Oleh: hurahura | 10 Februari 2017

Agama dan Tradisi Saling Memberi Arti

prambanan-sewuKompleks Taman Wisata Candi Prambanan, di dalamnya terdapat beberapa candi Hindu dan Buddha

nalika ana wong sěmbahyang dibom
nalika ana sanggar pamujan dibongkar
nalika ana buku-buku suci padha dibakar
kayané saiki Gusti lagi saré
(Ki Romonadha)

Harus diakui bahwa di tengah pusaran politik kedaerahan yang kian memanas seperti beberapa bulan belakangan pasti ada sendi-sendi kebangsaan yang ikut terkoyak. Semakin santer terdengar keributan yang mengatasnamakan kebenaran agama. Lantas di belakang sana ada rakyat yang heran mengapa isu agama dan sektarian selalu dibesar-besarkan. Padahal mereka tidak pernah mempersoalkan.

Sudah berulang kali kata toleransi dan intoleransi didengung-dengungkan tapi tetap saja berlawanan tanpa ada penyelesaian. Apabila kita ingat kembali, kebesaran republik ini berasal dari rasa memiliki di antara sesama hidup yang utuh. Semboyan-semboyan kebangsaan, seperti Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa dan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, diulas dan dipasang di dinding rumah warga maupun kantor instansi pemerintahan masih belum sanggup menggedor pola pikir yang cenderung sempit.

Berbicara tentang toleransi di republik sebenarnya sudah tumbuh sejak periode Klasik (Hindu-Buddha), setidaknya pada awal abad ke-8 Masehi (Mataram Hindu) sebagaimana tercermin dalam Prasasti Kelurak (782 Masehi). Disebutkan dalam prasasti tersebut bahwa di dalam triratna yang meliputi buddha, dharma, dan sangga terdapat trimurti.

Raja-raja Mataram Hindu telah mengeluarkan berbagai macam prasasti, dan ada tiga Prasasti Ratu Baka yang cukup menarik karena di dalam prasasti itu dicantumkan tentang pendirian tiga lingga yang diberi nama-nama Dewa Siwa, yaitu Krttiwasa, Tryambaka, dan Hara. Prasasti Ratu Baka A menyebutkan bahwa Krttiwasa menari-nari di tempat leluhur sambil memanggul mayat. Prasasti Ratu Baka B menyebutkan Tryambaka adalah nama Dewa Siwa yang memiliki dua pengertian. Pertama, stri-ambika yang berarti Rudra adalah saudara atau beristri Ambika; kedua, tri-ambaka yang berarti tiga ibu, dan di sini Siwa adalah ibu atau tumpuan tiga dunia yaitu air, tanah, dan angkasa. Prasasti Ratu Baka C menyebutkan Hara adalah Rudra atau Siwa sebagai penakluk tiga kota asura.

Ketiga wujud Dewa Siwa tersebut diberi pasangan berupa tiga wujud Laksmi, yaitu Sri, Suralaksmi, dan Mahalaksmi. Hal ini merupakan wujud dari adanya toleransi antara agama Siwa dan agama Buddha yaitu pernikahan antara Rakai Pikatan dengan salah satu putri dari dinasti Sailendra.

Sementara itu, apabila kita memperhatikan dengan seksama relief-relief yang ada di Candi Borobudur pun bercerita tentang toleransi yang terjadi di abad ke-9 Masehi. Candi ini memang berlatar belakang Buddha Mahayana, tetapi para senimannya atau sering disebut śilpin tanpa ragu menggambarkan pendeta selain bhiksu pada adegan-adegan relief yang ada.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Hariani Santiko pada 1973 dan 1975 didapatkan sebuah fakta menarik bahwa dalam radius 5-10 km di sekitar Candi Borobudur terdapat banyak sisa candi berlatar belakang agama Siwa. Candi-candi Siwa tersebut berjumlah 30 situs dalam radius 5 km pada umumnya berukuran kecil dan terbuat dari bata merah.


Saling Berbagi

Pada masa Mataram tidak sedikit raja yang beragama Hindu menetapkan sima sebagai tempat pendirian sebuah vihāra. Seperti Rakai Kayuwangi menetapkan sima untuk vihāra di Kalirungan yang merupakan dharmma Rake Hamēas Pu Tatu; Rakai Watukura Dyah Balitung mengembalikan status sawah di Wanua Tengah sebagai sima vihāra di Pikatan. Ia juga menganugrahkan hak menetapkan sima kepada Pu Layang untuk sima bagi vihāra di Hujung Galuh dan di Dalinan.

Dari sini kita dapat melihat kearifan pemimpin masa lalu, meski raja tersebut beragama Hindu tetapi tetap memperhatikan rakyatnya yang beragama Buddha. Sejak awal, memang bangsa ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Bangsa ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa! Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama bangsa ini: melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam sabda alam melainkan karena diancam saudara sebangsa, bangsa ini telah ingkar janji. Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas saudara sebangsa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu, berseliweran kata minoritas dan mayoritas di mana-mana.

prambanan-001

Candi Prambanan bersifat Hindu. Di dekatnya terdapat Candi Sewu yang bersifat Buddha (Foto-foto: corporate.borobudurpark.com)

Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan berjubah agama. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lain. Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama warga bangsa. Kesemuanya terjadi secara amat terang-terangan, terbuka, dan brutal. Apa sikap negara dan bangsa ini? Diam? Membiarkan? Tidak! Bangsa ini tidak pantas loyo dan lunglai menghadapi warga negara yang pilih pakai pisau, pentungan, parang, bahkan pistol untuk mengungkapkan perasaan cinta, keyakinan akan agama, dan pikirannya yang sungguh pragmatis itu.

Bukankah cinta adalah mata yang tidak membenci? Saya masih percaya di  negeri ini masih ada orang waras yang opitimis. Bangsa ini perlu fokus pada inspirasi tentang kemajuan, bukan ilustrasi kegagalan dan kekacauan. Bangsa Indonesia harus diurus orang baik karena keberadaannya didirikan oleh para pemberani. Kaum terdidik yang sudah selesai dengan diri mereka.

Lihat sejarah kita, gamblang sekali. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang berintegritas. Integritas itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar menghadapi apapun. Bukan pencitraan, tapi integritas dan keseharian yang apa adanya membuat mereka mempesona. Mereka jadi cerita teladan seantero negeri.

Republik ini perlu pemimpin yang mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas yang berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk lecet-lecet melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi semua janjinya.

Ketika Hayam Wuruk berkuasa, bermunculan pusat-pusat keagamaan yang dikelola oleh para rsi. Tempat tersebut dikenal dengan nama mandala atau kadewaguruan, letaknya kebanyakan di lereng-lereng gunung seperti Penanggungan, Arjuna, Welirang, Wilis, Lawu, dan Argopuro. Saya dalam tulisan ini tidak ingin hanya membicarakan toleransi dalam arti sempit. Namun toleransi itu juga bisa berarti bagaimana seorang pemimpin dapat memperhatikan dan melindungi tinggalan leluhurnya. Raja besar dari Wilwatikta itu memberikan perhatian yang cukup besar terhadap sejumlah kadewaguruan dengan cara setiap tahun beliau menyempatkan mampir ke tempat-tempat tersebut.


Indonesia Bukan Negara Agama

Mahatma Gandhi dalam dalam sebuah kesempatan pernah menulis di Harian Young India 11 Agustus 1927 begini, sekalipun saya seorang kawan, saya juga seorang pengeritik. Bukan berasal dari keinginan untuk menjadi kritikal, tapi saya merasa akan menjadi seorang kawan yang lebih baik bila saya membuka hati saya, sekalipun dengan resiko melukai perasaan mereka. Mereka tidak pernah mengizinkan saya untuk berpikir bahwa mereka merasa tersinggung. Mereka tidak pernah menyesalkan kritikan saya.

Ya, apabila diperas intisari dari toleransi yang sudah ditanam begitu kuat di republik ini adalah sikap saling terbuka di antara sesama masyarakat. Iya memang benar, pada awalnya di republik ini tidak ada Hindu tapi Siwa dan Buddha (disebut berdasarkan nama dewa yang dipuja). Tetapi sekali lagi perlu ditegaskan dalam kesempatan kali ini bahwa dari dulu Indonesia bukanlah negara agama.

Mari menengok barang sekejap ke arah barat dari tanah Jawa, sebab di sana terdapat peninggalan situs percandian Batujaya yang juga merepresentasikan awal peradaban dan toleransi di negara kita. Berdasarkan tinjauan bentuk arsitekturnya dapat diketahui bahwa bangunan candi-candi di Batujaya bernafaskan agama Buddha. Reruntuhan stupa ditemukan di beberapa situs candi-candi Batujaya. Hal ini menunjukkan candi yang bersangkutan bernafaskan agama Buddha. Selain itu, beberapa candi di Batujaya juga mempunyai bentuk sumuran di bagian tengahnya, hal itu menandakan bahwa terdapat juga unsur bangunan candi Hindu di situs tersebut, karena bentuk perigi pada masa kemudian biasanya didapatkan di candi-candi Hindu di Jawa.

Akan tetapi terdapat satu unur yang ketika diadakan penelitian oleh arkeolog tidak mengandung struktur bata di dalamnya. Unur tersebut benar-benar kosong, hanya berupa tumpukan tanah dan pasir. Mengenai hal ini, dapat diasumsikan bahwa unur gundul –masyarakat lokal menyebutnya demikian– adalah simbol Mahameru yang menjadi acuan bangunan-bangunan candi di Situs Batujaya. Alasannya, karena di daerah Karawang Utara cukup jauh dari perbukitan dan gunung. Maka dibuatlah gunung tiruan sebagai Mahamerunya wilayah Batujaya, yaitu Unur Gundul.

Sebenarnya Indonesia tidak kekurangan contoh dalam hal implementasi bertoleransi. Adanya unsur caci maki di antara anak negeri seperti yang akhir-akhir ini terjadi. Hal itu disebabkan oleh perasaan yang belum bisa menerima dan mengaprasi perbedaan yang terpampang di depan mata. Kalau begitu apa benar ilmu pengetahuan telah membuat manusia semakin beradab? Apa benar spiritualitas sudah membuat manusia semakin lembut?

Perlu dimengerti bahwa kekerasan dan ketidakpastian hadir di setiap putaran waktu. Termasuk di zaman ketika Sri Baduga dan Dyah Ranawijaya berkuasa sehingga menuduh berlebihan bahwa kekerasan dan ketidakpastian hanya hadir di zaman ini saja, sungguh sebuah masukan untuk mendalami sejarah lebih dalam lagi. Bedanya dengan orang kebanyakan, para penguasa zaman dulu hampir tidak pernah berperang karena agama dan sektarian. Mereka terpaksa berperang karena sudah terpojok atau berebut kekuasaan.

Pada zaman modern pun bermunculan sosok-sosok pemimpin yang berintegritas, seperti Mahatma Gandhi tidak lari dari ancaman senjata tentara Inggris. Nelson Mandela tidak bergeming ketika dipenjara selama dua puluh tujuh tahun. Bunda Teresa berjalan terus ketika dituduh keras kepala. Mereka semua selalu kembali ke payung kelembutan. Jika yang tergores ada padamu, yang mengerang haruslah suaraku. Tidak hanya karena itu diajarkan oleh semua agama, nabi, dan rsi, melainkan karena kelembutanlah sifat alami semua makhluk di alam ini.

Indonesia memang bukan negara agama dan perbedaan bisa berbahaya karena mungkin saja tidak semua toleran dengan yang tak sama. Kita sering tidak siap menatap yang aneh. Gampang menampik yang kelihatan nyĕlĕnèh. Keganjilan memang tak mudah dimengerti apalagi jika menyulut kontroversi. Cemooh jadi santapan mereka yang minoritas dan tak pelak menjadi gunjingan di sana-sini. Jika semua larut dalam kebiasaan, arus mainstream mayoritas yang kebablasan, lantas dari mana datangnya angin persaudaraan, persatuan, dan perubahan?

Berawal dari perjalanan sejarah dan data artefaktual yang masih mengonggok di persada semesta, (semoga) kita menjadi paham bahwa hanya ada satu yang menjadi tanah air kita. Indonesia adalah keniscayaan karena di sinilah masa depan kita dipertaruhkan. Negeri indah, elok, dan permai, yang sanggup membuat air mata perantau jatuh berderai. Negeri dengan ragam budaya dan kebiasaan bertoleransi tak terbantah. Hal ini sudah terbaca sejak dahulu kala. Tapi bukankah kebanggaan tidak berarti apa-apa jika warga dan negara tidak berbuat apa-apa? Lalu bagaimana caranya menjaga toleransi, berbakti merawat Indonesia yang kita miliki?


Meminta Banyak Syarat

Ya, kadang kala kita harus berpikir Indonesia belumlah yang terhebat. Sebab, menjadi besar layaknya Sriwijaya dan Wilwatikta meminta banyak syarat. Dari mereka kita bisa mendapatkan bukti bahwa nasionalisme bukan slogan mati. Sejak awal, Indonesia tidak terbuat dari kebanggaan yang sama, tapi kesamaan nasib anak bangsanya. Terbangun dari rasa memiliki jati diri, anak bangsa yang berjanji untuk peduli terhadap kelangsungan hidup tinggalan bendawi. Di tanah kita agama dan tradisi saling memberi arti seperti halnya Candi Jawi dan ritus Sradha raja Wilwatikta. Keberadaannya membuka peluang untuk saling menghargai di antara sesama. Indonesia adalah negara hebat, hal ini terbukti dari kemegahan candi dan detailnya sebuah catatan Citraleka yang dibubuhkan ke dalam sebuah prasasti. Mari menjaga yang kita miliki, membangun peradaban baru yang lebih santun terhadap masa lalu.

Jika diibaratkan, tinggalan arkeologi dan toleransi seperti halnya lembaran kertas yang tak sepenuhnya terbuka. Keberadaannya selalu dikelilingi diam dan hemat kata karena memang sudah ratusan bahkan ribuan tahun dia geming dan membatu. Orang-orang belajar dari eksistensinya, yang kadang kala hening dari ingar-bingar pembangunan dan perhatian pemerintah.

Terlalu besar yang dipertaruhkan jika pembangunan tak mengindahkan eksistensi warisan budaya. Bukti toleransi perlu dijaga dan dijunjung tinggi agar anak negeri bisa berbangga hati. Ya, memang lumayan berat mempertahankan. Sebab, terkadang harus melalui adu argumen dan tinju yang kuat.

Jika seorang arkeolog diharuskan untuk berbicara tentang toleransi masa lalu di tengah masifnya pembangunan fisik di masa kini. Saya hanya ingin berkata, dari dulu hingga sekarang jelas terlihat betapa pentingnya menjaga warisan budaya. Mengambil alih tugas sejarah serta menghidupi makna tinggalan berbenda adalah tugas yang perlu diemban oleh arkeolog muda. Lihatlah ke timur, di sana ada Situs Gumuk Putri dan Gumuk Klinting yang selalu tegak menjawab adanya kerukunan antara Hindu dan Buddha di tanah Blambangan.

Meski susah dan sering dipersalahkan karena disangka melawan modernitas, kita harus turun tangan, memelihara untuk menjawab tantangan zaman. Menjaga warisan dari gelap mata kuasa, tidak sekadar memburu kapital, karena Indonesia lebih butuh solidaritas dan modal sosial. Pada masyarakat yang menjadi publik kami titipkan masa depan tinggalan arkeologi. Jangan biarkan mereka hangus oleh ego dendam dan bumbu sektarian. Buat apa wilayah dari Sabang sampai Merauke jika masyarakatnya kehilangan idealisme berwarisan budaya? Sedangkan, masyarakat kuna zaman dulu tidak henti-hentinya menggelorakan kehendak bersatu demi menjaga kehormatan peradaban bangsa.

Mari belajar dari keteguhan orang Tengger, selain berteguh janji menjaga eksistensi tetapi mereka juga memelihara toleransi kepada Tuhan, manusia dan alam (Tri Hita Karana). Maka tidaklah salah jika ada seorang penyair Jawa yang menerjemahkan Tengger seperti berikut. //Titikané tiyang Jawi/ Émut mring para lĕluhur/ Nora gèsèh mrana-mréné/ Gugon tuhon nora ical/ Gugon tuwon kang dèn bucal/ Éling waspada ing laku/ Rahayu tĕtujonira// (Beginilah ciri-ciri orang Jawa –seharusnya– selalu ingat kepada leluhur atau asal muasanya. Tidak akan lari ke mana-mana karena meyakini yang nyata dan membuang kabar burung. Mereka senantiasa ingat dan selalu waspada dalam setiap tindakannya. Selamatlah yang menjadi tujuannya).

Ya, begitulah karakter orang Jawa sebenarnya. Tetapi sungguh tidak gampang mempertahankan unsur-unsur nilai toleransi dan kesantunan budi di saat ini. Punden dan arca yang berbaur dengan bunga melati disangka klĕnik dan musrik. Ketika keluhuran masa lalu itu berusaha dipertahankan selalu ada tentangan, cacian, dan sedikit sendawa dari para tuan dan nyonya yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Saya tahu, menjaga tradisi di tengah zaman edan seperti sekarang bukan perkara mudah. Saya dan kawan-kawan muda lainnya harus siap dikucilkan oleh pergaulan. Dulu pernah ada yang bilang jangan menolak yang baru dan jangan melupakan yang sudah mendarah daging di tanah Jawa. Tetapi mengapa ungkapan itu ora tumama (tidak mempan) lagi menggedor pola pikir orang yang penuh kekonyolan ini.

Sudah lama rĕbab yang ada di pĕringgitan tergeletak begitu saja tanpa ada yang mampu menyuarakannya. Sebab, sekali saja dia mengalun nanti pasti dikira bakal mengundang ḍĕmit oleh banyak orang. Padahal di balik bentuknya yang sederhana terdapat nukilan keindahan budaya Jawa yang sudah mapan dalam sĕsanggĕman.

Apabila digali dan digeledah, luntur dan tidak mempannya budaya Jawa di era sekarang sejatinya bukan salah siapa-siapa karena memang keadaan yang berkata demikian. Ibaratnya sebuah rumah, dia sudah terlanjur roboh dan akan didirikan kembali dari arah manapun sangat sulit. Sekarang jalan keluarnya ada di dalam diri masing-masing individu. Pondasi toleransi yang kali ini mulai rumpil tersebut harus dibangun kembali melalui hati bukan lathi (mulut). Lĕlakon ini semacam pĕpiling (pengingat), melihat hal semacam ini jangan malah mengeluh tapi kita harus percaya pada diri pribadi bahwa  dapat mengerti dan menempatkan diri.

Memang saat ini toleransi di republik sedang koyak-moyak dengan adanya ujuk rasa di mana-mana. Ya, pada intinya kita semua tengah belajar membangun sebuah masa depan baru. Di belakang kita sebuah jalan berliku telah kita hadapi, dan merayakan kebhinekaan tidak harus dengan caci maki. Masa demi masa telah berganti –dari Kudungga sampai Wirabhūmi– setiap pemimpin punya ceritanya sendiri-sendiri. Candi, prasasti, dan sedikit kronik ada untuk tanda bukti sejarah toleransi yang nyata. Jejak peradaban masa lalu tertinggal abadi, memberi fondasi republik seperti hari ini.

Jika toleransi masih bisa ditambat berarti Indonesia masih bisa berharap. Mereka yang senang kasih sayang pasti tidak takut menjadi orang tersisih. Kita sebenarnya rindu keteladanan dan bukan hingar-bingar pertentangan dan delik aduan di persidangan. Persoalan toleransi dan/atau intoleransi adalah persoalan sehari-hari yang menyangkut hidup matinya bangsa di kemudian hari. Dengan penduduk yang majemuk memang tidak mudah menyelaraskan pola pikir, kepentingan, apalagi perbedaan. Publik seakan dipaksa putus asa melihat toleransi yang saban hari kian tidak terpatri di sanubari. Istiqlal dan Katedral adalah sebuah fakta kekinian bagaimana toleransi antar umat beragama masih kokoh dan kuat. Sekarang terserah padamu, bagaimana cara mengungkapkan persatuan dalam jiwa dan perasaan di kemudian hari. Entah, aku tak tahu…

Penulis: Jingga Kelana di Banyuwangi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: