Oleh: hurahura | 14 Juli 2010

Cara Baru Mencetak Doktor

13 Juni 1987 – INI mirip lingkaran setan. Untuk mempromosikan doktor dalam bidang epigrafi, diperlukan adanya guru besar. Sarjana yang layak diangkat menjadi guru besar atau profesor itu menolak diangkat bila ia belum meraih doktor.

“Saya tak mau jadi guru besar kalau tidak jadi doktor dulu. Nanti orang mengira saya ini profesor tabib, sebab tak ada gelarnya,” kata Drs. Boechari, ahli epigrafi yang hendak diprofesorkan itu.

Epigrafi, disiplin ilmu tentang prasasti, tulisan kuno dan semacamnya memang belum mempunyai ahli setingkat doktor. Sementara itu, makin terasa dibutuhkan adanya ahli untuk penelitian peninggalan-peninggalan kuno di Indonesia.

Maka, setelah tawaran kepada Boechari, 60 tahun, Kepala Lembaga Arkeologi Fakultas Sastra UI pada 1974 itu ditolak, pihak Senat Guru Besar UI terus mencari cara melahirkan doktor epigrafi. Baru tahun inilah, cara menembus lingkaran setan itu ditemukan. Dan tetap Boechari yang mendapat kehormatan untuk jadi doktor epigrafi pertama.

Pertengahan Maret lalu Dekan FS UI Dr. Nurhadi Magetsari menyampaikan hal itu kepada epigraf kelahiran Rembang, Jawa Tengah, itu. Nurhadi, ditemani Prof. Dr. Koentjaraningrat, tokoh antropologi, menjelaskan, yang akan dijadikan disertasi adalah kumpulan tulisan Boechari yang pernah dipublikasikan.

Tulisan-tulisan itu telah dipilih oleh Koentjaraningrat – profesor ini juga menawarkan diri menjadi promotor berjumlah 15 judul. Boechari hanya diminta menulis pengantar dan penutup karangan. Boechari akhirnya menerima tawaran itu, walau ia mengaku kurang sreg dengan cara promosi seperti ini.

“Habis, bagaimana lagi? Dan saya didesak oleh Koentjaraningrat, bekas guru saya di SMA.” Maka, untuk pertama kalinya di perguruan tlnggi Indonesia akan diadakan promosi doktor yang disertasinya merupakan kumpulan karangan. Tapi, sebenarnya, bila ditilik latar belakang karangan-karangan itu, promosi ini tak terlalu menyalahi prinsip.

Begitu Boechari lulus dari Jurusan Arkeologi bidang Epigrafi FS UI, 1958, ia langsung menghubungi Prof. Louis Charles Damais dan Prof. Poerbatjaraka, untuk mendapat bimbingan guna menulis disertasi. Boechari tak lama kemudian melakukan penelitian pula.

Namun, ketika disertasi hampir rampung, 1965, kedua pembimbingnya itu meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan. “Untuk merampungkan disertasi itu tak ada gunanya lagi. Tak ada orang yang berkompeten untuk dijadikan promotor,” kata Boechari. Lalu ia merasa betapa pentingnya hasil penelitiannya itu dipublikasikan. Ia pun menulis artikel di majalah dan jurnal ilmiah.

Penelitiannya yang penting, misalnya, tentang asal-usul Dinasti Sailendra berdasarkan prasasti di Desa Sojomerto, Pekalongan, 1965. Penelitian ini menggugurkan teori lama yang menyebutkan asal-usul dinasti ini dari luar Indonesia. Sebelum itu, pada 1962, Boechari menggali prasasti di Desa Banjar Arum, Bojonegoro.

“Saya menemukan data otentik tentang pembagian kerajaan Erlangga pada abad ke-11. Prabu Erlangga membagi dua kerajaannya, menjadi Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu, karena kedua anaknya berselisih sampai terjadi perang saudara. Dari kenyataan itulah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan, yang semula kaget, akhirnya menyetujui “potong kompas” gaya UI ini.

Sebab, bila toh kasus ini jadi preseden, “Tak sembarang artikel bisa jadi disertasi,” kata Nurhadi, Dekan FS UI itu. Ditemui di rumahnya di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat, Boechari, ayah dua anak, sampai pekan lalu belum juga menulis introduksi dan penutup untuk kumpulan karya ilmiahnya. “Saya belum tahu pasti kapan pengujiannya.”

(tempointeraktif.com)

Iklan

Responses

  1. rasyad.pb

  2. bagus

  3. bagus sekali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: