Oleh: hurahura | 3 Agustus 2013

BANGUNAN BERSEJARAH: Peninggalan Sarekat Islam Terancam Dirobohkan

Kompas, Sabtu, 3 Agustus 2013 – Bangunan bersejarah peninggalan organisasi politik pertama di Indonesia, Sarekat Islam, di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Semarang, Jawa Tengah, terancam dirobohkan untuk diganti dengan bangunan baru oleh pengelolanya. Padahal, bangunan itu masih dalam kajian oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya Jateng sehingga tidak diperbolehkan ada aktivitas yang merusak atau mengubah bangunan sebelum kajian selesai.

Gedung yang dibangun sekitar tahun 1919-1920 di lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi itu terletak di tengah permukiman penduduk. Sebagian atap rusak dan hampir roboh. Sebagian dinding terkelupas dan terlihat puing berserakan di sekitar bangunan yang kosong itu. Di bagian pintu masuk utama terpampang tulisan Yayasan Balai Muslimin (Yabami) Semarang yang merupakan pengelola gedung tersebut.

Rifki Muslim, Ketua Yabami, Jumat (2/8), di Semarang, mengatakan, ”Tidak perlu dirobohkan. Bangunan itu akan roboh dengan sendirinya. Kondisinya sudah rusak parah.”

Rifki mengakui, bangunan itu akan diganti dengan bangunan baru berlantai dua yang difungsikan sebagai masjid dan gedung pertemuan yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Selama ini, gedung itu sama sekali tidak difungsikan.

Dia juga mengatakan sudah berkonsultasi dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengenai rencana itu dan Wali Kota menyetujui. Minggu besok dijadwalkan pemasangan baliho yang menandai dimulainya proses pembangunan. Dia belum dapat memastikan kapan pembangunan akan dimulai karena yayasan masih mencari dana.

Kepala Seksi Pelestarian Peninggalan Purbakala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng Gutomo menyebutkan, bangunan peninggalan Sarekat Islam itu belum masuk dalam daftar cagar budaya. Namun, pihaknya tengah mengkaji situs itu dari berbagai aspek, termasuk arsitektur dan sejarah yang menyertainya.

”Selama proses ini seharusnya tidak boleh ada perobohan atau pembangunan apa pun. Semua harus ditunda dulu. Jika memang gedung itu tidak termasuk cagar budaya, silakan saja,” ujarnya.

Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya Johannes Marbun meminta bangunan yang melahirkan tokoh nasional itu dilestarikan. (uti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori