Oleh: hurahura | 14 Juli 2011

Boechari, Berburu Batu Dapat Doktor

Boechari

Tabloid Mutiara, No. 404 Agustus 1987 – Di telinga orang awam memang nama Boechari belum begitu menonjol. Tapi di kalangan pakar, khususnya sejarawan dan arkeolog, nama Boechari sudah lekat dengan epigrafi atau ilmu tentang prasasti. Keahliannya membaca aksara-aksara kuno tidak perlu diragukan lagi. Bahkan kelebihannya yang tergolong langka itu, sudah mencapai dunia internasional.

Dengan mengalihaksarakan huruf-huruf kuno tersebut, Boechari bisa menafsirkan isi prasasti. Tentu saja pekerjaan tadi tidak dilakukan begitu cepat. Terlebih dulu Boechari harus memeras otak, misalnya memperbandingkan prasasti yang satu dengan prasasti lain dan membaca tafsiran-tafsiran para pakar sebelumnya. Salah satu hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun itu kemudian dituangkan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II. ”Sekitar 200 halaman dari buku babon itu merupakan karya saya,” tutur Boechari.

Di kalangan arkeolog, Boechari terkenal profil yang unik. Ini karena Boechari memperoleh gelar doktor tanpa harus menulis disertasi sebagaimana kebiasaan dalam dunia pendidikan tinggi. Disertasi Boechari itu merupakan kumpulan artikel terpilih tentang epigrafi yang pernah dimuat dalam sejumlah penerbitan ilmiah. Rata-rata satu artikel panjangnya 40 halaman. Artikel-artikel tersebut dipilih oleh sebuah tim yang terdiri atas Prof. Haryati Soebadio, Prof. Koentjaraningrat, Prof. Harsya W. Bachtiar, dan Dr. Nurhadi Magetsari. Koentjaraningrat adalah bekas gurunya di SMA, sedangkan ketiga nama lain adalah koleganya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Ilustrasi: Huruf Jawa (Foto:internet)

Untuk sementara disertasi Boechari itu diberi topik Sejarah Kuna Indonesia, Raja dan Kekuasaan dalam Masyarakat Jawa Kuna periode abad IX dan X. Kerangka karangannya juga masih bersifat sementara. Berturut-turut Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Raja dalam Masyarakat Jawa Kuna, Bab 3 Hak Waris atas Takhta Kerajaan, Bab 4 Beberapa Segi Hukum dalam Masyarakat Jawa Kuna, Bab 5 Struktur, dan Bab 6 Penutup.

Saat ini Boechari tinggal menyelesaikan bab pendahuluan. Menghadapi bab yang satu ini, Boechari memang agak kewalahan. Sebelum berangkat ke negeri orang, Koentjaraningrat menugasinya untuk membaca suatu buku antropologi. Apa hendak dikata, buku yang sangat vital itu tidak juga dijumpainya, meskipun ia telah mencarinya ke sana ke mari. Surat-surat pun segera dilayangkan ke beberapa temannya di luar negeri, antara lain ke Boston dan Leiden. Namun jawaban yang diterima Boechari sangat mengecewakan. Literatur yang dimaksud itu tidak ada dalam koleksi toko-toko buku. Padahal, ujar staf pengajar Jurusan Arkeologi FSUI yang juga menjabat Kepala Lembaga Arkeologi itu, mereka sudah mengecek dengan komputer canggih.

ebetulnya sejak 1964 Boechari berniat membuat disertasi. Ketika itu L. Ch. Damais diangkat menjadi guru besar di Prancis. Damais yang memang seorang ahli epigrafi mendorong Boechari agar mengambil gelar doktor. Ia sendiri akan bertindak sebagai promotor.

Hanya masalahnya Damais meminta bahan-bahan tentang Rakai Kayuwangi. Itulah keberatan Boechari. Tak lama setelah itu Damais meninggal dunia. Tertundalah niat Boechari untuk meraih gelar akademis tertinggi itu.

Selanjutnya Boechari beralih kepada J.G. de Casparis, ahli epigrafi berkebangsaan Belanda yang memang pernah menjadi dosennya. Dengan Casparis pun terjadi perbedaan pendapat yang mendasar. Boechari, misalnya, menyebutkan istilah watak, yaitu suatu daerah yang berada di bawah kekuasaan rakai. “Perbedaan kami dalam struktur birokrasi,” katanya. Akhirnya Boechari mengundurkan diri, meskipun bila datang ke Indonesia, Casparis selalu mencari-carinya. Setelah itu tidak ada promotor yang mampu, sehingga Boechari menjadikan hasil penelitiannya itu sebagai artikel lepas di berbagai penerbitan ilmiah.

Prasasti Gondosuli (Foto: Facebook.com)

Perjalanan Boechari untuk meraih gelar doktor memang penuh liku-liku. Hal ini, menurut sesama koleganya di Jurusan Arkeologi UI, disebabkan oleh ulah Boechari sendiri. Boechari dikenal sebagai orang yang perfeksionis. Ia tidak pernah puas terhadap hasil penelitian yang telah dilakukannya. Sebagai contoh mereka menyebutkan bila ada berita penemuan prasasti, Boechari berusaha keras memburunya. Lalu bila ada data baru, Boechari selalu memasukkannya ke dalam bakal disertasinya itu.

Mungkin ketertundaan disertasi Boechari hanya sampai di sini. Kalau tidak ada halangan, tahun ini juga Boechari boleh memakai gelar doktor di depan namanya. Berarti ia merupakan doktor ketujuh setelah Soekmono, R.P. Soejono, Nurhadi Magetsari, Hasan M. Ambary, Edi Sedyawati, dan Hariani Santiko yang dihasilkan Jurusan Arkeologi UI.

Boechari sendiri merasa malu bila harus menyandang gelar tersebut. ”Saya sudah tua 60 tahun. Lima tahun lagi saya pensiun,” tandasnya sambil tertawa terkekeh-kekeh, salah satu ciri khasnya. Dengan gelar doktor maka kemungkinan Boechari mendapat sebutan guru besar atau profesor terbuka lebar.

Menurut Boechari sebenarnya kalau mau sejak 1974 ia sudah bisa dipanggil profesor. Dilihat dari pangkat dan golongan, semuanya sudah memenuhi syarat. Tetapi ia menolak secara halus. Ia terlebih dulu ingin memperoleh gelar doktor. Sebab kalau seseorang sudah diangkat sebagai guru besar, maka tidak boleh mengambil gelar doktor lagi. Kecuali dalam bidang lain, artinya di luar bidang arkeologi.

oechari dilahirkan di Rembang pada 24 Maret 1927. Pada masa kanak-kanak cita-citanya masih belum tampak. Si kecil selalu teringat bapaknya yang cuma pensiunan guru. Pikirnya mau bersekolah apa dengan uang pensiunan yang sedikit itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti jejak ayahnya. Masuklah ia ke Kweekschool (Sekolah Guru) tanpa harus melalui seleksi. ”Sebab angka rapor saya baik,” ujarnya. Di sekolah dibayangkannya gaji guru yang lumayan untuk ukuran masa itu. ”Kalau tidak salah 75 gulden,” Boechari mengungkapkan.

Di sekolah itu seorang guru sejarah Indonesia bernama Hadiwiyono menyinggung-nyinggung nama Purbatjaraka yang ahli membaca prasasti dan juga ahli bahasa Jawa kuno. Lantas pada suatu saat sekolah mengadakan perjalanan ke Candi Ratu Baka. Dari situ mulailah Boechari tertarik pada arkeologi, khususnya sejarah kuno dan prasasti.

Dari sekolah guru Boechari mengikuti lagi tes masuk SMA. Berkat otak encer, ia diterima di SMA bagian A dan bagian B. Tetapi ia berpikir, kalau masuk SMA bagian B mau jadi apa. Maunya sih jadi dokter. Dipikir-pikir lagi, untuk sekolah dokter biayanya terlampau tinggi. Lagi pula SMA bagian B itu terletak di Solo. ”Nanti saya ikut siapa,” pikirnya dalam-dalam ketika itu.

Akhirnya ia menetapkan hatinya untuk masuk SMA bagian A di Yogyakarta. Di sekolah itu antara lain diajarkan bahasa Sansekerta dan Jawa kuno. Kembali Boechari bertemu dengan Hadiwiyono yang kali ini mengajarkan bahasa Jawa kuno. Juga Sutjipto Wirjosuparto pengajar Sejarah Indonesia. Kedua orang ini sangat senang pada Boechari.

etelah lulus SMA Boechari didatangi Hadiwiyono. ”Nanti kamu harus meneruskan pelajaran bahasa Jawa kuno, sebab kamu bisa membuat kalimat,” nasehat Hadiwiyono seperti yang ditirukan Boechari. Sebaliknya Sutjipto Wirjosuparto menuntut agar Boechari belajar sejarah.

Untuk sementara Boechari bingung. Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti anjuran Sutjipto Wirjosuparto. Berhubung di Universitas Gadjah Muda tidak ada jurusan sejarah, Boechari terpaksa hijrah ke Jakarta. ”Waktu itu tahun 1950,” ucap Boechari.

Baru setahun mengikuti kuliah di jurusan sejarah, tiba-tiba Prof. Resink mengeluarkan pengumuman yang menyatakan bahwa guru besar yang dijanjikan dari Negeri Belanda tidak jadi datang. Kemudian Resink menganjurkan mahasiswa yang ingin pindah jurusan, silakan pindah. ”Saya dan Pak Jono (R.P. Soejono, pen.) bingung. Mau apa kita sekarang,” kenang Boechari. Ditambahkannya, waktu itu yang mengajarkan sejarah Eropa masih kolonial sehingga Pak Jono yang bekas Tentara Pelajar menjadi berang. ”Kurang ajar Belanda itu, mau ditempeleng kali,” tutur Boechari menirukan ucapan Jono dulu. Penyebab kejengkelan Jono, menurut Boechari, dosen Belanda itu terlalu menjelek-jelekkan Republik. ”Maka kami memutuskan untuk pindah ke jurusan arkeologi sebab menurut Jono, Bernet Kempers kelihatannya dosen yang baik,” tutur Boechari lagi.

Setelah masuk, Kempers lantas memanggil Boechari. Dosen itu bertanya, ”Saudara kuliah sambil bekerja atau bagaimana sehingga mendapat uang?” Mendapat pertanyaan demikian Boechari langsung menjawab, ”Saya mengajar di SMA”. Selanjutnya Kempers menawari Boechari untuk bekerja sambil belajar di kantor Dinas Purbakala yang terletak di Jalan Kimia. Boechari pun segera menyiapkan surat-surat yang diperlukan. Seminggu kemudian keluarlah surat keputusan pengangkatannya.

Suatu ketika setelah ujian dan kembali ke kantor, Boechari dimarahi oleh Kempers. Soalnya angka yang diperoleh darinya untuk mata kuliah Sejarah Kebudayaan India tergolong jelek, sekitar enam untuk penilaian sekarang. Sebaliknya untuk mata kuliah Islam dan ilmu bahasa, Boechari mendapat delapan dan tujuh.

Secara baik-baik sang dosen bertanya mengapa nilai Sejarah Kebudayaan Indianya jelek. Boechari pun memberanikan diri berkilah, ”Begini Prof, Prof kalau tanya seolah-olah mau ragu apakah saya mengerti atau tidak. Lalu Prof ulangi lagi sehingga saya menjadi bingung apa yang Prof maksudkan”.

”Dia mau marah. Kalau begitu kamu mau pilih apa,” sambungnya. Saya jawab, ”Epigrafi, eh dia malah bengong”. Dia panggil Casparis. Hans ke sini, ini anak buat kamu. “Nah dengan demikian saya sekaligus telah mengikuti kemauan dua bekas guru saya di SMA, yaitu mempelajari sejarah yang sebagian terbesar sumbernya berbahasa Jawa kuno,” cerita Boechari.

agaimana pertama kali belajar epigrafi? Menurut Boechari pertama kali Casparis bukannya terlebih dulu mengajarkan, tetapi langsung memberikan sebuah foto prasasti. “Coba Saudara baca,” pinta Casparis. “Tentu saja saya bingung. Mampus deh, baru datang disuruh baca. Wah bagaimana caranya ini,” pikir Boechari.

Dengan berbekal sedikit pengetahuan bahasa Jawa kuno dari SMA, Boechari memutar otak. “Saya ingat biasanya di bagian belakang setiap foto ada keterangan tentang nama dan asal prasasti. Lalu saya cari siapa yang telah menerbitkan prasasti tersebut. Setelah ketemu saya cocokkan pembacaannya dengan abjad yang saya buat sendiri,” kata Boechari. Keesokan harinya Casparis bertanya tentang pekerjaan yang beliau berikan. Saya jawab sudah selesai sambil menyerahkan hasilnya. Casparis manggut-manggut tanda kagum. Cuma ada beberapa kesalahan bentuk huruf yang segera dibetulkan Casparis.

Selain Casparis, Boechari mengaku tidak mempunyai guru epigrafi lain. Bahkan belajar ilmu itu tidak di bangku kuliah. Sebab memang mata kuliah epigrafi tidak ada. Ia belajar epigrafi sambil bekerja di Dinas Purbakala.

Ada dua bekal yang harus dipenuhi untuk belajar epigrafi, yakni arkeologi dan linguistik. Bekal lain adalah ketekunan dan ketelitian. Maka jangan heran jumlah epigraf kita masih mudah dihitung dengan jari tangan.

Bagaimana cara terbaik mempelajari epigrafi? Boechari mengatakan pertama-tama kita harus mempelajari bahasa yang digunakan dalam prasasti. Di Indonesia yang terbanyak digunakan adalah bahasa Jawa kuno. ”Maka belajarlah bahasa Jawa kuno sebaik-baiknya,” demikian nasehatnya. Sesudah itu karena prasasti merupakan sumber sejarah langsung, kita harus belajar teori ilmu sejarah. Lainnya, kita perlu mempelajari ilmu-ilmu bantu sejarah, seperti sosiologi, ekonomi, dan hukum. Hal ini untuk menunjang penelitian sejarah kuno. [Djulianto Susantio, sudah melalui penyuntingan]

Artikel Terkait:
Boechari, Pakar Epigrafi

Iklan

Responses

  1. Hormat untuk pak boechari


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: