Oleh: hurahura | 24 Februari 2012

Sejarah Wayang di Indonesia

Oleh: Djulianto Susantio
Arkeolog

Pada 2003 UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan pusaka dunia yang berasal dari Indonesia. Wacana tentang wayang sebagai karya adiluhur memang sudah terlontar pada abad ke-19. Ketika itu pakar budaya Hindia Belanda, JLA Brandes mengatakan bahwa wayang merupakan peninggalan asli milik bangsa Indonesia. Menurutnya, segala unsur dalam wayang itu tidak dipengaruhi kebudayaan India, baik yang bercirikan Hinduisme maupun Buddhisme.

Wayang sebagai kebudayaan tertua asli Indonesia, banyak disebut oleh sumber-sumber sejarah, utamanya prasasti. Prasasti tertua yang memberi informasi perwayangan berasal dari masa pemerintahan Raja Airlangga, abad ke-10 Masehi.

Dalam bentuknya yang paling sederhana, konon pertunjukan wayang sudah dikenal di Indonesia jauh sebelum kedatangan orang-orang Hindu. Pertunjukan itu mulai muncul sekitar zaman Neolitik atau tahun 1500 SM.

Munculnya wayang ditafsirkan karena bayangan lukisan manusia dipandang dapat merupakan tontonan yang menghibur. Pada awalnya, gambar bayangan tersebut diwujudkan di atas daun tal. Karena daun tal dianggap terlalu kecil, selanjutnya gambar dipindahkan ke atas kulit lembu atau sapi.

Gambar yang ditatah tersebut kemudian diberi latar kain putih. Dengan bantuan sinar lampu, penonton dapat melihat bayangan hitam pada layar. Itulah yang disebut pertunjukan wayang, yang artinya melihat bayangan (wayangan).

N.J. Krom dan W. Rassers berpendapat bahwa pertunjukan wayang di Jawa sama dengan apa yang ada di India Barat. Jadi kemungkinan wayang merupakan perpaduan unsur Hindu dan Jawa. Ada pula yang mengatakan bahwa wayang berasal dari Cina. Yang berpandangan demikian di antaranya adalah G. Schlegel. Katanya, pada pemerintahan Kaisar Wu Ti, sekitar tahun 140 SM, ada pertunjukan bayang-bayang semacam wayang. Pertunjukan ini menyebar ke India, baru kemudian dari India dibawa ke Indonesia. Adanya persamaan kata antara bahasa Cina Wa-yaah (Hokkian), Wo-yong (Kanton), Woying (Mandarin), dan Wayang (Jawa), mungkin menjadi bukti adanya saling mempengaruhi.

Secara tradisional pertunjukan wayang dimainkan pada malam hari. Hanya untuk kepentingan pariwisata atau menghibur tamu-tamu mancanegara, wayang sesekali dipertontonkan pada siang hari. Waktunya pun jauh dipersingkat, tidak lagi semalam suntuk sebagaimana bentuk aslinya. Hal di luar pakem ini pernah beberapa kali dilakukan oleh pengelola Taman Mini dan museum.

Alasan diselenggarakan pada malam hari adalah karena bila hari sudah gelap, maka dalang dapat mengusir roh-roh yang gentayangan. Ketika itu profesi dalang sangat dihormati karena dianggap sebagai “orang pintar”. Agar bisa berhubungan dengan roh nenek moyang, maka tempat yang dipilih adalah tempat khusus, angker, atau sakral, lengkap dengan pemujaannya. Artefak-artefak yang banyak dijadikan sarana itu adalah dolmen (meja batu), menhir (tugu batu), dan takhta batu yang merupakan peninggalan dari zaman prasejarah.

(Bersambung)

*Tulisan ini merupakan bahan untuk penyusunan ARKEOPEDIA (ENSIKLOPEDIA ARKEOLOGI)

Iklan

Responses

  1. Amit nuwun buko

    ASAL MUASAL WAYANG.
    Wayang mulai ada 200 SM.Wayang pertama kali di gelar di Keraton Pu Chang Su lou Di daerah lasem Rembang blora.jawa tengah Dimana Raja Pu chang su lou Bernama Dattu kie sen dang merayakan pernikahan anaknya bernama Dewi sie ba ha (sibah) dengan seorang Rsi pilihan dewi siebah bernama Rsi agastya kumbayani dari endriya satvamayu(ayodya) india,..pertunjukan wayang gaya China itu kurang menarik maka olih sang Rsi agastya wayang cina di lebur dengan budaya india,..yang wayang tadinya mirip orang orangan china di ubah dengan tampilan india,yang wayang tadinya berambut panjang ke bawah di tekuk ke atas,yang tadinya tidak pake sumping di ubah di kasih sumping,dan dengan perkembangan jaman kerajaan demi kerajaan mengalami perubahan perbaikan sampai akirnya seperti sekarang,wayang cina yang dulunya menceritakan sejarah dinasty Chao di ubah cerita rama yana,..dan di tambah lagi cerita Mahabarata,dll sampai sekarang,…intinya wayang kulit jawa itu dulunya yang jadi dasarnya adalah orang orangan china yang beranbut panjang terus di dandani ala Colammandala India olih sang Rsi agastya kumbayani tadi

    • Maaf mau tanya, info mengenai asal wayang dari Pucangsulo Lasem itu saudara dapat dari mana? Saya orang Lasem dan mungkin belum tahu banyak tentang itu, info yang saya dapat itu bahwa Raja Pucangsulo adalah Hang Sam Badra dan putrinya bernama Dattsu Sie Ba Ha (Dewi Sibah) yang menikah dengan Rsi Agastya Kumbayani, sedangkan tokoh Kie Seng Dhang itu adalah seorang Dhatu yang hidup pada masa Kedhatuan Tanjungputri, berabad-abad jauh sebelum Pucangsulo berdiri. Lalu, info wayang dari Lasem itu didapat dari mana nggeh? Saya kok belum pernah baca tulisan mengenai itu sebelumnya, maupun tulisan dari Mbah Guru pujangga Lasem. Matursuwun 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: