Oleh: hurahura | 21 April 2011

Jepang – Nusantara: Bukti Jaringan Perdagangan

Oleh: M. Th. Naniek Harkantiningsih
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

Abstract
As according to topic International Symposium of The Hizen Ceramics Exported All Over The World, hence in this seminar we will discuss result of archaeology research, about distribution of Hizen ware as commerce study data of inter-regional from port town Jepang-Nusantara. Both the states, has growed to become center trading at its the each place context. Nusantara especially as domination of spice, while Japan as ceramics producer; which during of the commodity types hardly enthused by Asian nation and Europe. Even in more specific, we also sees distribution of Hizen ware in Nusantara very uppermost, especially in influenced sites by colonial power. This thing, nor differs from port in Japan during the period.

Existence of Hizen ware becomes important key of international trade network. Ceramic become one of a real important and interesting study object mean; because through ceramics we find evidence assuring to be more clarifies picture the things happened between Japans and Nusantara in long distance commerce.

In situation and commerce era during the period, seen that both this states has experience of similar history that is facing pressure and emulation with Europe business concern and or government India-Belanda (VOC), is playing a role in arrangement of ceramic commerce from Japan to consumer nations, through Nusantara. That is why perceivable in situation that way both this states can be hooked;correlated as top the forming of port, center commerce having role enough to be recognized in network regional. In this context, Hizen ware is one of evidence which can stay up to our hand, some of in presentation of fragmen. This very abundance finding amount, and so do from the angle of quality, we find its the variability is very height.

That is why we can ascertain, already happened trading braid between Japans and Nusantara, even with other nations. Here ceramic study stood to lay open trading study; so through ceramics we can trace when in fact the relation of Japan and Nusantara starts standing. The data which we apply under consideration this, be distribution pattern of ceramics, especially Hizen ware from port towns in Nusantara


Pendahuluan

Sesuai dengan topik internasional conference, maka dalam seminar ini kami akan mendiskusikan hasil penelitian arkeologi tentang persebaran Hizen ware sebagai data kajian perdagangan inter-regional dari kota pelabuhan Jepang-Nusantara. Dapat dikatakan, bahwa ke dua negara ini mewakili gambaran tentang puncak pertumbuhan kekuasaan kolonial periode yang relatif sama, yaitu sekitar abad ke-17–19. Keduanya telah tumbuh menjadi pusat perniagaan pada konteks tempatnya masing-masing. Nusantara terutama sebagai penghasil dan penguasaan merica atau rempah-rempah dan hasil alam lainnya, sedangkan Jepang sebagai produsen keramik. Pada masanya jenis-jenis komoditi tersebut sangat diminati oleh bangsa Asia dan Eropa.

Secara lebih spesifik, kami melihat persebaran Hizen ware di Nusantara sangat menonjol, terutama di situs-situs yang dipengaruhi kekuasaan kolonial; sehingga keberadaan Hizen ware menjadi kunci penting jaringan perdagangan internasional. Keramik menjadi salah satu objek studi yang sangat menarik dan penting artinya; karena melalui keramik kita menemukan bukti-bukti yang meyakinkan untuk lebih memperjelas gambaran tentang apa yang terjadi antara Jepang dan Nusantara dalam kancah perdagangan jarak jauh. Dengan demikian kedua tempat ini berpotensi untuk dilacak kembali sistem dan jalur perdagangan pada masa lampau.

Dalam situasi dan era perdagangan pada masa itu, tampak bahwa kedua negara ini memiliki pengalaman sejarah yang serupa, yaitu menghadapi tekanan dan persaingan dengan perusahaan dagang Eropa ataupun pemerintah India-Belanda (VOC), yang berperanan dalam pengaturan tataniaga keramik dari Jepang ke negara-negara konsumen, melalui Nusantara. Itulah sebabnya dapat dipahami dalam situasi demikian, kedua negara ini dapat dikaitkan sebagai puncak terbentuknya kota-pelabuhan, pusat perdagangan yang memiliki peran cukup dikenal di jaringan regional. Dalam konteks ini, Hizen ware adalah salah satu bukti yang dapat bertahan sampai ke tangan kita, kendatipun sebagian dalam wujud pecahan. Kuantitas temuan ini sangat melimpah, demikian pula dari segi kualitas kita menemukan variabilitasnya sangat tinggi.

Dalam pemaparan ini, data yang kami gunakan dalam pembahasan temuan Hizen ware dari situs-situs kerajaan sekaligus pusat kekuasaan kolonial VOC . Situs-situs tersebut mewakili kekuasaan kolonial pada Nusantara bagian barat dan timur, sekaligus merupakan jalur lalu lintas laut berperan pada masa itu.


Kota dan Pelabuhan

Bertolak dari sejarah perniagaan, muncul hipotesis tentang tumbuhnya kota pelabuhan sebagai konsekuensi dari berlangsungnya kegiatan perniagaan dan pelayaran baik jarak dekat maupun jarak jauh. Hipotesis tentang pusat kota pelabuhan (harbour city) acapkali disebut sebagai gateway city. Kami menduga di Nusantara, merupakan tempat tumbuhnya kota pelabuhan, indikasi ini diperoleh dari sumber sejarah dan bukti arkeologi, terutama barang-barang komoditi dari luar. Bukti nyata, keberadaan Hizen ware dapat dijadikan indikator aktivitas terutama berhubungan dengan perdagangan, jarak jauh.

Ditinjau dari sumber sejarah dan arkeologi, Banten Lama merupakan kota yang dikenal sebagai pusat tataniaga, baik regional maupun inter-regional, bahkan di kota inilah pada awal abad ke-16 untuk pertama kalinya Belanda mendarat di wilayah Nusantara dan kemudian mendirikan pusat perdagangan VOC yang berfungsi sebagai penyalur tataniaga keramik dari Asia ke Eropa dan komoditi rempah-rempah. Kota ini, dikelilingi oleh perbentengan atau tembok kota yang dibangun sekitar pertengahan abad ke-16. Dalam kronik Portugis digambarkan, bahwa Kota Banten terletak di Teluk Sunda, sungai-sungai melintasi kota menuju pantai dan membagi kota menjadi dua sehingga junk-junk dapat memasuki kota. Digambarkan pula bahwa di luar perbentengan bagian utara terdapat permukiman orang asing (Cina, Arab, Eropa) dan pelabuhan yang disebut dengan Pabean. Di situs ini, ditemukan sisa-sisa gudang dengan tumpukan keramik yang pernah terbakar. Sebagian besar sisa tinggalan arkeologi di situs ini masih dapat dilihat dengan jelas, seperti keramik dari berbagai negara, bahkan Hizen ware ditemukan dalam jumlah banyak, ini membuktikan adanya hubungan niaga antara Banten dan Jepang pada masa itu. Nusantara dengan pelabuhan Banten nya dan Jepang dengan pelabuhan Nagasakinya.

Sebagai bagian dari kekuasaan Banten terutama setelah Selat Malaka jatuh ke tangan Porugis, maka peran Banten berpindah ke Batavia. Kota Batavia dibangun atas dasar penguasan dagang, pusat pemerintahan-kota, dan markas besar VOC, transaksi dagang menghubungkan Batavia dengan daerah pedalaman dan pelabuhan-pelabuhan lalu lintas Nusantara dan luarnya, setelah kepindahannya dari Banten. Dibangunnya kembali Kota Benteng Belanda Batavia atau disebut Puri Batavia, akibat kekalahan Pangeran Jayakarta. Puri ini merupakan sebuah kota benteng berdenah bujursangkar dengan panjang antara 2.250 meter dan lebar antara 1500 meter, dialiri Sungai Ciliwung; dikelilingi parit dan tembok karang; 4 buah gerbang bersambung dan jembatan melintang di atas parit yang mengelilingi kota (Leonard Blusse 1988). Diluar kota benteng, berjajar bangunan-bangunan milik VOC yang difungsikan sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang dagangan sebelum diangkut dengan kapal ke Belanda atau ke berbagai negara di Eropa dan Asia lainnya. Bangunan ini juga dikelilingi oleh benteng yang kokoh, dilengkapi gardu penjagaan dan menara yang dapat mengawasi semua kapal-kapal dagang yang datang dan pergi melalui Kali Besar. Bangunan-bangunan tersebut saat ini masih dapat dilihat dan difungsikan sebagai Museum Bahari, dengan bastion-bastion benteng kota lamanya dan menara intai, bangunan kantor-kantor pemerintahan, setasiun kereta api, dan gudang-gudang yang masih dapat dilihat dari jalan tol yang melintasinya; Pelabuhan Sunda Kelapa atau Pasar Ikan, Museum Fatahillah; Museum Seni Rupa dan Keramik, serta bangunan-bangunan kolonial lainnya yang masih berdiri megah, dari situs-situs ini banyak ditemukan Hizen Ware, karena kota ini menjadi pelabuhan transit Hizen ware dari Jepang ke Eropa dan Asia. Kondisi tersebut tidak berbeda dengan Nagasaki pada waktu kekuasaan VOC.

Lokasi lainnya, yang tidak kalah penting adalah bekas pelabuhan kuna Cirebon. Kota Cirebon, merupakan bekas kota kerajaan yang terletak di pantai utara Propinsi Jawa Barat. Cirebon berkembang sebagai kota dan pelabuhan, yang sangat dikenal pada masa itu. Sebagai kerajaan Islam yang tumbuh dari abad ke-15-19, bahkan hingga saat kini. Cirebon berkembang pula sebagai kota, dimana dibangun infrastruktur fasilitas kerajaan (istana, benteng, makam kerajaan), bangunan keagamaan, pelabuhan, jalan, dan fasilitas publik lainnya Masa perkembangan Cirebon digambarkan oleh Tome Pires ketika berkunjung ke Cirebon pada tahun 1513, Cirebon merupakan sebuah pelabuhan yang ramai, banyak junk-junk. Di kota ini tinggal kurang lebih 7 orang pedagang besar, seorang diantaranya Pate Quedir seorang bangsawan yang pernah menjadi kepala perkampungan Jawa di Malaka, yang diusir oleh tentara Portugis karena bekerja sama dengan tentara Demak yang menyerbu Malaka (Cortesao, 1967).

Masa kejayaan Kerajaan Cirebon terjadi pada waktu pemerintahan Sunan Gunung Jati, yang tercatat sebagai kepala negara Kerajaan Cirebon I. Usaha-usaha yang dilakukan dalam tahap pengembangan ini antara lain: memperluas wilayah kekuasaan Cirebon semaksimal mungkin ke seluruh penjuru pelosok Jawa Barat, memperbaiki prasarana transportasi baik lewat laut, sungai dan darat, membentuk pasukan keamanan, mempererat persekutuan dengan Demak. Kemudian pada akhir abad ke-17 terjadi kontak antara Cirebon dengan VOC, disertai dengan perjanjian. Seorang Belanda, Jan Pieter Van Coen, berlabuh di Cirebon dalam rangka perjalanannya berangkat menuju atau pulang dari Maluku. Cirebon dengan pelabuhannya semakin penting peranannya karena faktor letak geografisnya berdekatan dengan Batavia. Perdagangan pelayaran antara Batavia dengan Cirebon semakin ramai. Kejayaan perniagaan di Cirebon ditandai dengan banyaknya keramik yang ditemukan dari penelitian.

Hubungan antara Cirebon dengan VOC, semakin terjalin di bidang perekonomian, dibuktikan dengan pembangunan penggilingan padi dan penduduk diwajibkan menanam tanaman tebu (Arsip Nasional RI, 1973), sehingga perdagangan dan perkebunan gula tebu semakin maju, bahkan Cirebon menjadi pelabuhan utama pengeksport gula di samping arak, spiritus dan kacang tanah. Kejayaan Cirebon di masa lampau masih tampak jelas hingga saat kini, pertumbuhan dan perkembangan kota terus melaju dibarengi dengan pertumbuhan permukiman. Perbedaan hanya terjadi di dalam sistem birokrasi kekuasaan, apabila pada masa lampau sultan dan keluarga serta kerabat yang berkuasa pada masa itu, sekarang mereka hanya sebagai simbol budaya yang masih kental tampak di wilayah ini; kekuasaan saat ini ada di birokrasi pemerintahan modern.

Dari Nusantara bagian timur di kenal Buton, berbeda dengan Banten-Batavia, dan Cirebon, tidak banyak sumber tertulis yang menyebutkan tentang Kesultanan Butuni atau Buton. Namun paling tidak, nama ini telah disebutkan dalam Kitab Negarakertagama 1364, pupuh 19 sebagai salahsatu daerah kekuasaan Majapahit, seperti halnya Luwu, Talaud, Makassar, Bangai dan Selayar (Harkantiningsih dkk 2005). Kerajaan Buton didirikan pada awal abad ke-16an oleh imigran-imigran dari Johor yang kemudian menetap di pusat kota, tetapi karena serangan bajak laut mereka pindah kepedalaman dan mendirikan permukiman di atas bukit dimana Keraton Wolio sekarang berada. Kesultanan Buton dapat dikaitkan sebagai puncak terbentuknya kota dan kerajaan di pesisir Buton, yang kami anggap sebagai salahsatu pusat kekuasaan yang memiliki peran cukup dikenal di jaringan regional; yaitu jalan pelayaran dari Melaka ke Maluku tempat rempah-rempah dihasilkan. Buton sebagai penghasil damar, rotan, gaharu, kayu manis, cengkeh, dan pala, sehingga wilayah ini menjadi rebutan untuk kepentingan perdagangan, baik oleh Kerajaan Gowa, Kasultanan Ternate-Tidore; maupun VOC. Sejak saat itu terjadilah perjanjian perdagangan antara VOC dengan Buton; perjanjian ini terjadi pada tahun 1637 dan menjadikan Buton sebagai sekutu VOC yang setia. Sumber tertulis menyebutkan bahwa Kerajaan Gowa mengirimkan pasukan ke Buton untuk memaksa memihak ke Gowa, VOC sangat khawatir, karena apabila Buton bersatu dengan Gowa, VOC akan mengalami kesulitan. Pada Tahun1655an orang-orang Gowa menyerang Belanda di Buton, Belanda mengalami kekalahan, sehingga Buton menjadi salah satu wilayah kekuasaan Gowa, akibatnya pertempuran sering terjadi di Buton dan sekitarnya; karena adanya tekanan politik dan persaingan dagang pada masanya; maka dapat dipahami apabila di wilayah Buton ini banyak sekali didirikan benteng, ini dibuktikan dari tinggalan benteng-benteng beserta meriam-meriamnya. Oleh karena itu, Buton disebut sebagai Pulau Seribu Benteng. Kemudian Buton dapat dikuasai kembali oleh Belanda dan dijadikan pusat kekuasan VOC. Hal ini menjadikan Buton berperan seperti Banten-Batavia, antara lain di buktikan adanya kesamaan jenis-jenis keramik yang ditemukan terutama Hizen ware nya (Ohashi 2004).

Tidak berbeda dengan pelabuhan kuno lainnya, bekas Kerajaan Gowa-Tallo-Somba Opu, yang berada di wilayah Makassar, merupakan kerajaan terbesar pengaruhnya di jasirah selatan Sulawesi. Sisa-sisa peradaban Gowa-Tallo-Somba Opu, seperti terlihat dari peninggalan-peninggalan arkeologis, baik masjid kuna, kompleks makam-makam bangsawan; keraton; benteng, dan sumur-sumur tua. Motivasi pada dunia maritim, terlihat, bandar atau pelabuhan Kerajaan Gowa, di Somba Opu, terletak di Muara Sungai Jeneberang, dan bandar atau pelabuhan Kerajaan Tallo di Muara Sungai Bira, keduanya menyatu menjadi satu bandar.

Persekutuan dua Kerajaan Gowa-Tallo, juga dipacu dengan semakin ramainya perairan di muara Sungai Jeneberang-Sungai Bira, oleh kedatangan para pelaut dan pedagang Portugis, Melayu, Belanda, Inggris, Spanyol, Denmark, dan Cina, yang semakin meningkatkan aktivitas pelayaran-perdagangan, baik untuk mencari rempah-rempah maupun memperdagangkan komoditi dari luar, antara lain keramik. Periode kebesaran Kerajaan Gowa, merupakan kebesaran aktivitas atau dunia kemaritiman di Sulawesi Selatan (Poelinggomang, Edward.L.2007). Kebesaran Gowa-Tallo-Somba Opu mulai mengalami kemunduran, setelah perang Makasar (1666-1669), karena konflik antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi bagian selatan. Disisi lain Verenigde Indische Compagnie (VOC), semakin melebarkan kekuasaanya, yang sangat berkepentingan untuk menguasai bandar atau pelabuhan Kerajaan Gowa-Tallo-Somba Opu. Pusat kerajaan yang berada di Benteng Somba Opu dihancurkan oleh VOC. Benteng Ujung Pandang, tidak dihancurkan, tetapi dikuasai oleh VOC, dan dijadikan pusat permukiman dan bisnis VOC. Dengan demikian kebesaran Benteng Somba Opu sebagai pusat Kerajaan Gowa-Tallo, mulai tenggelam digantikan oleh Benteng Ujung Pandang yang diubah namanya menjadi Benteng Rotterdam. Nama Gowa-Tallo-Somba Opu tenggelam dan kemudian lebih banyak disebut-sebut nama Makasar.

Situs Nusantara bagian timur lainnya yang juga tidak kalah pentingnya, adalah Ternate-Tidore. Dapat dikatakan, bahwa wilayah itu mewakili gambaran tentang puncak pertumbuhan dan perkembangan tataniaga rempah-rempah di Nusantara. Seperti diketahui, dalam situasi dan era perdagangan pada masa itu, tampak bahwa di wilayah ini memiliki pengalaman sejarah yang sama dengan kota pelabuhan lainnya, yaitu menghadapi tekanan dan persaingan dagang asing, Portugis, Spanyol, India-Belanda, ataupun VOC. Itulah sebabnya, dapat dipahami dalam situasi demikian, di wilayah ini mengembangkan sistem pertahanan dengan mendirikan bangunan arsitektural perbentengan sebagai bagian dari kota dan aktivitasnya. Perbentengan tersebut memiliki fungsi ganda, sebagai pertahanan politik sekaligus tempat berlangsungnya proses perdagangan, antara lain rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Komoditi ini sangat dibutuhkan dan dicari oleh para pedagang asing; karena rempah-rempah merupakan bahan utama untuk obat ataupun campuran makanan.

Potensi kesuburan tanah karena endapan abu vulkanik, menjadi sumberdaya besar bagi pertumbuhan tanaman penting sebagai penghasil komoditas berharga waktu itu; yakni cengkeh, pala dan kayu manis. Wilayah ini pernah menjadi kekuasaan Portugis dan Spanyol, setelah Malaka jatuh ke Portugis pada tahun 1511. Setelah berhasil menguasai Malaka, Portugis berkeinginan untuk menguasai pula Maluku, pulau penghasil rempah-rempah. Portugis menempatkan seorang agen berpangkat kapten di Ternate-Tidore bersama pengawalnya pada tahun 1512, untuk membeli cengkeh. Orang Portugis bermukim di Benteng, Antonio de Brito, kemudian mendirikan Benteng Saint John pada tahun 1522.

Kemudian pada tahun 1605, VOC menduduki Ternate-Tidore setelah merebutnya dari Portugis. VOC berusaha menguasai daerah-daerah produksi cengkeh di Maluku yang dikuasai oleh kerajaan pada waktu itu. Pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pengaruh Hindia Belanda di Ternate-Tidore semakin intensif, terdapat Residen seorang Belanda, walaupun masing-masing kerajaan memiliki sultan yang masih berkuasa penuh. Pada pertengahan abad ke-20an, ditandai dengan kedatangan koloni Jepang. Bahkan di Ternate bagian timur terdapat bukit yang dianggap kuburan massal Jepang yang gugur pada pada waktu itu. Kedatangan para pedagang untuk mencari rempah-rempah, maka terjadi kontak dagang antara penguasa setempat dengan pedagang asing. Kemudian pengaruh asing ini semakin kuat, dibuktikan dengan penguasaan mereka pada sistem tataniaga perdagangan, bahkan mereka menetap di wilayah ini yang menjadi pusat hasil komoditi sekaligus pusat kota pemerintahan.

Peranan Ternate-Tidore dalam tataniaga perniagaan rempah-rempah dulu hingga kini cukup terbukti, baik berdasarkan sumber-sumber tertulis maupun perkebunan rempah-rempah yang masih tampak hingga sekarang. Keterkaitan antara tinggalan benteng-benteng dengan tataniaga rempah-rempah pada masa itu tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Daya pikat kedatangan bangsa asing ke Ternate-Tidore karena rempah-rempahnya. Untuk melancarkan dan mengamankan kegiatan niaganya, mereka melakukan kerjasama dengan sultan, memberikan hadiah, misalnya keramik, antara lian Hizen ware yang hingga kini masih menjadi koleksi Sultan Ternate-Tidore. Keindahan panorama, keragaman pesona, dan keelokan alam, sejarah, dan budayanya, menjadikan wilayah ini sumber wisata yang tak terlukiskan

Dalam melakukan perdagangan di Nusantara bangsa-bangsa asing mulai mendirikan gudang-gudang penyimpanan komoditi dagang yang sekaligus berfungsi sebagai kantor dagang mereka. Gudang-gudang dan kantor dagang tersebut kemudian diperkuat dengan perbentengan untuk menjamin keselamatan komoditi dagang mereka, baik dari ancaman internal (pihak pribumi) maupun eksternal (pedagang asing lainnya). Ekspansi ekonomi yang pada awalnya menjadi tujuan utama bangsa-bangsa asing, akhirnya berkembang menjadi ekspansi politik. Mereka menyadari, bahwa perdagangan tidak akan dapat mereka lakukan dengan lancar tanpa penguasaan wilayah. Ekspansi politik tersebut, menimbulkan serangkaian perlawanan dari pihak penguasa pribumi ataupun antarpendatang. Akibatnya dalam suasana gejolak perselisihan, masing-masing mendirikan dan mengembangkan sistem pertahanan dengan mendirikan bangunan arsitektural perbentengan sebagai bagian dari kota dan permukiman, sekaligus kubu pertahanan. Hal ini ditandai dengan berdirinya benteng-benteng di pusat-pusat kota dan kekuasaan kerajaan yang letaknya tidak jauh dari pantai, sebagai sistem pertahanan sekaligus pusat pengawasan dan aktivitas dagang.


Persebaran Hizen Ware

Awal masuknya Hizen ware ke pelabuhan-pelabuhan kuna di Nusantara, khususnya pada masa transisi antara Dinasti Ming ke Dinasti Qing, pada abad ke-17an, adanya penyusutan keramik Cina ke Nusantara. Gajala seperti ini, diduga ada hubungannya dengan peristiwa pergolakan di Cina, yaitu pemberontakan oleh Wu San Kuei, yang mengakibatkan pusat produksi keramik terbesar di Jingdezhen tidak mampu menghasilkan keramik dalam jumlah banyak (Medley 1976). Pengiriman barang keramik dari Cina menurun, padahal permintaan barang meningkat. Kekurangan inilah yang kemudian digantikan produk keramik lain, khususnya dari Jepang untuk memenuhi permintaan baik Asia, Timur Tengah, maupun Eropa.

Perdagangan keramik Jepang, dilukiskan dalam jalur pelayaran dengan kapal Cina pada awal abad ke-17, dan sejak itu ekspor keramik keluar Jepang semakin berkembang. Kapal-kapal Belanda-VOC, mengangkut komoditi keramik Jepang melalui pelabuhan Nagasaki, menuju Asia dan Eropa. Pada masa itu monopoli perdagangan keramik ada di wewenang VOC yang berpusat di Nagasaki untuk Jepang serta Nusantara terpusat di Banten-Batavia dan Buton, yang juga merupakan pusat kekuasaan VOC dalam kewenangannya mendistribusikan keramik ke Eropa. Hasil penelitian arkeologi dan identifikasi keramik membuktikan itu. Hizen ware banyak ditemukan dan menjadi urutan ke-2 setelah keramik Cina. Selain Hizen ware biru-putih, juga banyak ditemukan jenis hijau seladon Hasami dan Karatsu ware. Jenis ini jarang sekali ditemukan di luar Jepang, karena menurut pakarnya jenis ini tidak untuk ekspor, karena itu, mungkin jenis ini merupakan pesanan khusus atau mungkin juga sebagai hadiah kepada sultan dan penguasa pada waktu itu. Hasami dan Karatsu merupakan ciri utama ditemukan di Banten-batavia-Buton (Ohashi 1992).

Jambangan besar bertutup yang biasanya digunakan untuk tempat air pencuci muka dan khusus pesanan ekspor Eropa, pot besar yang juga khusus ekspor Eropa, jenis tersebut dianggap berkualitas tinggi, untuk pasaran Eropa melalui Banten-Batavia-Buton oleh VOC. Keramik sejenis ini hampir semuanya dijadikan barang turun-temurun. Jenis ini, ditemukan juga di Situs Pasar Ikan, pelabuhan utama Batavia untuk mendistribusikan Hizen ware ke Eropa sekaligus sebagai gudang VOC. Jenis lainnya berupa pecahan jambangan besar biru-putih bermotif ikan karper (mas) mendaki di air terjung yang dibuat pada tahun 1720-40an, jenis ini ditemukan dari ekskavasi di bagian parit keliling Keraton Wolio, Buton. Jenis ini juga jarang ditemukan di luar Jepang.

Dari hasil ekskavasi Banten-Batavia-Buton, pecahan botol serta guci juga dari Hizen ware yang sebenarnya khusus dibuat untuk ekspor ke Eropa pada awal abad ke-18an. Juga ditemukan keramik biru-putih ‘teshio-zara’, ini bukan barang ekspor, sehingga itu merupakan contoh penemuan kedua diluar Jepang.

Keramik biru-putih pola kraak atau fuyohde, beberapa di antaranya adalah piring yang bertulisan VOC yang dibuat awal abad ke-18, jenis ini memang khusus pesanan untuk Eropa/Belanda karena itu bertulisan VOC. Jenis lainnya ialah mangkuk biru-putih dengan hiasan ikan dan ombak yang biasa disebut araisomon juga ditemukan dalam jumlah banyak. Sebagian besar Hizen ware dari Banten-Batavia-Buton merupakan kualitas tinggi dan jarang ditemukan di situs lainnya, serta pesanan khusus Eropa.

Berbeda dengan Situs Banten-Buton-Batavia; Hizen ware yang ditemukan di Situs Gowa-Tallo-Somba Opu, tidak ditemukan dalam jumlah banyak. Sebagian besar dari abad ke-18-19, ini sesuai dengan masa kejayaan perdagangan dan kekuasaan sultan di wilayah ini, peran situs-situs tersebut di kancah perniagaan jarak dekat antarkerajaan dan pulau, ditandai dengan kesamaan jenis dan kronologi Hizen ware yang ditemukan dari Banten-Batavia-Buton. Variasi Hizen ware diperkaya dengan masuknya jenis Setomino

Persebaran keramik di wilayah Ternate-Tidore, juga tidak sebanyak situs lainnya. Namun kehadirannya menjadikan bukti bahwa wilayah ini mengenal dan terjadi kontak dengan niaga keramik ataupun komoditi luar lainnya. Hal ini dibuktikan pula ditemukannya mata uang kepang (Cina) dan Belanda. Tidak berbeda dengan di Buton, persebaran keramik di wilayah ini juga terdapat di lokasi benteng yang sebagian besar terletak di atas bukit; serta di bekas permukiman kuna ataupun bekas keraton, sedangkan koleksi utuh merupakan milik sultan Ternate-Tidore, yang menurut informasi merupakan hadiah, mungkin dari VOC atau pendatang asing lainnya untuk sultan. Persebaran kronologi di wilayah Ternate-Tidore memberikan gambaran terbanyak berasal dari abad ke-18-19. Jenis yang terbanyak berupa piring dan mangkuk, semuanya merupakan perlengkapan harian, juga dijadikan pajangan (koleksi) museum atau keraton sultan. Pecahan keramik jenis piring asal Jepang Setomino abad ke-20, ditemukan di situs bekas tungku pembakaran kapur di Kampung Koloncucu, Kelurahan Tobeleu.

Kenyataan menunjukkan bahwa keramik Jepang yang ditemukan di Cirebon, tidak berupa pecahan. Hingga kini keramik Jepang tampak sebagai hiasan tempel tembok, baik di keraton, masjid, maupun makam. Kronologi berasal dari abad ke-20an. Atas dasar bukti itu, diduga keberadaan Jepang ware di situs ini sebagai hadiah kepada sultan, pada waktu kedatangan bangsa Jepang ke Nusantara.

Dari uraian tersebut, tampak bahwa jenis keramik yang diperdagangkan sebagian besar merupakan barang khusus untuk pasaran Eropa; kemudian pada abad ke-18an pasaran Hizen ware ke Eropa berkurang karena persaingan harga dengan keramik Cina dan mulai runtuhnya kekuasaan VOC. Keberadaan Hizen ware di Nusantara menduduki ranking ke-2, terutama di situs-situs kota-pelabuhan; menunjukkan bahwa Hizen ware sangat populer yang tentunya dipengaruhi oleh kualitas barang. Adanya kesamaan jenis dan kronologi Hizen ware antara kota-pelabuhan situs-situs di Nusantara dan Jepang, membuktikan adanya pola persebaran keramik yang terjadi pada masa itu, dimana wilayah yang menjadi pusat kekuasaan VOC paling tidak akan memiliki kesamaan jenis keramik, karena VOC menjadi penyalur keramik dari Asia ke Eropa melalui Nusantara. Kesamaan tipe ini, juga memperjelas selain sebagai wilayah kekuasaan VOC juga pusat kota-pelabuhan internasional, yang berperan dalam tataniaga jaringan jarak dekat ataupun jarak jauh, apakah itu secara langsung ataupun tidak langsung. Yang menjadi pertanyaan mengapa jenis-jenis langka dari Hizen ware banyak ditemukan di Nusantara?


Penutup

Atas dasar pembuktian sebaran Hizen ware di wilayah Nusantara, dibuktikan paling tidak pada abad ke-17—19an terjadi jaringan perdagangan (networking), baik jarak dekat (antarsitus-pulau) maupun jarak jauh (antarnegara). Kesamaan hasil produk dan kronologi dari tempat produsen (Jepang) dengan konsumen (Nusantara) menunjukkan pembuktian hal itu. Walaupun sampai saat ini, belum ditemukan adanya indikasi penemuan kapal karam yang memuat keramik Jepang di perairan Nusantara; namun berdasarkan peta jalur pelayaran dalam The Voyage of Old-Imari Porcelains dan Coastal Shipping Routes tampak jelas jalur-jalur pelayaran negara produsen keramik di Asia ke Eropa melalui Nusantara (Fujiwara, 2000).

Kami menyimpulkan adanya kegiatan jaringan perdagangan dilandasi pada kesamaan kualitatif dan kronologi jenis-jenis artefak yang didatangkan dari luar, seperti Hizen ware; sekalipun juga ditemukan keramik Cina, Thailand, Vietnamese, dan Eropa. Kehadiaran barang-barang impor ini hanya mungkin bila tempat ini terkait dengan tata jaringan niaga yang lancar menghubungkan tempat ini dengan tempat lainnya yang mungkin terkait dengan akses berantai dengan pelayaran antarwilayah, baik di Asia, Timur Tengah, maupun Eropa.

Jepang-Nusantara merupakan pusat kekuasaan politik dan ekonomi VOC; memiliki tinggalan arkeologi yang mencirikan barang komoditi yang sama, yaitu keramik yang menjadi indikasi adanya relasi perdagangan. Itulah sebabnya kita dapat memastikan, telah terjadi jalinan perniagaan antara Jepang dan Nusantara, bahkan dengan negara-negara lainnya. Disinilah studi keramik berperan untuk mengungkapkan studi perniagaan; sehingga melalui keramik kita dapat menelusuri kapan sesungguhnya hubungan Jepang dan Nusantara mulai berperan.

Kehadiran barang-barang keramik impor tidak hanya menunjukkan semakin meningkatnya minat dan kebiasaan penduduk memakai barang ini, tetapi juga menjadi salah satu indikasi lebih nyata tentang aktivitas perniagaan di wilayah tersebut. Berperannya Nusantara dalam tataniaga jarak jauh di tandai dengan peningkatan ragam keramik yang didominasi warna biru putih, baik dari Cina, Jepang, maupun Eropa; juga peranannya sebagai wilayah penghasil utama rempah-rempah. Pada periode ini informasi perniagaan semakin jelas. Nusantara dapat dikaitkan menjadi negara niaga yang dikunjungi berbagai pedagang asing.

Kesamaan jenis dan kronologi keramik yang ditemukan, memperkuat adanya jaringan niaga di Nusantara-Jepang, bahkan negara-negara lainnya. Hal ini, dipermudah jarak dan akses transportasi yang menghubungkan negara-negara itu; juga diketahui pola persebaran keramik yang terjadi pada masa itu, dimana wilayah yang menjadi pusat kekuasaan VOC paling tidak akan memiliki kesamaan jenis keramik, karena VOC menjadi penyalur keramik dari Asia ke Eropa melalui Nusantara. Jaringan laut yang dilalui untuk menuju ke Nusantara baik jalur timur maupun jalur barat.

Dalam perspektif itulah garis besar kesimpulan yang dapat kami sampaikan disini meliputi penyajian bukti fisik berupa Hizen ware dan indikasi perniagaan yang mencirikannya. Kami juga ingin memberikan penekanan pada bukti yang sangat penting yaitu kronologi situs dan persamaan temuan yang menjadi dasar untuk menarik keterkaitan antarsitus yang menjadi indikasi bahwa ada jaringan di masa lalu.


Acuan

Adhyatman, Sumarah. 1981. Antique Ceramics Found in Indonesia. Jakarta:The Ceramics Society of Indonesia

Armando, Cortesao, 1967. The Suma Oriental of Tome Pires, an Account of The East, from the Red Sea to Japan, Written in Malacca and India 1512, The Hakluyt Society, Karus Reprint Limited Nedeln/Liechtensteen.

Blusse, Leonard 1984. Chinese Trade to Batavia During the Days of the VOC. SPAFA Consultative Workshop on Research on Maritime Shipping and Trade Networks in Southeast Asia. Indonesia:Cisarua West Java

Filipe FR, Luis 1984 The Portuguese in the Seas of the Archipelago During the 16th Century. SPAFA Consultative Workshop on Research on Maritime Shipping and Trade Networks in Southeast Asia. Indonesia:Cisarua West Java

Flines, Orsoy de van. 1972. Guide of the Ceramics Collection. Jakarta:Museum Pusat Djakarta

Fujiwara, Tomoko 2000. Hizen Wares Abroad Part II:The Ducth Story. Voyage of Old-Imari Porcelains. Jepang:The Kyushu Ceramic Museum

Groeneveldt, WP 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya. Compiled from Chinese Sources. Djakarta:Bharata

Guy, John S 1986. Oriental Trade Ceramics in South East Asia Ninth to Sixteenth Centuries. Oxford:Asia Studies in Ceramics.

Harkantiningsih, Naniek. 1987. The Distribution and Role of Ceramics in Indonesia: As Data for the Study of Trade. International Symposium for Japanese Ceramics of Arcaheological Sites in South-East Asia. Tokyo

———-1989. Ceramics Trade in The Banten Sites West Java, Indonesia. Trade Ceramics Studies No 9, Japan:Sophia University

———-1993. Sejarah Perdagangan Keramik Di Situs Banten. Dalam Banten Pelabuhan Hizen ware Situs Kota Pelabuhan Islam Di Indonesia. Tokyo: Puslitarkenas-Hakata Book

—– 1993. Ancient Ceramics From Archaeological Sites In Indonesia Dalam The Ceramics Society of Indonesia Directory 1993 In Commemoration Of The 20th Anniversary. Jakarta: Himpunan Keramik Indonesia

———-2000. Keberadaan Keramik Hizen Di Situs Banten Lama, Indonesia, Japan: Early Modern Asian Trade and Imari Nagasaki Symposium

——-2003. Panduan Lokakarya Eksplorasi; Pengelolaan; dan Pemanfaatan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam Di Nusantara. Jakarta:Pannas-BRKP-Budpar.

Kohji, Ohashi 1992. Ciri-ciri Keramik Hizen Yang Ditemukan Di Indonesia; dalam Banten Pelabuhan Keramik Jepang:Situs Kota Pelabuhan Islam Di Indonesi.. Jakarta:Japan Foundation-Pulitarkenas.

——2000 Pengertian Penemuan Keramik Hizen Di Asia Tenggara. Japan: Early Modern Asian Trade and Imari Nagasaki Symposium

Ligtvoet A. — Beschrijving en Geschiedenis van Boeton. BKI 4e reeks II

Medley, Margaret 1976. The Chinese Potter A Practical History of Chinese Ceramics. Oxford:Phaidon

Poelinggomang, Edward L 2002 Makassar Abad XIX Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. Jakarta:KPG-Ikapi-The Ford Foundation

Roeloftsz, Meilink MAP; 1962. Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago Between 1500 and about 1630. The Hague:Martinus Nijhoff.

Siswandhi, Ronny dan Harkantiningsih, 1982. Timbul Tenggelamnya Perdagangan Keramik Di Banten Berdasarkan Data Arkeologi, dalam Majalah Arkeologi. Jakarta:FSUI.

—– 1992. Studi Perdagangan Keramik Di Indonesia:Melalui Data Arkeologi. International Seminar on Japanese Export Ceramics. Serang:Puslitarkenas-The Japanese Foundation-Pemda Serang

Takashi, Sakai. 1993. Ekspor Keramik Hizen Dengan Kerajaan-kerajaan Zheng dan Banten, dalam Banten Pelabuhan Keramik Jepang:Situs Kota Pelabuhan Islam Di Indonesia Jakarta:Japan Foundation-Puslitarkenas

Takashi, Sakai dan Naniek H. (ed) 2000, Laporan Penelitian Ekskavasi Situs Tirtayasa, Banten. Jakarta:Puslitarkenas.

——2007. Laporan Penelitian Ekskavasi Situs Tirtayasa, Banten dan Benteng Wolio, Buton. Jakarta:Puslitarkenas.

Volker T. 1954. Porcelain and the Ducht East India Company. Laiden: E.J. Brill

Wibisono 2004A Brief History of Research on Trading Ports/Harbour Sites. Country Report Indonesia dalam Workshop on the Archaeology of Early Harbours and Evidence for Inter-Regional Trade. Singapore: ARI-NUS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: