Oleh: hurahura | 30 Agustus 2012

Asal-usul Nama Kampung Kwitang (1)

Warta Kota, Kamis, 23 Agustus 2012 – Nama Kwitang sudah populer sejak lama. Ketika pada 1980-an pedagang buku bekas berjualan di kawasan ini, nama Kwitang kerap disebut-sebut. Konon nama Kwitang berasal dari Kwee Tang Kiam (sumber lain menyebut Kwik Tang Kiam), seorang pengembara Tiongkok yang datang ke Batavia pada abad ke-17. Dia adalah pedagang obat sekaligus ahli bela diri kuntao (semacam silat). Karena usahanya berhasil, Kwee menjadi kaya raya. Hampir semua tanah yang berada di lingkungan tempat tinggalnya, merupakan miliknya. Maka orang-orang Betawi menyebutnya kampung si kwi tang. Pendapat berbeda terdapat dalam http://www.budaya-tionghoa.net. Dikatakan nama Kwitang berasal dari Guidang, yakni nama provinsi Guangdong dalam lafal Hokkian.

Kehebatan ilmu silat Kwee Tang Kiam diakui masyarakat saat itu. Dia mengajarkan jurus-jurus ampuh yang memadukan unsur tenaga, kekuatan fisik, dan kecepatan. Hal ini sangat berbeda dengan aliran silat Betawi yang lebih menonjolkan ilmu kebatinan. Akulturasi silat Betawi dengan kuntao menyebabkan Kwitang dikenal sebagai gudangnya jagoan pencak silat. Dalam novel Nyai Dasima yang disusun dalam bahasa Melayu rendah (1896), misalnya, dikisahkan Dasima dibunuh oleh seorang jago dari Kwitang (Heuken, Tempat-tempat bersejarah di Jakarta, 1997). Perguruan silat Mustika Kwitang pernah disegani dan melahirkan atlet-atlet berbakat dalam beberapa kali ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Sayang kini perguruan tersebut kian terpuruk bahkan nyaris punah.

Tanah milik Kwee pun berkurang sedikit demi sedikit karena ulah anaknya yang gemar berjudi. Tanah itu dijual kepada orang-orang keturunan Arab yang banyak bermukim di sana. Komunitas Arab Betawi ini kemudian mendirikan masjid Kwitang yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 1963. Masjid ini menjadi besar karena kepemimpinan Habib Kwitang. Saat ini berbagai aktivitas keagamaan masih diselenggarakan oleh majelis taklim Kwitang.

Satu abad lalu, kampung ini masih dilalui getek-getek dari bambu yang melintas di Sungai Ciliwung. Di sungai ini para warga melakukan hajat, seperti mencuci, mandi, berwudhu, dan buang air besar. Kala itu letak rumah-rumah lebih tinggi dari sungai, sehingga bila Ciliwung meluap tidak sampai menimbulkan banjir. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori