Oleh: hurahura | 20 April 2010

Lima Naskah Kuno Ditemukan

Selasa, 20 April 2010 – PAGARALAM (SI) – Tim Survei Aksara Lokal Balai Arkeologi Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) menemukan lima naskah kuno (hurup ulu baru). Tiga ditemukan di Kota Lubuklinggau dan dua naskah lagi ditemukan di Pendopo Lintang, Kabupaten Empat Lawang.

Ketua Tim Survei Aksara Balai Arkeologi Palembang, Sumsel, Wahyu Rizky Andhifani, mengungkapkan naskah kuno tersebut ditemukan tim peneliti aksara hurup ulu beranggotakan empat orang saat melakukan penelitian di lima kabupaten/kota sejak 12 April lalu. Rencananya penelitian akan berlangsung hingga 23 April mendatang. Lima daerah yang diteliti yakni Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, Empat Lawang, Musi Rawas (Mura), dan Kota Lubuklinggau. “Saat ini baru dua daerah yang sudah diteliti, sedangkan tiga daerah lagi akan menyusul dalam waktu dekat,” ungkapnya kemarin.

Dia menjelaskan, tiga naskah ditemukan di jalan Patimura Gang Karya Rt 03 No 36 Mesatjaya,Kota Lubuklinggau. Naskah ditulis di atas tanduk kerbau berisikan tentang piagam kertegune.Sedangkan dua naskah lagi ditemukan di Desa Lingge,Kecamatan Pendopo,Empat Lawang. Isinya tentang bercocok tanam dan mengusir hama tanaman. “Memang untuk menemukan berbagai peninggalan bersejarah berupa aksara ulu dibutuhkan waktu dan melalui pendekatan terhadap masyarakat. Sebab peninggalan ini tidak semua orang menyimpan dan sifatnya hanya koleksi saja,”ujarnya. Dia mengatakan, pencarian berbagai benda bersejarah ini dilakukan dengan mendatangi sejumlah “Dusun Tua”. Kemudian bisa juga di daerah pusat marga dan orang-orang yang menjadi elite pemerintahan pada zaman itu.

Menurutnya, pihaknya tidak terlalu kesulitan untuk menemukan berbagai benda bersejarah berupa sejumlah naskah ulu.Melalui pendekatan terhadap tokoh adat, mantan pesirah ataupun dinas pariwisata setempat,alhasil berbagai benda bersejarah mereka kumpulkan. Dia menambahkan, khusus di wilayah Empat Lawang,ada empat dusun tertua dan masih memiliki mantan petinggi pemerintahan waktu itu, yaitu pesirah. Mereka berharap, pesirah yang dimaksud dapat memberikan banyak informasi. “Ternyata dari sejumlah naskah ulu cukup banyak makna yang tersurat, dan kalau diaplikasikan dengan kondisi saat ini cukup memiliki hubungan erat.

Bisa diambil contoh,sebetulnya otonomi daerah sudah dilakukan pada zaman dahulu,” ujarnya. Anggota Tim Survei Aksara Lokal Balai Arkeologi,Retno Purwati menambahkan, hasil penelitian, cukup banyak penemuan luar biasa yang pernah dilakukan nenek moyang zaman pada zaman terdahulu, termasuk pengungkapan pada naskah aksara di Lahat tentang strategi perang. Naskah kuno tersebut ditulis dalam bentuk penulisan yang bervariasi.Ada yang menggunakan surat alquran, arab melayu dan huruf ulu. Menurut dia cukup banyak peninggalan jenis hurup pada masa lampau, sehingga perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hasil yang benar-benar sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.

Sebelumnya, Minggu (18/4) lalu, Tim Balai Arkeologi Palembang juga menemukan tiga arca manusia tanpa kepala di Desa Rindu Ati Gumay Ulu,Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat. Kondisi ketiga arca itu mengalami kerusakan cukup parah. Pantauan Seputar Indonesia di lokasi penggalian, ada enam arca, terdiri dari satu dolmen, dan lima arca berbentuk manusia.Tiga arca dalam kondisi tanpa kepala, satu terbalik akibat penggalian,dan satu lagi, banyak bagian yang hilang akibat ulah tangan manusia. Bahkan, di sekitar komplek, kondisi pagar sudah rusak dan tidak terawat dengan baik.“Sekitar tahun 1970, kondisi ketiga arca itu masih utuh, sehingga mudah dikenali, baik bentuk dan kondisinya.

Tiga berbentuk manusia menunggang kuda,lalu seorang ibu mengayun anak, dan satu lagi dengan posisi tertelungkup duduk,” ujar mantan juru pelihara arca Samsi. Kerusakan terjadi,terang Samsi, saat ada seorang warga bermimpi, di sekitar arca terdapat harta karun. Namun, setelah digali, ternyata tidak ada.Akibat kesal karena tidak berhasil menemukan harta karun, warga yang menggali tadi lalu memenggal kepala ketiga arca menggunakan palu besar hingga hancur. (m marzuki)

(seputar-indonesia.com)

Iklan

Responses

  1. wah, asyik ya, bisa kerja sambil berpetualang…

  2. Kalau mau bermimpi itu tidurlah d malam hari setela fajar menyongsong segeralah bangun singsingkn lengan baju berangkat lah untuk bekerja gapailah mimpi anda pada saat anda berfikir untuk maju di saat anda sedang bekerja, bukannya berminpi di siang bolong tanpa tidur malah mencari harta karun di arca peninggaln nenek moyang yg begitu tak trnilai harganya, coba kalau anda brpikir stelah bermimpi sebenarnya harta karun itu yaitu arca itu sendiri yg bisa mendatangkn uang lewat pariwisata TAPI ANDA TAK BERPIKIR


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori