Oleh: hurahura | 19 April 2012

Studi DNA : Jejak Perempuan Indonesia di Madagaskar

KOMPAS, Selasa, 17 April 2012 – Ketika Nusantara sedang jaya-jayanya pada abad ke-9, beberapa perempuan Indonesia ternyata sudah sampai ke Madagaskar. Merekalah yang kemudian menjadi nenek moyang bangsa Malagasi, penduduk Madagaskar.

Memang belum ada jawaban mengapa mereka sampai ke sana. Namun, dalam diskusi yang berlangsung di Lembaga Eijkman, Senin (16/4), muncul dua kemungkinan. Kemajuan perdagangan membuat kapal-kapal Indonesia berlayar sampai pantai timur Afrika. Atau sebaliknya, para pedagang Afrika yang sampai ke Nusantara menikah dan mengajak pulang perempuan Indonesia ke negerinya.

Dalam diskusi, hasil penelitian Lembaga Eijkman—bekerja sama dengan Universitas Arizona di Amerika Serikat, Universitas Massey di Selandia Baru, dan Universitas Toulouse, Perancis—dipaparkan dr Herawati Sudoyo MS PhD, Deputi Direktur Lembaga Eijkman. Hadir pula para peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di antaranya Prof Riset Arkeologi Naniek H Wibisono.


Penelitian DNA

Jejak perempuan Indonesia di Madagaskar itu ditelusuri dari mitokondria DNA yang diwariskan dari kromosom ibu. DNA, kependekan dari deoxyribonucleic acid (DNA) atau rantai panjang polimer nukleotida, memang mengandung informasi genetik untuk diturunkan. Tercatat pula di dalam sekuennya informasi tentang kehidupan perubahan pola makan, lingkungan, dan segala aktivitasnya.

Penelitian melibatkan 2.745 sampel individu dari 12 pulau di Indonesia, yaitu Sumatera, Nias, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar, dan Timor. Sedangkan dari Madagaskar ada 266 individu dari tiga populasi yang terisolasi, yaitu Mikea yang hidup dari berburu, Vezo (nelayan), dan Merina (dataran tinggi).

Untuk melihat apakah ada pria Indonesia yang juga menjadi nenek moyang orang Madagaskar, diperlukan penelitian lanjutan pada filogeni kromosom Y yang hanya ada pada pria. ”Mudah- mudahan penelitian kromosom Y ini bisa segera selesai,” kata Herawati.

Sebenarnya hasil penelitian DNA ini menguatkan berbagai temuan yang sudah ada selama ini. Bahasa Malagasi, misalnya, merupakan satu-satunya rumpun Astronesia di Afrika. Demikian juga dengan penampilan fisik orang Malagasi yang menunjukkan adanya perpaduan antara orang Afrika Timur dan Asia Tenggara.

Namun, untuk memahami lebih lanjut kaitan orang Indonesia dengan Madagaskar, diperlukan penelitian multidisiplin, termasuk penelitian arkeologi. Apalagi, menurut Naniek H Wibisono, sekitar 1.200 tahun lalu kerajaan- kerajaan di Nusantara berkembang pesat dan salah satunya adalah Kerajaan Sriwijaya. Bisa jadi kota bandarnya menjadi titik awal perpindahan ini. (nes)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori