nama Garuda. Yang fenomenal tentu saja lambang negara Burung Garuda Pancasila. Lambang itu juga tercipta atas jasa Soekarno.

Dalam mitologi kuno, Garuda adalah lambang dunia atas, matahari, dan pengusir kegelapan. Tokoh Garuda memiliki arti simbolis, menggambarkan sifat ketangkasan, melayang tinggi, dan kedahsyatan. Karena itu Garuda sering kali dihubungkan dengan berbagai prinsip keagamaan, sebagai kekuatan yang membawa hidup sekaligus mempertahankan hidup.


Mitos atau Sejarah?

Belum jelas benar apakah kitab Ramayana berisi hal-hal mitos ataukah informasi sejarah. Sejak beberapa tahun lalu beberapa arkeolog, termasuk arkeolog India, menelusuri nama-nama tempat yang disebutkan dalam kitab Ramayana, termasuk kitab Mahabharata yang juga berisi epos.

Penelitian juga pernah dilakukan oleh arkeolog AS, Michael Cremo, tahun 2003. Selama delapan tahun dia meneliti kitab suci Weda dan Jaina, yang ditulis pendeta Walmiki. Dia menemukan nama-nama yang tertera di kitab tersebut ada di India. Penelitian itu ditemani tim dan rekannya, Dr. Rao, arkeolog India.

Dikabarkan telah ditemukan sebuah jembatan yang sangat unik di Selat Palk antara India dan Srilanka. Jembatan misterius itu menghubungkan dua daratan, yaitu antara Pulau Manand (Srilanka) dan Pulau Pamban (India). Jembatan itu populer karena konon digunakan oleh tentara Hanoman untuk menyeberang ke Alengka dalam rangka membebaskan Sita dari penculikan Rahwana. Keberadaan jembatan itu tidak di darat, melainkan di bawah air laut sekitar 1,5 meter. Konstruksi jembatan akan tampak lebih nyata bila dilihat dari udara. Jembatan tersebut panjangnya sekitar 30 km, dengan lebar hampir 100 m.


Hasta Brata

Banyak teladan atau pesan moral diselipkan oleh para penyadur Ramayana, terlebih ucapan bijak Rama kepada adik-adiknya. Di dalam bagian yang berisikan uraian tentang rajadharmma (tugas kewajiban seorang raja), dijumpai ajaran tentang hasta brata atau asthabrata (hasta = delapan, brata = pedoman). Astabratha merupakan petunjuk Sri Rama kepada adiknya, Bharata yang akan dinobatkan menjadi Raja Ayodhya. Astabratha disimbolkan dengan sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin.

Dalam naskah lain, Rama menghibur Wibisana yang akan diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar seorang raja yang bijaksana harus mengikuti delapan sifat dewa, yaitu sebagai Indra, Yama, Surya, Soma, Bayu, Kuwera, Waruna, dan Agni.

Sebagai Indra (Dewa Hujan), raja hendaknya menghujankan anugerah kepada rakyatnya; sebagai Yama (Dewa Maut), dia harus menghukum para pencuri dan semua penjahat; sebagai Surya (Dewa Matahari), yang senantiasa menghisap air secara perlahan-lahan, raja hendaknya menarik pajak dari rakyatnya sedikit demi sedikit sehingga tidak memberatkan; sebagai Soma (Dewa Bulan), dia harus membuat bahagia seluruh dunia dengan senyumnya; sebagai Wayu (Dewa Angin), yang dapat menyelusup ke tempat-tempat yang tersembunyi, raja harus senantiasa mengetahui hal ikhwal rakyatnya dan semua gejolak di kalangan masyarakat; sebagai Kuwera (Dewa Kekayaan), raja hendaknya menikmati kekayaan duniawi secara wajar; sebagai Waruna (Dewa Laut), yang bersenjatakan jerat, raja haruslah menjerat semua penjahat; dan sebagai Agni (Dewa Api), dia harus membasmi musuhnya dengan segera. (Djulianto Susantio)

Iklan

Responses

  1. Reblogged this on Semangat Pagi! and commented:
    Dulu wajib baca.
    Sekarang refreshing… pesiar mata… hehe…
    Asik 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: