Oleh: hurahura | 26 Februari 2012

Bioskop Pertama Keliling Kampung

Warta Kota – Salah satu hiburan yang dibawa orang Eropa ke Batavia adalah bioskop atau film bisu. Sebagian masyarakat menyebutnya gambar idoep. Film masuk ke Batavia pada 1900, semula hanya merupakan rasa kebanggaan orang kulit putih.

Pengusaha bioskop pertama di Batavia adalah seorang Belanda, Talbot. Bioskop yang dia desain menyerupai bangsal berdinding gedek dan beratap seng. Talbot biasa mangkal di Lapangan Gambir (Monas). Setelah pertunjukan selesai, bioskop itu dibawa keliling kampung.

Usaha yang sama kemudian diikuti oleh seorang Belanda lainnya, Schwarz. Bioskopnya pun berkeliling dari tempat orang belajar menunggang kuda, di dekat Museum Nasional sekarang. Selanjutnya dia mengadu nasib ke Tanah Abang. Bioskop Schwarz berakhir tragis karena terbakar ketika menempati sebuah gedung di Pasar Baru.

Berikutnya muncul de Callone. Dia mengusahakan bioskop di Deca Park, di sekitar Gambir. Bioskop de Callone mula-mula berupa bioskop terbuka di lapangan yang disebut ‘misbar’ (gerimis bubar). De Callone kemudian menempati gedung di sekitar Pintu Air dengan nama Capitol. Beberapa tahun berselang, pengusaha China mendirikan bioskop Elite (1903), tidak jauh dari Capitol. Elite dan Capitol ditujukan untuk penonton kelas atas, seperti orang Belanda, para bupati, dan anggota Volksraad bangsa Indonesia. Deca Park untuk penonton kelas menengah. Untuk penonton kalangan menengah ke bawah didirikan Rialto Senen dan Rialto Tanah Abang. Sekadar gambaran, harga karcis Capitol zaman itu adalah satu setengah gulden tanpa kelas. Pada 1936 di Batavia tercatat ada 13 bioskop (Jakarta Tempo Doeloe, 1989).

Pada era itu kepemilikan bioskop didominasi oleh pengusaha Tionghoa. Sebelumnya usaha bioskop dijalankan oleh pengusaha Belanda. Dengan memiliki usaha bioskop, para pengusaha Tionghoa berharap dapat menjamu para pejabat Belanda. Mereka sering kali mengirimkan undangan untuk menonton bioskop. Undangan tersebut dibuat indah. Para pejabat yang diundang juga diberi hadiah makanan dan minuman.

Sepanjang 1920-1930, film-film yang masuk ke Hindia Belanda berasal dari Amerika (Hollywood), Eropa (Belanda, Perancis, Jerman), dan China (Legenda Tiongkok Asli). Sekitar 1925, film terbaru keluaran Hollywood bahkan sudah diputar di bioskop-bioskop Hindia Belanda, lebih cepat daripada bioskop di Belanda.

Pada periode 1937-1942, film yang beredar di Hindia Belanda umumnya diproduksi oleh pengusaha keturunan China. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), setiap bioskop di Hindia Belanda diwajibkan menayangkan slide dan memutar film-film pendek berisi bahan penerangan dan propaganda Pemerintah Pendudukan Jepang. Bahkan untuk menarik perhatian kalangan Muslim, pemerintah Jepang melarang bioskop beroperasi pada waktu magrib. Bioskop yang semula diperuntukkan bagi warga kulit putih, sekarang terbuka untuk umum (pribumi).

Pada masa pendudukan Jepang di Nusantara, jumlah bioskop d Batavia menurun tajam. Tercatat antara lain Rex di Kramat Bunder, Cinema (sekarang Krekot) di Krekot, Astoria (Satria) di Pintu Air, dan Centraal (Djaja lalu New Jaya) di Jatinegara. Penyebab utamanya adalah harga tiket terlalu mahal buat orang kebanyakan. Ketika itu setara dengan harga satu kilogram beras jatah pemerintah (10 sen). Film yang diputar pun hanya berisi propaganda, tidak ada unsur hiburannya. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: