Oleh: hurahura | 28 Januari 2018

Kompleks Pemakaman Belanda di Ampel, Boyolali

Dezentje-01Tinus Dezentje (Sumber: Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden)

Pada sebuah lahan yang cukup luas di daerah Ampel Boyolali terdapat sebuah kompleks pemakaman Belanda yang kondisinya memprihatinkan. Padahal, kompleks makam ini sudah terdaftar sebagai Cagar Budaya. Beberapa makam tersembunyi di balik rimbunnya semak-semak.

Selain itu hampir semua makam  tidak lagi diketahui milik siapa karena marmer penanda makam sudah hilang. Satu-satunya informasi yang didapat, komplek tersebut merupakan pemakaman keluarga Dezentje.


Usaha perkebunan

Johannes Agustinus Dezentje atau biasa disebut sebagai Tinus Dezentje (1797-1839) adalah putra dari seorang pegawal berkebangsaan Eropa untuk raja dari Kasunanan Surakarta bernama August Jan Caspar ( 1765-1826).  Tahun 1816 dari gajinya sebagai perwira, Caspar menyewa tanah apanage milik Kasunanan  yang terbentang dari Salatiga,  Ampel sampai Boyolali. Tanah ini selanjutnya diwariskan kepada Tinus, yang kemudian merintis usaha perkebunan keluarga Dezentje di Vorstenlanden.

Saat Perang Jawa (1825-1830) berlangsung, kondisi ini mengancam bisnis perkebunan miliknya. Untuk menjamin keamanan bisnisnya, Tinus rela mengeluarkan biaya untuk mempekerjakan 1.500 serdadu asing yang kemudian lebih dikenal sebagai “Detasemen Dezentje”. Detasemen ini merupakan hulptroepen atau pasukan pembantu militer Belanda. Atas permintaan Jenderal De Kock,  Dezentje mempengaruhi Sri Susuhunan untuk tetap bersikap netral dalam Perang Jawa.  Untuk jasanya ini, Kerajaan Belanda memberikan penghargaan berupa Orde de Nederlandse Leeuw kepada Tinus.  Tinus meninggal pada 7 November 1839 dalam usia 42 tahun. Ia mewariskan lahan perkebunan seluas 1.275 Hektar.


Semak belukar

Kejayaan keluarga Dezentje di Bumi Vorstenlanden berlalu bersama waktu.  Keberadaan mereka terlupakan,  kompleks  pemakaman keluarga ini saat ditemukan dalam kondisi tertutup semak belukar. Kondisi makam cukup mengenaskan, hanya tersisa makam tanpa identitas. Marmer penanda sudah hilang. Saat pertama memasuki kompleks ini, hanya makam milik JEA Dezentje dan Raden Ayu Dezentje yang terlihat, selebihnya area dipenuhi semak belukar dan rimbun pepohonan.  Saat itu dengan peralatan seadanya dilakukan pembersihan. Beberapa makam mulai terlihat. Dugaan sementara masih banyak lagi makam yang tertutup tumbuhan dan menanti untuk ditemukan.

Atas prakarsa beberapa komunitas peduli cagar budaya, maka pada 23 September 2017 dilakukan pembersihan secara swadaya. Satu demi satu makam mulai bermunculan. Sejalan dengan bersihnya seluruh kompleks makam, ditemukan bahwa hampir semua struktur bangunan makam telah mengalami pelapukan akibat adanya akar pohon yang tumbuh menembus struktur tersebut. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, dilakukan penebangan pohon yang tumbuh di areal makam dengan bantuan warga sekitar.

Dezentje-02Kondisi sebelum dan sesudah pembersihan (dokumentasi pribadi)


Mempercepat kerusakan

Ketidaktahuan warga sekitar tentang tokoh yang dimakamkan di sini beserta peranannya berakibat cukup fatal. Pohon Sengon (Albizia chinensis) yang ditanam di areal tersebut oleh beberapa warga dengan tujuan pemanfaatan lahan justru mempercepat kerusakan. Karakteristik perakaran Sengon yang melebar dan memiliki daya penetrasi kuat memungkinkan untuk menembus struktur batuan makam. Sifat perakaran yang dangkal memungkinkan tanaman ini meningkatkan tingkat kesuburan tanah tempat dia tumbuh, pertumbuhan yang cepat, juga susunan daun yang membentuk payung  menyebabkan berkurangnya sinar matahari yang mencapai tanah. Itu semua menyebabkan tanaman- tanaman perdu tumbuh dengan subur.  Kombinasi ini merupakan resep ampuh yang mempercepat pelapukan pada struktur bangunan makam.

Bukan usaha yang mudah untuk membersihkan, merawat, dan menjaga areal ini.  Keberadaan komunitas peduli cagar budaya yang bersedia mencurahkan waktu, tenaga, pikiran dan materi secara swadaya dirasa tidaklah cukup. Untuk itu edukasi kepada warga sekitar tentang pentingnya keberadaan areal cagar budaya  ini juga dilakukan. Warga sekitar yang dengan antusias mengikuti dan membantu proses pembersihan dan bersedia ikut menjaga kawasan ini dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab patut diberikan apresiasi yang besar. Akan tetapi pekerjaan ini belumlah selesai. Pemeliharaan dan edukasi berkesinambungan tetap harus dilakukan. Semua demi serpihan sejarah yang menyusun bangsa.


Daftar Pustaka

  • Rusell, R.S. 1977. Plant Root System. Their Function and Interaction With the Soil. Mc.Graw-Hill Book Company, UK.
  • Van Bruggen, M.P. & R.S. Wassing. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden, Amsterdam: Asia Maior.

**********

Penulis: Ratna Setiyaningrum

Iklan

Responses

  1. .. Betapa baik nya bangsa kita.

  2. semoga kedepannya pemakaman Dzentje dijaga bersama terutama oleh warga sekitar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: