Oleh: hurahura | 14 Maret 2016

Gerhana Matahari: Aspek Mitologi,Makna,dan Dampaknya bagi Masyarakat dan Pariwisata

Prasasti di Petirtaan Candi Belahan Candi Belahan di Jawa Timur dipandang menyimpan catatan gerhana matahari tertua (Ilustrasi/Foto: print.kompas.com)

I

Telah berulangkali terjadi gerhana matahari dan bulan, telah terjadi sejak masa sebelum kehadiran manusia di muka bumi. Ketika manusia purba telah hadir dan mengembara di muka bumi, gerhana matahari dan bulan pun terus terjadi hingga sekarang. Dalam masa awal kebudayaan ketika manusia masa pra-aksara mengembangkan peradabannya, sangat mungkin gerhana telah pula menjadi perhatian dan ketakjuban mereka. Waktu itu manusia masih hidup dalam tahap perkembangan kebudayaan Mitis, ketika seluruh aspek kehidupannya masih dikuasai oleh kepercayaan kepada kekuatan alam (Van Peursen 1985: 37–38). Masyarakat manusia yang kehidupannya sangat dekat dengan alam, pastinya mempunyai perhatian terhadap gerhana matahari atau bulan yang terjadi di langit di atas mereka.

Dalam berbagai kebudayaan di dunia terdapat kepercayaan atau mitos yang berkaitan dengan terjadinya fenomena alam gerhana. Upaya penjelasan terhadap asal-usul terjadinya gerhana dan berbagai kisah mitos yang berkaitan dengannya, dalam perkembangan kebudayaan sebenarnya berada dalam tahapan Ontologis, sebagaimana yang dikemukakan oleh C.A.van Peursen. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa dalam tahapan Ontologis manusia berusaha menjelaskan adanya kekuatan yang menyebabkan terjadinya berbagai femomena alam biasa atau fenomena alam yang terjadi secara luar biasa seperti bencana. Penjelasan itu bertujuan agar semua fenomena alam tidak menakutkan lagi, dalam penjelasan Ontologis terdapat juga upaya untuk meredamnya untuk memperlakukan dunia sakral sesuai dengan alam kenyataannya. Manusia berupaya untuk membedakan antara dunia keramat (sakral) dan dunia biasa (profan), manusia telah menempatkan diri di luar pengaruh alam dan menjelaskan mengapa suatu fenomena alam dapat terjadi (Peursen 1985: 61—3).

Dalam tahapan Ontologis tersebut berbagai kebudayaan berupaya menjelaskan tentang terjadinya gerhana matahari. Sebelum terdapat penjelasan ilmiah seperti yang terdapat di dunia modern sekarang, berbagai kebudayaan dunia memberikan narasinya tersendiri tentang gerhana tersebut. Kata gerhana dalam Bahasa Indonesia sangat mungkin berasal dari kata Sansekerta graha yang diserap ke dalam bahasa Jawa Kuno, graha salah satu artinya adalah gerhana. Dalam kitab Jawa Kuno Udyogaparwa, Ramayana, Sumanasantaka, dan Tantri Kamandaka, disebutkan adanya peristiwa Somagraha (gerhana bulan) dan Suryagraha (gerhana matahari) (Zoetmulder 1995, I: 307). Kata graha kemudian diucapkan grahan sebagai kata benda, lalu mengalami perubahan pengucapan menjadi gerhana. Berbagai sumber popular menguraikan tentang mitos terjadinya gerhana yang dikenal di kalangan berbagai kebudayaan bangsa-bangsa.

Dalam kebudayaan Tiongkok kuno terdapat uraian mitos tentang asal-usul terjadinya gerhana matahari. Dalam mitosnya dijelaskan bahwa Naga, raja para ular, pada waktu-waktu tertentu mengejar dan memakan matahari atau rembulan. Gerhana matahari telah menjadi perhatian para astrolog Tiongkok kuno, suatu laporan tertulis pernah ditemukan dan menguraikan terjadinya gerhana pada 4000 tahun yang lalu. Sejarawan dan astronom percaya bahwa gerhana itu terjadi dalam tahun 2134 SM. Pada waktu itulah pertama kali terlihat adanya seekor Naga raksasa di langit yang mencoba menelan matahari. Laporan itu

juga mengemukakan bahwa terdapat dua orang astrolog terkemuka, yaitu Hsi dan Ho yang diberi tugas oleh raja Cina untuk memprediksikan waktu terjadinya gerhana, agar Naga tidak jadi menelan Matahari. Akan tetapi ramalan keduanya salah, dan mereka akhirnya dihukum mati atas perintah raja. Raja lalu memerintahkan semua rakyatnya agar membunyikan berbagai benda sehingga bersuara keras, seperti petasan biasa dan petasan yang meledak di udara. Hal itu dimaksudkan untuk menghalau si Naga agar tidak jadi menelan Matahari atau bulan. Hingga sekarang tradisi menyalakan petasan pada waktu gerhana matahari masih terjadi di beberapa kawasan di Cina.

Kebudayaan Mesir Kuno mempunyai mitos yang menjelaskan bahwa gerhana matahari terjadi karena dewa matahari berselisi melawan dewa ular laut. Dalam mitologi Mesir Kuno ada satu dewa yang paling penting, yaitu Ra atau Amon Ra, dialah dewa yang berkepala elang dan merupakan dewa Matahari. Dalam kesehariannya, Ra menaiki dan memimpin perahu yang banyak berisi dewa guna melintasi langit. Ketika malam hari, Ra kembali ke barat lewat jalan akhirat dengan membawa cahaya untuk jiwa-jiwa yang sudah mati. Diceritakan dalam mitos tersebut bahwa perjalanan Ra melintasi langit adalah perjalanan yang sangat berbahaya. Perjalanan itu senantiasa diganggu oleh Apep, yaitu dewa Ular Laut yang jahat. Apep selalu berusaha untuk menghentikan perjalanan Ra. Bila terjadi gerhana Matahari maka diyakini Apep telah berhasil menghentikan Ra, walaupun pada akhirnya Ra, dewa Matahari berhasil meloloskan diri dan matahari kembali bersinar.

Banyak mitos tentang gerhana matahari dan bulan Di India, ada yang percaya bahwa gerhana matahari dapat mendatangkan kekacauan dan keadaan khaos akan terjadi di masyarakat, namun sebagian masyarakat di kawasan tertentu menyambut terjadinya gerhana dengan sukacita, Gerhana dianggap dapat mendatangkan berkah dan kebahagiaan bagi manusia. Dalam mitos yang luas dipercaya gerhana matahari terjadi karena adanya dua raksasa, yakni Rahu dan Ketu, mereka melayang-layang terus di angkasa untuk mencari kesempatan menelan Matahari dan Bulan. Jika terjadi gerhana terdapat kepercayaan agar perempuan-perempuan hamil tetap berada di dalam rumah, sebab jika keluar rumah dan terpapar cahaya matahari gerhana, bayi-bayi mereka akan terlahir cacat.

Setelah gerhana berlangsung banyak anggota masyarakat melantunkan doa-doa di kuil, puasa, dan mandi ritual dianjurkan untuk dilakukan di sungai-sungai suci seperti Sungai Gangga dan Brahmaputera. Hal ini dilakukan untuk menghindari efek negatif dari gerhana tersebut.

Dalam pada itu di Jepang terdapat kepercayaan bahwa gerhana matahari adalah penyebaran racun yang dilakukan oleh para setan ke permukaan bumi yang dihuni manusia. Walaupun penduduk Jepang dewasa ini telah memasuki kehidupan modern yang cukup maju, namun mereka tetap percaya akibat buruk dari fenomena alam gerhana matahari. Sebagian masyarakat Jepang masih percaya bahwa gerhana matahari sebenarnya menyebarkan bencana penyakit berbahaya yang meluas (pagebluk). Menurut kepercayaan mereka ketika gerhana matahari tengah terjadi, racun yang berbahasa sedang ditebarkan oleh para iblis. Matahari yang tertutup dan membuat gelap sesaat itu diyakini sebagai racun yang disebar ke permukaan bumi. Untuk menghindari air di bumi terkontaminasi racun, mereka menutupi sumur-sumur dan berbagai sumber air lainnya yang berhubungan dengan kehidupan keseharian, bahkan para samurai yang berani konon sampai menjaga sumber-sumber air tersebut dengan senjata lengkap sepanjang terjadinya gerhana.

Demikian uraian ringkas beberapa mitos dan kepercayaan yang dikenal di berbagai kebudayaan kuno di dunia. Pada umumnya gerhana matahari disikapi dengan kekhawatiran akan terjadinya hal-hal negatif yang menimpa manusia. Hal itu agaknya terjadi karena perasaan takjub dan kagum terhadap peristiwa alam yang luar biasa, ketika matahari berangsur-angsur tertutup sinarnya namun dengan berbagai upaya “mereka dapat menjadikan” matahari bersinar sempurna lagi. Peristiwa gerhana itulah yang kemudian dilengkapi dengan berbagai narasi yang akhirnya berkembang menjadi mitos.

II

Dalam kebudayaan suku-suku bangsa Nusantara peristiwa gerhana disikapi dengan berbeda-beda, namun pada intinya berawal kepada pemujaan matahari. Mataharilah yang menjadi sasaran pemujaan, kemudian ketika “terjadi sesuatu” terhadap matahari (peristiwa gerhana), muncullah berbagai mitos, kepercayaan dan ritus yang memperkaya kebudayaan mereka. Kekaguman terhadap benda-benda langit seperti matahari dan bulan secara hipotetik telah berlangsung sejak masa pra-aksara. Lukisan-lukisan gua yang terdapat di beberapa pulau Indonesia timur ada yang menggambarkan matahari dan bulan. Misalnya lukisan gua yang ditemukan di Kepulauan Kei, terutama di Pulau Kei Kecil terdapat lukisan matahari, figur manusia, cap tangan, perahu, dan bentuk-bentuk lainnya. Di wilayah Timor Leste, di Pulau Lene Hara juga ditemukan lukisan gua yang menggambarkan manusia, matahari, bulan sabit, perahu, keranjang, bentuk geometris, dan beberapa figur lainnya (Kosasih SA. 1987: 29). Hal yang menarik adalah bahwa motif matahari ditemukan meluas pada bidang pukul nekara dari kebudayaan perunggu Dong-son dalam berbagai tipe Heger dan moko yang ditemukan di wilayah Asia Tenggara Daratan dan Kepulauan Indonesia (Bernet Kempers 1959: 30—31, Plate 15, 16 dan 21). Hal itu menunjukkan bahwa penduduk masa pra-aksara mengagumi matahari yang memberikan sinar terang pada waktu siang. Kekaguman dan rasa hormat kepada matahari itu kemudian dipresentasikan dalam berbagai bentuk ornamen antara lain pada bidang pukul (tympanum) nekara-nekara perunggu. Walaupun demikian bukti konkret pemujaan terhadap matahari dan bulan memang belum ditemukan secara langsung, namun bentuk-bentuk representasi ornamen dapat ditafsirkan sebagai rasa hormat kepada matahari dan bulan.

Ketika pengaruh budaya Hindu-Buddha berkembang di kepulauan Nusantara, terdapat bukti nyata terhadap pemujaan matahari dan bulan. Kekuatan matahari dan keindahan rembulan dipersonifikasikan menjadi Dewa Surya dan Candra. Dewa Surya atau diseru juga Ansuman merupakan antropomorfis dari matahari yang menyinari alam kehidupan manusia, dalam mitosnya Sûrya adalah anak dari Dyaus (dewa langit tertinggi dalam kebudayaan Veda Purba), sering pula diseru dengan Ravi atau Aditya. Dalam mitosnya istri Sûrya ialah Sañjñā, mempunyai anak Yama, Revanta, Yamuna, dan Manu (manusia pertama). Istri-istri yang lain ialah Chayā (Prabhā), Usā, Lāksmī, Rajnī, dan Svarnā. Kendaraan Sûrya adalah kereta yang ditarik 7 ekor kuda (aśva), kuda yang di tengah (utama) bernama Tārksya (Liebert 1976: 288). Adapun Dewa Candra adalah personifikasi dengan keindahan rembulan di malam hari, Candra juga dianggap sebagai salah satu dewa dikpalaka (penjaga mata angin) di kawasan utara. Julukan lainnya adalah Indu, Soma, dan Sasin (Liebert 1976: 56). Arca-arca kedua dewa tersebut ditemukan di beberapa tempat di Jawa dan Bali, Surya kerapkali diarcakan sebagai dewa yang duduk di kereta ditarik 7 ekor kuda, sedangkan Candra digambarkan duduk di kereta yang ditarik 10 ekor kuda. Candra juga dianggap sebagai dewa dari warna kuning pucat laksana bulan, lalu dipuja sebagai dewa bulan (Mardiana, dkk. 2002: 27 dan 29 & Jordan 2004: 60). Pemujaan terhadap Surya mulai terjadi dalam masa Veda kuno dan Purana di India, awalnya berkembang pada sekitar 1700 SM dan terus berlangsung hingga sekarang. Dalam masa Veda Surya merupakan dewa yang terkemuka, jadi tidak hanya dianggap sebagai personifikasi dari kekuatan matahari dan pencipta tata aturan alam semesta, namun dipuja sebagai sumber yang tiada terbatas dari ilmu pengetahuan (Jordan 2004: 297).

Hal yang menarik adalah raja pertama di Nusantara, yaitu Mulawarmman dari Kutai Kuno sebenarnya mengacukan dirinya kepada matahari. Sûrya dalam mitos Veda kuno dipandang sebagai dewa yang “lahir dengan sendirinya” (svayambhû), pusat dari penciptaan, pusat dari alam semesta, dan penguasa tertinggi di seluruh alam (paramesthin) (Daniělou 1964: 81 dan 92). Sifat ini dalam masa perkembangan agama Hindu Trimurti sama dengan Dewa Pencipta, yaitu Brahma yang juga dihubungkan dengan kekuatan api, panas yang identik dengan kekuatan matahari (Sûrya). Dengan demikian Sûrya adalah permulaan dari seluruh alam semesta (mula), tidak mengherankan apabila putra yang terutama dari Aśwawarmman dinamakan dengan Mulawarmman. Raja inilah yang mengembangkan pertama kalinya kerajaan bercorak budaya Hindu-Buddha di Nusantara, yaitu Kutai Kuno di Kalimantan Timur, hanya saja bukti-bukti selanjutnya dari kerajaan tersebut tidak ada lagi. Begitupun nama Purnnawarmman raja Tarumanagara kerajaan pertama di Tanah Jawa sebenarnya juga berasosiasi dengan Dewa Surya, Purnnawarmman berarti “baju zirah yang sempurna”, dewa yang memakai baju zirah istimewa adalah Surya. Dengan demikian baik Kutai Kuno maupun Tarumanagara dikembangkan atas dasar konsep pemujaan kepada Surya (Munandar 2007: 8 dan 14).

Uraian yang cukup luas tentang asal-usul terjadinya gerhana matahari dan bulan terdapat di dalam kebudayaan Jawa Kuno, mitos tersebut dijabarkan dalam kitab Adiparwa Jawa Kuno yang merupakan parwa I dari Mahabharata. Kisah asal-usul terjadinya gerhana matahari dan bulan terkait dengan uraian tentang Samuderamanthana, yaitu pengeburan samudera susu (ksirarnawa) yang dilakukan oleh para dewa dan denawa dalam upaya mencari air Amerta (air kehidupan abadi). Ringkasan mitos tersebut diuraikan dalam kitab Adiparwa yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Siman Widyatmanta (1968), ringkasnya sebagai berikut:
Para dewa dan denawa (asura/daitya/raksasa) berunding di puncak Mahameru untuk mencari air Amerta yang masih berada di dalam samudera susu (ksirarnawa). Mereka akan bekerja sama untuk mengaduk samudera tersebut sehingga diperoleh kendi kamandalu berisi Amerta. Mereka lalu menggunakan Gunung Mandara (salah satu gunung di rangkaian Mahameru) sebagai alat pengaduknya. Gunung itu lalu dicabut oleh ular naga raksasa yang berjuluk Anantabhoga, terbawa segala isinya, lalu dijatuhkan di Laut Ksira. (“Yatika dinawut de sang hyang Anantabhoga, katut tekeng isinya kabeh, tinibaken ing Ksirarnawa…”). Sebagai alas Gunung Mandara supaya tidak melesak di dasar Samudera adalah seekor penyu raksasa, raja penyu (kurmaraja) bernama Akupa, sebenarnya adalah awatara dari Dewa Wisnu.

Gunung itu hendak dijadikan semacam gasing, tubuhnya dibelit oleh sang hyang Naga Basuki, bagian kepalanya dipegangi oleh para daitya dan bagian ekornya dipegang oleh dewa-dewa. Lalu mereka saling menarik-ulur berganti-ganti, seperti gasing raksasa layaknya mengebur dan mengaduk-aduk air Laut Ksira. Indra duduk sebagai pemberat di puncak, agar gunung itu tidak terlempar ke atas. Pekerjaan itu cukup lama sampai bertahun-tahun, batu-batu, binatang liar, pohon-pohon besar di lereng Gunung Mandara konon terlempar dan porak-poranda akibat gunung yang diputar-putar. Lama-kelamaan air Ksira pun mengental dan dari dalamnya keluar beberapa benda dan makhluk yang kemudian diperebutkan oleh para dewa, menjadi milik mereka. Sementara itu para daitya diam saja tidak mau mengambil benda-benda yang ke luar dari samudera Ksira tersebut. Benda-benda yang dimiliki oleh para dewa antara lain adalah ardhacandra diambil Siwa, Sri dan Laksmi dimiliki Wisnu, bersama dengan sangkha dan cakranya, kuda Uccaihsrawa dipelihara oleh Dewa Surya dan Candra, pasa (jerat) diambil oleh Yama, angkusa (alat pengendali gajah) dimiliki Indra dan lain sebagainya.

Akhirnya keluar yang ditunggu-tunggu para dewa dan daitya, yaitu Swetakamandalu (kendi yang berisikan air Amerta) dibawa oleh Dhanwantari makhluk yang rupawan penghuni Laut Ksira. Segeralah para daitya mengambilnya (“Wekasan mijilta Dhanwantari, angindit Swetakamandalu, ika kahanan amerta. Yatika ingalap dening daitya…”). Para dewa tidak boleh protes karena memang mereka telah mengambil benda-benda yang telah keluar sebelumnya. Pekerjaan berat berakhir Gunung Mandara dikembalikan ke Sangkhadwipa di gugusan Himalaya.

Dewa-dewa berunding untuk mendapatkan Amerta dari tangan para daitya, sebab jika Amerta diminum oleh para daitya mereka akan hidup abadi, mengalahkan hewan, manusia dan dewa-dewa, alam semesta hanya diisi oleh kaum daitya. Wisnu pun bertindak mengubah dirinya menjadi dewi cantik luar biasa, dia datang digendong oleh dewa lain yang mengubah dirinya sebagai sesosok daitya. Keduanya mendatangi para daitya yang sedang berdiskusi untuk membagi Amerta di antara mereka. Para daitya terkejut dan senang melihat dewi jelita tersebut, Swetakamandalu diserahkan pada sang dewi untuk dipangku sementara waktu ketika mereka melanjutkan perundingan. Akan tetapi setelah Kamandalu berisi Amerta dipegang oleh dewi cantik jelmaan Wisnu, secepat itu pula Wisnu melarikan diri ke Kahyangan. Pertempuran segera terjadi antara para dewa dan denawa, Wisnu segera melemparkan cakranya menewaskan banyak para daitya, mereka mundur melarikan diri, Kamandalu dikuasai oleh dewa-dewa.

Para dewa kemudian mengadakan upacara minum air Amerta, sejak itulah mereka hidup abadi tidak mengenal kematian (amarana), namun dalam upacara itu menyusuplah seorang daitya yang menyamar menjadi dewa, raksasa itu ialah Rahu, dalam mitos Jawa Kuno Rahu adalah anak Wipracitti, sedangkan dalam mitos Weda (India), adalah anak Rudra (Siwa). Ia turut meminum Amerta, namun gerak-geriknya diketahui oleh Hyang Aditya (Surya) dan Hyang Candra, mereka segera memberitahu Wisnu. Demikianlah Wisnu segera melemparkan cakranya menebas leher Rahu. Waktu itu Amerta baru diminum sebatas leher, badannya jatuh terhempas ke bumi dan mati karena Amerta belum merasukinya, sedangkan kepala dan kedua tangannya melayang-layang karena kesucian amerta (“..ndan sirahnya mesat ring akasa deni kapawitran ikang amerta…”). Rahu marah kepada Aditya dan Candra dan terus-menerus mengejar dan berupaya memakan mereka. Rahu kerapkali berhasil menelan bulan (pada waktu bulan gelap setiap bulan), namun karena tidak punya tubuh bulan terlepas kembali….” (Widyatmanta 1968: 43—49).

Mitos terjadinya gerhana tersebut dijelaskan dengan panjang lebar dalam kitab Adiparwa yang mestinya ditulis paling awal dalam sastra Parwa Jawa Kuno. Bersama-sama dengan Bhismaparwa, Wirataparwa, dan Uttarakanda, Adiparwa digubah dalam abad ke-10 M, jika Wirataparwa selesai digubah tahun 996, tentunya Adiparwa sebagai jilid pertama Mahabharata digubah dalam tahun-tahun sebelumnya (Zoetmulder 1985: 110—11). Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa dalam abad ke-10 telah ada berita tertulis di Nusantara yang membincangkan perihal gerhana. Mungkin saja ada sumber tertulis yang lebih tua dari abad ke-10, misalnya dalam abad ke-8 atau mundur lagi, namun data otentiknya belum ada, sejauh ini belum ditemukan berita prasasti atau karya sastra yang membicarakannya.


III

Di Jawa Timur terdapat bangunan candi yang dapat diasosiasikan dengan peristiwa gerhana, bangunan itu adalah Candi Naga di Percandian Panataran, Blitar. Candi tersebut sekarang tidak lengkap lagi, menghadap ke arah barat, kaki dan tubuh bangunan dari balok-balok batu, sedangkan atap candi telah tiada, diduga dibuat dari bahan yang mudah rusak seperti kayu, bambu, ijuk, tali rotan dan lainnya yang tentunya tidak dapat bertahan sampai ratusan tahun. Dinamakan Candi Naga, karena di bagian tubuh candi terdapat hiasan tubuh Naga yang dibuat mengitari semua sisi, kesannya tubuh candi itu dibelit oleh seekor Naga (Bernet Kempers 1959: 91 Plate 272). Candi dengan hiasan tubuh Naga yang membelitnya segera mengingatkan orang pada kisah Samuderamanthana ketika para dewa dan daitya bekerja sama untuk mencari air keabadian (Amerta), episode yang mengawali terjadinya gerhana.

Selain bangunan candi, dijumpai juga tugu batu yang menggambarkan kisah Samuderamanthana sebagaimana yang diuraikan dalam Adiparwa. Tugu Ampel Gading ditemukan di daerah Blitar, dan sekarang disimpan di Museum Pusat Informasi Majapahit, Trowulan. Bahan tugu dari batu kapur cukup keras, dibentuk seperti tiang. Pada bagian alas (lapik) tiang digambarkan figur penyu raksasa Akupa jelmaan Wisnu, di bagian bawahnya terdapat ukiran rumit yang mungkin menggambarkan hutan-hutan di lereng bawah Gunung Mandara, kemudian di tengah tubuh tugu itu dipahatkan para dewa dan raksasa yang sedang memegangi Naga Basuki untuk memutar-mutar Gunung Mandara, puncak tugu tanpa hiasan berbentuk kubus.

Kisah Samuderamantana juga dipahatkan dalam bentuk arca batu, jadi arca itu menggambarkan adegan pemutaran Gunung Mandara oleh para dewa dan daitya. Pada bagian dasar arca digambarkan juga adanya penyu raksasa Akupa sebagai alas Mandara. Kepala Naga Basuki digambarkan mendongak di atas kepala Akupa, dewa-dewa dan daitya berdiri memegangi Naga, di bagian atas Naga Basuki yang melilit gunung digambarkan berbagai hewan gunung yang berlarian karena ketakutan karena gunungnya berputar. Di bagian puncak arca digambarkan adanya 5 tonjolan, tonjolan yang di bagian tengah lebih tinggi dikelilingi 4 tonjolan lainnya, mengingatkan kepada puncak Mahameru. Arca Samuderamanthana tersebut sekarang disimpan sebagai koleksi Museum Nasional Jakarta, dan berasal dari daerah Blitar.

Berbagai tinggalan arkeologis yang berhubungan dengan gerhana dan juga kisah mitos terjadinya gerhana yang dikenal dalam kebudayaan Hindu-Buddha, terutama masa Jawa Kuno, dapat ditafsirkan bahwa peristiwa itu merupakan fenomena alam penting dan berpengaruh dalam kebudayaan. Berbagai fenomena alam dan bencana alam lainnya (hujan deras, badai, banjir, gunung meletus, gempa bumi) memang disebutkan dalam beberapa sumber tertulis, namun tidak diuraikan dalam bentuk mitos, apalagi sampai diwujudkan dalam bentuk arca dan monumen. Agaknya peristiwa gerhana dipandang berpengaruh dalam kehidupan manusia dan kebudayaan pada zaman-zaman tertentu, karena terjadi di angkasa, di atas dunia kehidupan manusia, maka dari itu dianggap bersifat supernatural dan dihubung-hubungkan dengan kehidupan manusia.

Sebenarnya yang menjadi sumber terjadinya gerhana menurut berbagai mitos zaman Hindu-Buddha adalah raksasa Rahu. Dalam lukisan India kuno raksasa ini digambarkan bertangan 4 dan berekor, atau hanya digambarkan kepalanya saja, karena badannya telah ditewaskan oleh Wisnu. Dia digambarkan berada di punggung Singa, atau di kereta yang diterik oleh 8 kuda hitam. Rahu berwarna biru kegelapan, dengan membawa bulan sabit, pisau, pedang dan trisula (Jordan, 2004; 261). Di Thailand Rahu digambarkan dalam bentuk arca atau relief berwujud raksasa tanpa badan, hanya kepala dan kedua tangannya memegang bulatan, mungkin maksudnya matahari atau bulan, dan kulitnya berwarna gelap, sesuai dengan mitosnya bahwa Rahu adalah raksasa tanpa badan yang mengejar-ngejar matahari dan rembulan.

Penggambaran Rahu di Jawa, baru terjadi dalam era perkembangan Hindu-Buddha di wilayah Jawa Timur, antara abad ke-13—15 M. Rahu raksasa tanpa badan dengan sepasang tangan bercakar kerapkali digambarkan di atas pintu masuk candi, atau di atas relung-relun di tubuh candi. Akan tetapi dalam kajian arkeologi Hindu-Buddha kepala raksasa di atas ambang pintu masuk candi itu dinamakan dengan Kepala Kala. Kepala Kala pada candi-candi di masa Klasik Tua (abad ke-8—10 M) di Jawa Tengah digambarkan tanpa sepasang tangan dan juga tanpa rahang bawah, misalnya yang terdapat di relung Candi Kalasan (Bernet Kempers 1959: Plate 104). Sebaliknya Kepala Kala di candi-candi Jawa Timur, misalnya di Candi Jago digambarkan dengan sepasang tangan bercakar dan juga mempunyai rahang bawah (Bernet Kempers 1959: Plate 232), dengan demikian penggambaran Kala di Jawa Timur lebih mirip dengan penggambaran raksasa kepala Rahu.

Kepala Kala di candi-candi sebenarnya berfungsi positif, Kala pada awalnya adalah simbol Kirttimukha yang diambil dari wajah singa, bermakna “muka kemenangan” (Iyer 1977: 69. Akan tetapi terdapat keterangan bahwa Kala berasal dari hewan mitos disebut Wanaspati atau Banaspati yang bertugas menjaga lereng Gunung Mahameru, siapapun yang memasuki hutan di lereng Meru dengan tujuan jahat akan diserang dan diusir oleh Wanaspati. Hal itu terjadi karena di puncak Mahameru itu bersemayamlah Kahyangan tempat dewa-dewa (Bernet Kempers 1954: 11). Agaknya telah terjadi pergeseran pemaknaan terhadap kepala Kala yang semula dipandang sebagai Wanaspati (abad ke-8—10), kemudian menjadi Kepala Rahu dalam abad ke-13—15 di candi-candi Jawa Timur. Hal yang menarik lainnya pada candi-candi zaman Majapahit batu sungkup (batu di langit-langit puncak atap) candi dihias dengan motif matahari bersinar disebut “Surya Majapahit”. Selain pada batu sungkup, batu-batu umpak (alas tiang) pada bangunan suci penting juga dihias dengan motif matahari. Demikianlah bahwa pada zaman Majapahit Kepala Rahu telah dipandang berfungsi positif sebagai penjaga candi, dan motif hias matahari dikenal meluas digunakan untuk menghias bangunan candi-candi.

Mitos, legenda, atau cerita rakyat yang dikenal di berbagai kawasan dapat dianggap sebagai bentuk penjelasan masyarakat masa lalu terhadap apa yang menjadi perhatian mereka. Penjelasan itu disusun untuk memberi pemahaman bahwa segala sesuatu yang semula belum dimengerti atau menakutkan bagi mereka. Dengan adanya uraian mitos-mitos, alam sekitar kehidupan manusia mempunyai arti dan dikuasai oleh dewata tertentu, mitos telah mengantar masyarakat manusia untuk memasuki tahap kebudayaan fungsional yang bermanfaat untuk perbaikan kehidupan mereka. Pada akhirnya dapat kiranya dinyatakan bahwa mitos dalam kebudayaan kuno adalah (1) wujud tahapan kebudayaan tahap Ontologis, (2) bentuk apresiasi terhadap alam sekitar, dan (3) sumber acuan bagi pengembangan aspek budaya lain yang bermanfaat.


IV

Mitos dalam masyarakat kuno diciptakan tentu dengan tujuannya tersendiri, berdasarkan pembicaraan ringkas dapat diketahui bahwa dalam aplikasinya mitos adalah: (a) Sarana menyampaikan pesan (terutamanya pesan religius), (b) media untuk meyakinkan, dan (c) upaya melegitimasikan dan melestarikan. Secara pragmatis tujuan dan aplikasi mitos berkaitan erat dengan pengembangan pariwisata. Hal ini termasuk kedalam tahap perkembangan kebudayaan Fungsionil, pada tahap antara manusia (Subjek) dan dunia tempat tinggal manusia (Objek) telah saling membuka diri, tak ada lagi sesuatu yang mempuntai arti jika dipandang lepas dari dunia sekitarnya (Peursen 1985: 87). Sebagaimana diketahui objek dan atraksi wisata tersebut terdiri atas 3 macam, yaitu (1) alam, (2) hasil kebudayaan materi, dan (3) perilaku sosial. Memang ketiganya berkaitan dengan perilaku masyarakat, namun atraksi wisata yang melibatkan masyarakat sejak awal penciptaan hingga pemanfaatannya adalah atraksi wisata jenis kedua dan ketiga. Dalam hal mitologi keterkaitan tersebut sangat terasa pada kedua jenis atraksi wisata tersebut.

Mitologi dapat diciptakan untuk mendukung pengembangan pariwisata, kisah-kisah mitos lama atau legenda baru sebenarnya dapat dikaitkan dengan sesuatu objek wisata budaya atau bahkan objek wisata alam. Ingat saja legenda Sangkuriang-Dayang Sumbi di Tatar Sunda yang berkaitan dengan Gunung Tangkuban Parahu. Artinya setiap danau, lembah, air terjun, dan pantai-pantai mempunyai legenda atau kisah mitosnya tersendiri yang dapat diolah sehingga objek wisata alam itu vokal. Jika objek wisata alam saja dapat menjadi vokal, apalagi objek wisata budaya tentunya harus jauh lebih vokal mengisahkan atraksi wisata tersebut.

Pengembangan terhadap pariwisata budaya, mungkin dapat dijelaskan berdasarkan berbagai perspektif, antara lain:
1. Struktural: memperhatikan suatu karya (seni rupa atau seni pertunjukan) sebagai satu kesatuan yang bulat dengan strukturnya sendiri.
2. Mimetik: memperhatikan sejauh mana suatu karya ada hubungannya dengan kenyataan sebenarnya yang dikenal dalam masyarakat (mempunyai acuan budaya)
3.Semiotik: bagaimana suatu karya ditafsirkan oleh si pengamat dan masyarakat. Dalam hal ini narasi mitos, legenda, dan cerita rakyat menjadi berperanan.
4.Pragmatis: Pariwisata budaya diupayakan mempunyai manfaat pragmatis bagi para pendukung aktivitas budaya dan juga masyarakat sekitarnya.

Dalam hal pengembangan atraksi wisata alam, maka yang harus dijaga adalah keaslian atraksi tersebut, tidak terlalu banyak campur tangan budaya dalam memanfaatkan apa yang sudah disediakan oleh alam. Lazimnya ditentukan batas-batas pembagian ruang. Atraksi wisata alam sebaiknya dibagi menjadi beberapa ruang:
1.Ruang Alami (Natural): pada area ini wisatawan hanya boleh menikmati keindahan alam itu sendiri, tidak perlu ada penambahan penting di area ini, selain rambu atau papan peringatan. Keaslian alami harus tetap terjaga secara baik dan ajeg.
2.Ruang Intensif (Rekreatif): area di sekitar ruang alami, keluasan dan batas zona rekreatif dapat ditentukan oleh pengelola wisata sejauh mendukung kenyamanan rekreasi wisatawan dan kunjungan mereka ke Zona Natural. Pada area ini tambahan bangunan baru dapat dilakukan dengan memperhatikan tidak ada efek negatif kepada zonna naturalnya.
3.Ruang Penataan Fisik: area terluar di keseluruhan kompleks atraksi wisata alam tersebut, pada konsepnya zona ini tetap harus mendukung keamanan dan keberlanjutan atraksi wisata alam utama di lokasi tersebut dan menyediakan kenyamanan bagi wisatawan yang datang berkunjung. Di area ini dapat dilakukan penataan ulang dan perbaikan mutu permukiman penduduk, disediakan tempat parkir, restoran, toko cenderamata, hotel, desa wisata binaan, atau lainnya lagi sesuai kebutuhan.

Zonasi yang telah ditentukan dan disepakai tersebut yang harus tetap dipertahankan, jika tidak, niscaya atraksi wisata alam akan ditinggalkan para pelancongnya karena sudah tidak alami lagi. Harus diperhatikan juga keterbatasan atraksi wisata alam itu dalam menerima pelancongnya, artinya seberapa banyak orang yang dapat ditoleransi di Zona Natural dalam kaitannya dengan keindahan yang masih dapat dinikmati oleh mereka. Jika suatu atraksi wisata terlalu penuh dikunjungi wisatawan tentu akan hilang semuanya, hilang kenyamanan, keindahan yang ditawarkan juga tidak terlihat. Dalam hal ini pengelola harus berani mengadakan pembatasan jumlah wisatawan dan pembatasan waktu kunjungan, terutama ke Zona Natural (Western 1995: 9). Zona-zona tersebut dapat ditinjau ulang sesuai dengan kebutuhan dan pengembangan di masa-masa selanjutnya, hanya saja kelestarian dari Zona Natural harus tetap terjaga, karena atraksi alam itulah maka wisatawan mau datang berkunjung.

Kembali kepada peran mitologi, kisah mitos, dan legenda adalah bagian dari upaya untuk membuat vokal objek-objek wisata, baik wisata alam ataupun budaya. Dalam hal wisata budaya kerapkali narasi tentang dirinya dalam bentuk cerita dan kepercayaan setempat telah ada, hanya belum diteliti, diangkat dan dikemas secara baik untuk disajikan kepada wiasatawan. Di mana tempat narasi vokal tentang suatu atraksi wisata?, tentu dalam masyarakat sekitarnya. Masyarakat adalah penyimpan memori kolektif tentang kebudayaan yang berada di dekatnya. Kajian terhadap masyarakat mutlak diperlukan untuk mengembangkan objek-objek wisata budaya dan juga objek wisata alam. Segala kisah dan tradisi yang berkaitan dengan suatu atraksi wisata (alam atau budaya) dapat disajikan kepada para wisatawan, hal itulah yang disebut pariwisata vokal yang mampu memperkenalkan dirinya sendiri kepada dunia luar. Dewasa ini kevokalan akan mudah dihembuskan secara luas apalagi dengan dukungan berbagai mass-media modern, baik cetak atau elektronik, hanya saja bahan penarasiannya harus disiapkan secara baik.

Pada akhirnya, kegiatan pariwisata termasuk upaya pembentukan Mitologi modern dengan berbagai kisah mitos di dalamnya (Barthes 2013), dalam pariwisata banyak hal yang dibincangkan dan dikembangkan, itulah bagian-bagian dari mitos pariwisata. Hal yang penting adalah bahwa mitos adalah tipe wicara, sistem komunikasi dan dia adalah sebuah pesan (Barthes 2013: 151—4). Pariwisata juga sangat berkaitan erat dengan narasi, komunikasi dan penyampaian pesan. Pesan yang disampaikan harus dipertimbangkan dengan baik mutunya, begitupun penyampaian pesan dapat berlangsung lancar diterima oleh para penerimanya, bisa juga mendapat ganggungan, hal itulah yang harus diperhatikan. Mitos adalah suatu sistem semiologis, pendekatannya harus dengan semiotika (Barthes 2013: 162), mengenai hal ini telah dikemukakan di bagian terdahulu dari telaah ini. Banyak aspek dari pariwisata yang mengandung sistem tanda, banyak makna yang masih tersembunyi di dalamnya, langkah selanjutnya adalah mendedahkan makna-makna itu kepada wisatawan. Di Beberapa negara pariwisata sebagai mitologi itu dikelola secara baik sehingga aktivitas pariwisata berhasil dengan memuaskan, dan di banyak negara mitologi itu masih harus dikembangkan menjadi lebih baik lagi.

—o0o—


DAFTAR PUSTAKA

Barthes, Roland, 2013. Mitologi. Diterjemahkan oleh Nurhadi & A.Sihabul Millah. Bantul: Kreasi Wacana.

Bernet Kempers, A.J., 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J.van der Peet.

———————, 1954. Tjandi Kalasan dan Sari. Disalin ke dalam Bahasa Indonesia oleh R.Soekmono Djakarta: Penerbitan dan Balai Buku Indonesia

Bonafice, Priscilla, 1995. Managing Quality Cultural Tourism. London & New York: Routledge.

Daniělou, Alain, 1964, Hindu Polytheism. London; Routledge & Kegan Paul.

Iyer, K.Bharata, 1977. Animals in Indian Sclupture. Bombay: Taraporevala.

Jordan, Michael, 2004. Dictionary of Gods and Goddesses. Second Edition. New York: Facts On File, Inc.

Liebert, Gösta, 1976. Iconographic Dictionary of the Indian Religion. Studies in South Asian Culture. Volume V. Leiden: E.J.Brill.

Kosasih S.A., 1987. “Lukisan Gua Prasejarah: Bentangan Tema dan Wilayahnya”, Diskusi Ilmiah Arkeologi II, Estetika dan Arkeologi Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Halaman 16—37.

Mardiana, Intan, dkk (Penulis), 2002. Arca Dewa-dewa Hindu Koleksi Museum Nasional. Jakarta: Museum Nasional.

Munandar, Agus Aris. 2007. “Kebudayaan Kuno di Kutai: Dalam Kaitannya dengan Khasanah Kebudayaan di Nusantara”, dalam Simposium Penyelamatan Warisan Mulawarman, tanggal 27 November, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Peursen, C.A.van, 1985. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisus & Jakarta: BPK.Gunung Mulia.

Setiani, Nina, 1987. “Ragam Hias Kala pada Candi-candi di Indonesia”, Diskusi Ilmiah Arkeologi II, Estetika dan Arkeologi Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Halaman 233—252.

Western, David, 1995. “Memberi Batasan tentang Ekoturisme”, dalam Kreg Lindberg & Donald E.Hawkins (penyunting), Ekoturisme: Petunjuk untuk Perencana dan Pengelola. Vermont: The Ecotourism Society. Halaman 7—14.

Widyatmanta, Siman (Penerjemah), 1968. Kitab Adiparwa Djilid I: Diterdjemahkan oleh seksi Bahasa Djawa Tjabang Bagian Bahasa Jogjakarta. Lembaga Adat Istiadat dan Tjeritera Rakjat Ditjen Kebudayaan Dep. P & K. Jogjakarta: U.P.”Spring”.

Zoetmulder, P.J., 1985. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

—————, & S.O.Robson, 1995. Kamus Jawa Kuno-Indonesia 1: A—O. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Penulis: Prof. Agus Aris Munandar,
Guru Besar FIB Universitas Indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: