Oleh: hurahura | 10 Desember 2014

Situs Gunung Padang: Hasil Penelitian Masih Menuai Kontroversi

Hasil penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri tentang Situs Gunung Padang, di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, masih menuai kontroversi. Tim yakin menemukan hal-hal baru, tetapi banyak arkeolog dan geolog membantahnya dengan berbagai alasan.

Dosen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) sekaligus mantan Ketua Arkeologi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang Ali Akbar memaparkan, berdasarkan penanggalan karbon ditemukan dua usia Gunung Padang, yaitu 500 sebelum Masehi (SM) dan 5.200 SM.

”Usia 5.200 SM ditemukan pada kedalaman 11 meter. Saat pemindaian, setiap 5 meter ada jeda dan setelah digali ada struktur atau lapisan budaya lagi di bawah,” kata Ali dalam Seminar Arkeologi ”Situs Gunung Padang: Metodologi dan Etika Riset serta Keragaman Perspektif”, di FIB UI, Depok, Jabar, Selasa (2/12).

Dalam penelitian, TTRM melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Mereka menggabungkan data pengeboran, geo-radar, dan geo-listrik dalam penelitian. TTRM mengklaim beberapa temuan baru, seperti adanya koin logam, semen purba, batu bulat (rolling stone), dan ”kujang” Gunung Padang. ”Pemerhati memberi informasi, koin itu buatan 1855, tapi kok bisa di kedalaman 11 meter yang penanggalan karbonnya berusia 5.200 SM,” ujar Ali.

Sampel semen purba juga bawa ke tiga laboratorium dan materialnya berbeda dengan columnar joint (batuan kolom penyusun Situs Gunung Padang). ”Lalu, kenapa bisa ada batu kali (batu bulat) di ketinggian 990 meter? Pada kujang Gunung Padang terlihat ada pangkasan dengan arah yang berbeda-beda,” tuturnya.


Dibantah

Pernyataan Ali langsung dibantah geolog Sujatmiko yang menegaskan, seluruh batuan di Gunung Padang ialah batuan alamiah. ”Batuan rolling stone yang di dalamnya terdapat batu ada di mana-mana. Ini sangat umum. Jadi, janganlah temuan seperti ini langsung diumumkan ke publik. Apa yang disebut semen purba itu hanyalah bijih besi dengan kandungan besi 40 persen. Kadar besi semen sendiri maksimal hanya 6 persen,” paparnya.

Terkait temuan koin logam, arkeolog prasejarah Pusat Arkeologi Nasional, Bagyo Prasetyo, mengatakan, teknologi logam baru muncul sesudah Masehi. Maka, tidak bisa disimpulkan begitu saja bahwa koin logam Gunung Padang berasal dari masa 5.200 SM. ”Arkeologi tidak bisa hidup tanpa konteks,” katanya.

Arkeolog Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, berharap semua pihak duduk bersama untuk membangun kesepahaman tentang Gunung Padang. Apalagi, situs ini kini menghadapi ancaman serius, seperti erosi dan ledakan jumlah pengunjung. (ABK)

(Sumber: Kompas, Rabu, 3 Desember 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: