Oleh: hurahura | 8 Januari 2011

Dari Lapangan Singa ke Lapangan Banteng

Warta Kota, Sabtu, 8 Januari 2011 – Dulu Lapangan Banteng masih berupa rawa-rawa dan hutan belantara. Sejarahnya dimulai ketika pada 1648 kawasan itu diberikan kepada Anthonij Paviljoen. Karena itu nama pertama Lapangan Banteng adalah Paviljoensveld. Dari tempat yang tidak terurus, Paviljoen mengubahnya menjadi lapangan rumput. Banyak ternak mencari makan dengan leluasa di tanah lapang ini.

Kemudian Paviljoen menjual tanah ini kepada Cornelis Chastelein, seorang anggota Dewan Hindia (1693). Segera dia membeli banyak budak dari raja-raja Bali untuk membuka persawahan di kawasan itu. Perkebunan kopi juga dikembangkan oleh Chastelein. Rumah peristirahatan kecil miliknya yang berlokasi di tempat berdirinya RSPAD Gatot Subroto sekarang, dinamainya Weltevreden atau ’Benar-benar puas’. Weltevreden merupakan nama lain dari Lapangan Banteng yang cukup populer.

Pada 1733 Justinus Vinck membeli Weltevreden. Dia hanya melakukan sedikit perubahan di tempat ini. Pemilik selanjutnya adalah Gubernur Jendral Jacob Mossel (1704-1761). Dia menjadikan Weltevreden sebagai pusat administrasi, tidak saja untuk Batavia, melainkan untuk seluruh jaringan kantor dagang dan koloni Belanda yang terbentang antara Jepang dan Afrika Selatan.

Pada 1767 rumah Weltevreden dibeli oleh Gubernur Jendral van der Parra. Namun karena Parra suka kemewahan, uangnya selalu habis dalam sekejap. Akibatnya dia menjual rumah itu kepada Gubernur Jendral van Overstraten (1797-1801). Di kawasan ini Overstraten membangun markas militer baru.

Pada awal pemerintahan Daendels, 1809, dia mulai membangun sebuah istana yang besar dan megah. Kini bangunan itu dipakai oleh Departemen Keuangan. Daendels bermaksud menjadikan istana itu sebagai pusat ibukota barunya di Weltevreden.

Pada 1828 pemerintah kolonial mendirikan Tugu Singa, maka lapangan di sekitarnya disebut Lapangan Singa. Tugu Singa merupakan monumen pertempuran Waterloo, untuk mengejek kekalahan Napoleon dalam Perang Waterloo tersebut. Oleh sebagian orang, Lapangan Singa disebut juga Waterlooplein atau Lapangan Waterloo.

Sejak akhir abad ke-18 banyak tangsi didirikan di sekitar Lapangan Banteng. Karena itu lokasi tadi disebut Paradeplaats, yakni lapangan untuk mengadakan parade. Pada 1942 Tugu Singa dihancurkan oleh militer Jepang. Meskipun demikian nama Lapangan Singa tetap dikenal.

Pada 1955 Lapangan Singa digunakan untuk kampanye pemilu sejumlah partai. Waktu itu pemenang pemilu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berlambang kepala banteng. Maka kemudian populer nama Lapangan Banteng. Nama itu tetap dipakai sampai sekarang. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori