Oleh: hurahura | 22 April 2010

Arkeologi Jadi Acuan Pengembangan Kota Lama

SEMARANG, KOMPAS.com — Penemuan arkeologi dapat digunakan sebagai salah satu acuan pengembangan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah. Adanya data baru dapat dijadikan referensi untuk mengetahui morfologi pengembangan kota dari masa ke masa.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang Farchan, Rabu (27/5), seusai publikasi penemuan arkeologi peninggalan Benteng Kota Lama di Balai Kota Semarang.

Menurut Farchan, penambahan data berdasarkan temuan tersebut diperlukan sebagai bahan bagi Pemerintah Kota Semarang untuk mengembangkan Kota Lama. “Hal ini mengingat sejarah embrio Kota Lama masih menjadi perdebatan oleh berbagai pihak,” ucap Farchan.

Berdasarkan ekskavasi yang dilakukan pada 18-27 Mei, tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta berhasil menemukan sisa struktur bangunan, artefak perkakas rumah tangga seperti mangkuk, piring, botol, dan toples, serta tatanan batu bata untuk membuktikan keberadaan Benteng Kota Lama.

Berbagai temuan tersebut didapatkan tim peneliti setelah membuat dua lubang ekskavasi sedalam sekitar 1,5-2 meter di sebuah lahan parkir bus DAMRI yang berada di Jalan Empu Tantular, Kota Semarang.

Ketua Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengemukakan, fondasi yang diduga sebagai bagian dari Benteng Kota Lama tersebut ditemukan berdasarkan garis imajiner yang terdapat pada peta tahun 1800. “Adapun sekitar 500 artefak peralatan rumah tangga yang ditemukan menandakan padatnya hunian di dalam benteng,” ujar Sugeng.

Hasil penemuan tersebut menegaskan keberadaan benteng Kota Lama yang pernah berdiri pada tahun 1756-1824. Keberadaan benteng yang memagari Kota Lama ini sebelumnya hanya diketahui melalui literatur sejarah dan peta tahun 1800. “Temuan ini menunjukkan bahwa benteng tersebut benar-benar ada,” kata Sugeng.

Benteng Kota Lama diduga dibangun dalam rentang waktu antara 1741-1756 atau pascarubuhnya Benteng Vijfhoek. Benteng milik VOC ini diduga merupakan pengembangan dari Benteng Vijfhoek atau Benteng Segi Lima yang telah ada sejak 1724.

Ahli sejarah dari Universitas Diponegoro, Dewi Yuliati, mengatakan, penemuan fondasi dan artefak tersebut belum sepenuhnya membuktikan sebagai peninggalan Benteng Kota Lama.

Berdasarkan literatur Oud en Nieuw Oost Indie tentang perjalanan pengelana Belanda Francois Valentijn, Dewi mengungkapkan, keberadaan Benteng Kota Lama telah ada sejak tahun 1724. “Yang lebih meragukan, benteng tersebut diduga dirubuhkan untuk pembangunan rel kereta api, padahal rentang waktunya terlalu jauh,” ucap Dewi.

(kompas.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori