Oleh: hurahura | 28 Oktober 2011

Muaro Jambi Terancam

* Wisatawan Mengeluhkan Polusi Batubara

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Area penimbunan batubara milik sejumlah perusahaan mengelilingi Menapo (tumpukan bata berstruktur candi) China di kompleks percandian Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Selasa (25/10). Situs peninggalan abad VII hingga XIV seluas 2.600 hektar ini memerlukan penyelamatan dari aktivitas industri yang kian marak dan berdampak merusak kawasan bersejarah tersebut.

KOMPAS, Rabu, 26 Oktober 2011 – Situs Muaro Jambi, warisan Kerajaan Melayu Kuno terluas di Sumatera, kini terancam rusak akibat maraknya industri penimbunan batubara dalam zona inti kawasan itu. Debu yang beterbangan mengikis struktur bangunan bersejarah itu dan mengganggu kenyamanan wisatawan dan masyarakat.

Pengamatan Kompas, Selasa (25/10), area timbunan batubara mengelilingi Menapo China, yang belum dipugar oleh petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi. Saat Kompas mendatangi lokasi tersebut, Maret lalu, aliran hujan membawa batubara menggenangi sekeliling menapo, hingga menampakkan genangan berwarna hitam pekat sedalam setengah meter. Kemarin, genangan limbah menyusut drastis, menyisakan tanah becek, tetapi juga berwarna kehitaman.

Ada empat perusahaan menimbun batubara dalam zona inti situs ini, yaitu Indonesia Coal Resources, Thriveni Mining, Sarolangun Bara Prima, dan Bahar Surya Abadi. Area penimbunan dikelola PT Tegas Guna Mandiri.

Selain itu, industri yang beroperasi dalam situs seluas 2.600 hektar ini antara lain usaha batubara PT Bina Borneo Inti (BBI), serta pabrik pengolahan sawit PT Sinar Alam Permai (SAP).

Selain Menapo China, terdapat Menapo Pelayangan I dan Menapo Pelayangan II yang berada dalam lokasi industri. Petugas juga mendapati banyak temuan keramik dan guci asal China peninggalan abad VII hingga XIV di kawasan tersebut.

Juru bicara BP3 Jambi, Agus Widiatmoko, mengatakan, kandungan logam batubara jika terurai dengan air hujan akan menghasilkan kadar asam yang tinggi. Kondisi yang terus berlangsung mengakibatkan pengeroposan bangunan.

”Pengeroposan akan lebih cepat terjadi ketika candi dan menapo terus digenangi kadar asam,” ujarnya.

Tidak hanya limbah cair, debu batubara yang beterbangan masuk ke dalam pori-pori candi. Saat debu yang menempel pada candi dan menapo bercampur air hujan, daya ikat batu bata akan melemah. Percandian peninggalan abad VII hingga XIV ini semakin hancur dan rapuh.

Padahal, Situs Muaro Jambi sebagai warisan Kerajaan Melayu Kuno terluas di Sumatera ini tengah didaftarkan sebagai warisan budaya dunia. Tahun lalu, situs ini telah masuk dalam daftar tentatif warisan budaya UNESCO pada urutan ke-5.465.


Mengganggu pariwisata

Bagian produksi batubara PT Thriveni Mining, Priyo, mengatakan, pihaknya hanya menyewa lahan untuk penimbunan batubara perusahaannya. Upaya perlindungan menapo dalam lokasi ini merupakan tanggung jawab pemilik lahan.

”Yang pasti, selama ini kami tidak pernah mengganggu candi atau menapo yang ada di sini,” tuturnya.

Aktivitas penimbunan batubara dalam kawasan situs ini berlangsung di area terbuka. Ketika angin bertiup kencang, debu beterbangan hingga menyelimuti candi, menapo, serta rumah-rumah warga.

Wisatawan juga mulai mengeluhkan ketidaknyamanan berkunjung ke candi akibat polusi batubara.

”Udara jadi terasa pekat di sini. Sungguh tidak nyaman untuk pengunjung,” ujar Bayu, salah seorang wisatawan. Warga setempat juga mengeluhkan debu hitam itu. (ITA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: