Oleh: hurahura | 25 Juli 2012

Uang Asuransi dan Ruangan Perunggu (2 – Habis)

Anjungan Hindia Belanda terbakar (Sumber: Gouda, 2007)

Warta Kota, Rabu, 25 Juli 2012 – Sebagian besar koran di Prancis melaporkan kebakaran itu, termasuk Le Figaro. ”Saat orang-orang tidur di taman Vincennes, kilatan nyala api menerangi langit seperti di waktu senja, memancarkan cahaya merah pada semua pohon dan bangunan di sekitarnya,” tulis Le Figaro. Selanjutnya dikatakan, …Dan tidak lama kemudian, tidak ada satu pun yang tertinggal dari istana agung Hindia Belanda itu, yang merupakan salah satu bangunan terindah dan paling menarik di pameran. Banyak petinggi Prancis mengirimkan ucapan belasungkawa ke Ratu Wilhelmina.

Sulit untuk menaksir kerugian finansial akibat musibah tersebut. Koran L’Homme Libre menaksir jumlah kerugian 25 juta franc, sementara Le Petit Journal sebesar 60 juta franc. Bahkan L’Echo de Paris mencapai 80 juta franc. Dalam laporan akhir yang disusun atas nama Komite Pameran Belanda 14 April 1932, bendahara mencatat bahwa perusahaan asuransi membayar sejumlah 459.152,88 gulden untuk kerugian bangunan dan 661.040,08 gulden untuk kerugian isi pameran.

Sebelumnya banyak yang tidak setuju dengan pameran ini karena dianggap mengeksploitasi negara jajahan. Banyak pula yang mendukung, terutama untuk menyaingi Prancis yang mempunyai negara jajahan di Indocina. Peninggalan kebudayaan di Asia Tenggara dianggap mempunyai kesejajaran, misalnya antara Angkor Wat di Kamboja dengan Candi Borobudur di Jawa.

Karena sering dicerca maka kemudian pemerintah Hindia Belanda memasukkan mata pelajaran sejarah kesenian dan kebudayaan ke dalam kurikulum pendidikan. Bahkan pada 1940 mendirikan Fakultas Sastra dan Filsafat di Batavia. Salah satu jurusannya yang kemudian berkembang adalah Sejarah Kuno dan Ilmu Purbakala.

Uang yang diperoleh dari asuransi kemudian digunakan untuk membangun ruangan perunggu di lantai dua gedung museum. Entah berapa besar anggaran yang dikeluarkan. Ruangan tersebut masih berdiri sampai sekarang, namun digunakan untuk fungsi lain.

Banyak koleksi yang tak tergantikan, kini telah musnah. Hanya foto-foto dokumentasinya yang masih bisa disaksikan. Kalau saja arca-arca batu berwarna agak kehitaman itu bisa berbicara, pasti banyak cerita yang akan kita peroleh. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori