Oleh: hurahura | 13 Februari 2011

Tanjidor di Batavia

Warta Kota, Kamis, 10 Februari 2011 – Sore hingga malam hari menjelang Tahun Baru Imlek, biasanya para pengamen tanjidor mendatangi rumah-rumah masyarakat keturunan Tionghoa di Jakarta. Setelah mengamen mereka mendapatkan angpao dari sang tuan rumah.

Tanjidor merupakan satu jenis musik Betawi yang mendapat pengaruh kuat dari musik Eropa. Jenis musik ini banyak dimainkan di Batavia pada abad ke-18 untuk mengiringi perhelatan atau mengarak pengantin.

Pengamen tanjidor marak di Jakarta pada 1960-an. Kebanyakan pemainnya merupakan bekas tentara Hindia Belanda dari korps musik. Sebelum munculnya pengamen jalanan di era 1990-an, para pengamen tanjidor sudah berkeliling dari rumah ke rumah atau dari restoran ke restoran di Jakarta dan sekitarnya. Biasanya mereka melakukan kegiatan itu setelah masa panen selesai. Sejak lama musik tanjidor akrab dengan perayaan Imlek dan Cap Co Meh (15 hari setelah Imlek), kecuali pada masa pemerintahan Orde Baru (1965-1998).

Mengenai asal usul kesenian ini, terdapat pendapat yang berbeda-beda. Menurut Paramita Abdurrachman, dalam bahasa Portugis ada kata tanger yang berarti “memainkan alat musik”. Seorang tangedor hakikatnya seorang yang memainkan alat musik berdawai di dalam ruangan. Masyarakat Betawi menganggap tanji adalah musik, lalu ditambah dor, yang mungkin berasal dari suara memukul drum.

Ernst Heinz, seorang Musikolog Belanda berpendapat bahwa musik rakyat daerah pinggiran itu berasal dari budak belian yang ditugaskan main musik untuk majikannya. Mula-mula pemain musik terdiri atas budak dan serdadu. Sesudah perbudakan dihapuskan, mereka digantikan pemusik bayaran. Pada mulanya mereka memainkan lagu-lagu Eropa karena harus mengiringi pesta dansa, polka, mars, lancier, dan lagu-lagu parade. Lambat laun mereka juga mulai memainkan lagu-lagu dan irama khas Betawi.

Ahli sejarah Batavia lama, Dr. F. de Haan berpendapat bahwa pemusik keliling ini berasal dari orkes-orkes budak zaman Kompeni. Dalam Priangan, de Haan menunjukkan catatan tentang Cornelia de Bevers yang mempunyai 59 orang budak belian dalam tahun 1689. Pada waktu makan, pasangan suami isteri itu didampingi lima sampai enam budak pelayan meja, ditambah tiga orang budak laki-laki yang masing-masing bertugas memainkan bas, biola, dan harpa sebagai musik pengiring makan.

Valentijn juga menyebutkan tentang konser-konser yang dimainkan oleh budak. Umumnya mereka memakai instrumen berdawai. Orkes-orkes itu makin lengkap ketika para pemain diberi tambahan alat tiup, nekara, tambur Turki, dan triangle, seperti halnya orkes milik Gubernur Jenderal Valckenier (1737) yang berkekuatan 15 orang. Andreas Cleyer seorang pejabat tinggi Kompeni, mengatakan “mempunyai kelompok musik lengkap di rumahnya, melulu dari budak-budak yang ahli memainkan segala alat musik. .. “.

Dari para budak, tanjidor berkembang terus. Kini tanjidor banyak dipakai untuk hiburan dan menyambut tamu agung di Jakarta. Untuk menyambut Imlek, tanjidor tetap lestari, meskipun hanya berupa kegiatan mengamen musiman. (Djulianto Susantio)

Iklan

Responses

  1. Terima kasih pak,sejarahnya lengkap dan pas. Nice Info ya pak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori