Oleh: hurahura | 8 Januari 2013

Akademi Maritim di Batavia

Warta Kota, Senin, 7 Januari 2013 – Salah satu Akademi Maritim (Academie de Marine) tertua di dunia pernah ada di Batavia. Akademi ini berdiri pada 1743 dan diresmikan oleh Gubernur Jenderal Baron von Imhoff. Ketika itu Letnan J. Van Biesum menjadi Sekretaris Akademi merangkap Kepala Perpustakaan. Tugasnya adalah menjalankan pengelolaan administrasi sehingga dia wajib menghadiri rapat Dewan Kurator. Pada 1745 Paulus-Pauluz diangkat sebagai Gubernur Academie de Marine. Sebelumnya dia adalah Kepala Pembuat Peta Laut.

Para pelaut yang bekerja pada kapal-kapal VOC yang kapalnya tiba di Batavia harus mendaftar ke akademi ini. Mereka wajib mengikuti pendidikan selama empat tahun. Materi pelajaran meliputi teori dan praktek. Pendidikan berlangsung selama empat hari kerja dalam seminggu. Pukul 07.00-12.00 pelajaran berupa Bahasa Latin, Bahasa Moor, Navigasi, dan Menulis. Setelah istirahat, pukul 13.00-17.00 dilanjutkan dengan Menggambar, Seni Membangun Kapal, dan praktek mengemudikan kapal.

Sayang karena adanya diskriminasi—yang diterima hanya orang-orang beragama Kristen Protestan—maka orang-orang bumiputera tidak diizinkan mengikuti pendidikan. Hanya pelajaran navigasi terbuka untuk umum. Mereka yang berminat boleh mengikuti pelajaran ini dengan mengambil tempat duduk di ruang depan serambi agar tidak mengganggu para kadet itu (http://jakarta.go.id).

Aktivitas pendidikan berlangsung di gedung yang sekarang disebut Toko Merah, Jalan Kali Besar. Selama mengikuti pendidikan, para kadet harus mengikuti disiplin ketat. Pelanggaran disiplin dikenakan sanksi atau denda. Pada jam tidur malam, misalnya, kadang-kadang dilakukan patroli mendadak. Kadet yang tertangkap sedang membaca bacaan terlarang atau bermain kartu, dikenakan hukuman berupa kurungan selama empat hari. Kadet yang meninggalkan tugas, akan ditawan di Pulau Onrust atau Pulau Edam, di perairan Kepulauan Seribu sekarang.

Lambat laun karena kekurangan biaya, pengadilan diminta menjatuhkan hukuman denda. Banyak nakhoda dan pejabat yang bersalah dikenakan denda. Uangnya disetor ke kas lembaga. Ketika sumber semakin kering, dikeluarkan peraturan pajak khusus atas tontonan, misalnya untuk sabung ayam dan wayang potehi. Pungutan ini dinilai (semi) liar (Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, 1997). Tahun 1755 akademi ini ditutup. Sisa-sisa masa kejayaan akademi masih bisa dilihat di Ruang Kolonial Museum Nasional berupa lubang ventilasi pintu dengan ukiran seorang gadis yang memegang sebuah teleskop. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: