Oleh: hurahura | 17 November 2016

Sejak Ribuan Tahun Lalu Sumber Tiongkok Banyak Mencatat tentang Kondisi Nusantara

nurni-01Nurni W. Wuryandari (kiri) sedang memaparkan makalah

Sejak ribuan tahun lalu sejarawan-sejarawan asing sudah mencatat tentang kondisi Nusantara. Informasi yang mereka himpun dalam sumber-sumber asing tersebut bermanfaat untuk membangun informasi tentang negeri kita yang memang tidak dilakukan oleh sejarawan atau pencatat lokal. Salah satunya adalah sumber dari naskah-naskah Tiongkok. Tiongkok memang memiliki tradisi mencatat yang sudah sangat tua.

Tiongkok, selain memiliki catatan yang sangat lengkap tentang sejarah negeri mereka sendiri, juga memiliki catatan tentang negara-negara asing yang cukup lengkap. Catatan tentang negara asing yang mereka buat biasanya berupa catatan tentang kunjungan suatu negara asing ke Tiongkok, atau berupa catatan tentang orang Tiongkok yang mengunjungi atau mendatangi negara atau wilayah tertentu.

Begitulah pengantar yang diberikan Nurni W. Wuryandari dalam Konferensi Nasional Sejarah X 7-10 November lalu. Nurni adalah staf pengajar bidang Sinologi di FIB UI. Ia membawakan makalah “Kekayaan Budaya dan Alam Jawa dalam Dokumen Klasik Tiongkok: Sebuah Tinjauan Filologis”.

Informasi dari catatan Tiongkok itu banyak digunakan oleh para sejarawan dan arkeolog Indonesia. Sering dikenal sebagai Berita Cina (Tiongkok) atau Kitab Sejarah Para Dinasti. Catatan Tiongkok antara lain membahas sisi peradaban masyarakat Majapahit dan memotret budaya Jawa. Informasi demikian tentu saja melengkapi informasi dari prasasti, yang berkenaan dengan politik. Catatan Tiongkok biasanya menginformasikan masalah sosial budaya. Sebagai gambaran, sumber Tiongkok pernah menyebutkan masyarakat Jawa masih bertelanjang dada, kalau makan tidak menggunakan sumpit, dan rumah mereka ada yang bertembok batu. Sumber Tiongkok banyak digunakan untuk referensi dalam buku Sejarah Nasional Indonesia.


Dokumen Tertua

Dokumen tertua yang mencatat Jawa dibuat oleh Dinasti Han (206 SM-220 M) dalam Hou Han Shu (Kitab Sejarah Dinasti Han Akhir) dan Xinanji Zhuan (Catatan Negara Barbar Barat Daya). Dikatakan bahwa Jawa datang ke Tiongkok pada masa Kaisar Yongjian berkuasa, yaitu pada 131 Masehi.

“Pada masa pemerintahan tahun ke-6 (131 M) Kaisar Yongjian, disebutkan bahwa Raja Jediao (Jawa) bernama Bian mengirim utusan untuk memberi sesembahan ke Tiongkok. Sebagai balasan, Kaisar menghadiahkannya stempel emas kekaisaran dengan pita berwarna ungu,” begitu salah satu uraian sebagaimana dikemukakan Nurni.

Deskripsi awal tentang Jawa juga ditemukan dalam narasi Kitab Sejarah Dinasti Song masa dinasti-dinasti Selatan (420-479) atau Song Shu bab ke-97. “Pada masa pemerintahan tahun ke-12 (tahun 435) dari kaisar Yuanjia, Raja Sri Paduka Alapamo dari negara Shepopoda (Jawa) mengirim utusan (ke Tiongkok) untuk menyampaikan surat penghormatan…”. Nurni menyimpulkan, deskripsi tersebut mengenai kunjungan orang Jawa ke daratan Tiongkok.

Rekaman kunjungan awal Tiongkok ke Tanah Jawa diketahui berdasarkan catatan Fa Xian (Fa Hien) dalam Fo Guo Ji (Catatan Negara-negara Buddhis). Disebutkan pada 414 ia terdampar di Yepoti (Jawa). Di negara ini ajaran Hindu berkembang luas, sedangkan ajaran Buddha belum ada yang membincangkan. Demikian kutipan dari Fa Xian.

Dokumen berikutnya berasal dari masa dinasti Tang (618-907). Disebutkan di dalamnya wilayah kekuasaan Heling (Holing atau Kalingga), tempat bertakhtanya seorang ratu bernama Ratu Xi Mo, pemimpin Jawa kala itu. Tercatat juga Jawa adalah negeri yang sangat kaya. Hasilnya berupa tempurung penyu, emas kuning dan putih (emas dan perak), cula badak, dan gading. Selain itu ada gua-gua yang dapat mengeluarkan garam dengan sendirinya.

Berita berikutnya berasal dari dinasti Song (960-1279). Kitab ini memuat informasi rinci mengenai perjalanan pelaut Tiongkok menuju Nusantara, khususnya Jawa. Informasi mengenai waktu dan jalur tempuh disertakan di dalamnya. Menurut Nurni, jalur keberangkatan adalah Guangzhou à Condore (pulau kecil di mulut Sungai Mekong, Vietnam) à Tumasik/Singapura à Sriwijaya à Jawa. Sementara jalur pulang adalah Jawa à Sriwijaya à Kuala Trengganu à Annam à Guangzhou.

Sumber yang paling muda berasal dari masa dinasti Yuan (1206-1368). Informasi yang paling banyak dikutip adalah perseteruan antara Kubilai Khan dengan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari. Dikatakan Kertanegara berani menggores wajah utusan Kerajaan Yuan bernama Meng Qi.

Pada dasarnya dokumen-dokumen Tiongkok yang mencatat Nusantara pada masa lampau bisa membantu penulisan sejarah kuno Indonesia. Hanya kita perlu memberi penafsiran yang teliti terhadap nama-nama yang disebutkan. Dengan demikian catatan seperti ini merupakan sumber informasi yang penting untuk menggali dan melengkapi hal-hal yang tidak ada dalam catatan sejarah Indonesia.***

Penulis: Djulianto Susantio


Responses

  1. ..Trims gan.. Sudah Menambah wawasan sejarah negri kita


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: