Oleh: hurahura | 23 Juli 2010

Perahu Kuno Dikonservasi “In Situ”

Dua ahli konservasi dan hidrologi (sumber daya air) yang bekerja sama dengan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur merekomendasikan agar konservasi perahu kuno dilakukan secara in situ atau di lokasi temuan. Konservasi tersebut nantinya akan membutuhkan “cawan” raksasa untuk mengisolasi perahu kuno dari air payau.

Dua ahli tersebut adalah Aris Munandar, mantan konservator senior Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, dan Djoko Luknanto, ahli hidrologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Aris pernah menangani konservasi perahu kuno di Mindanao, Filipina. Adapun Djoko berpengalaman sebagai konsultan penanganan sumber daya air, antara lain di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Jawa.

Bersama tim Dokumentasi dan Konservasi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, selama dua hari (14-15 Juli 2010) keduanya meneliti perahu kuno yang ditemukan di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Penelitian dilakukan karena perahu tersebut lebih tua satu abad ketimbang Candi Borobudur serta merupakan temuan perahu kuno paling utuh di Asia Tenggara.

Aris Munandar, Kamis (15/7), di Rembang, mengatakan, semula ada dua opsi untuk konservasi perahu kuno tersebut, yaitu in situ (di lokasi temuan) dan ex situ (di luar lokasi temuan). Namun, setelah melalui diskusi, opsi yang dipilih untuk konservasi perahu kuno dilakukan di lokasi temuan.

“Hal yang menjadi pertimbangan adalah kondisi kapal yang semakin merapuh dan rusak jika diangkat. Selain itu, metode penggabungan perahu dengan teknik ikat papan dengan tali ijuk dan pasak akan memperumit penyusunan perahu pasca pengangkatan dari lokasi temuan,” kata dia.


Perahu diisolasi

Menurut Aris, untuk konservasi in situ syaratnya perahu diisolasi dari lingkungan sekitar, terutama air payau. Untuk itu, dibutuhkan “cawan” atau wadah perahu sebagai tempat konservasi.

Jika menggunakan metode ex situ, membutuhkan tiga “cawan” dengan luas yang sama untuk proses pembersihan materi yang melekat di perahu hingga proses konservasi perahu. Proses konservasi ini, lanjut Aris, diperkirakan membutuhkan waktu dan biaya yang besar.

“Pada prinsipnya, konservasi perahu Punjulharjo adalah mengonsolidasikan kayu-kayu perahu agar tidak melapuk dengan aneka perlakukan yang saat ini sedang diuji coba,” kata Aris. Untuk pembuatan “cawan” perahu, Djoko menambahkan, dibutuhkan lokasi yang cukup luas, lebih luas dari perahu Punjulharjo.

“Kalau perahu dibiarkan tanpa air, materi perahu yang berupa kayu akan mengering dan mudah hancur karena telah terendam air selama ratusan tahun,” kata Djoko. (HEN)

(Kompas Jawa Tengah, Jumat, 16 Juli 2010)


Responses

  1. banyak penemuan jaman kuno di tanah air yg tak dikelola dgn baik. bangsa yg kurang menghargai sejarah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: